Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.555.000
Beli Rp2.430.000
IHSG 6.175,535
LQ45 621,910
Srikehati 307,227
JII 366,948
USD/IDR 17.939

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

M Nurhadi

Minggu, 24 Mei 2026 | 15:05 WIB
IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi
Ilustrasi IHSG [Suara.com]
baca 10 detik
  • IHSG melemah ke level 6.370 pada 19 Mei 2026, mencatatkan koreksi tahun berjalan sebesar 23,68 persen.
  • Penurunan dipicu aksi jual asing pasca penghapusan enam saham big cap dari indeks MSCI dan FTSE.
  • Krisis diperparah oleh rekor pelemahan nilai tukar Rupiah, ketidakpastian politik, serta spekulasi kenaikan suku bunga acuan.

Suara.com - Tanpa adanya hantaman badai kesehatan global seperti pandemi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatatkan koreksi yang sangat dalam, membangkitkan kembali memori kelam kepanikan pasar pada era awal COVID-19 tahun 2020 silam.

Rapor merah ini tercermin jelas pada penutupan perdagangan Jumat (22/5/2026), di mana IHSG ditutup terkoreksi 8,35 persen atau turun 561,28 poin hingga ditutup di level 6.162,05.

Bahkan, IHSG sempat menyentuh level 5.900 sebelum akhirnya berbalik menguat dan bertahan di atas 6.000 hingga penutupan pasar.

Meski tertekan selama 7 hari ke belakang, perdagangan Jumat (22/5/2026) ditutup lebih baik dengan penguatan 67,10 poin atau 1,10 persen ke posisi 6.162,04. Total 449 saham ditutup menguat, 251 saham melemah, dan 118 saham stagnan.

Meski ada kabar baik, bulan Mei 2026 menjadi periode terberat bagi investor pasar modal dalam kurun waktu satu dekade terakhir.

Secara historis, fenomena penurunan performa bursa di pertengahan tahun memang bukan hal baru. Berdasarkan data empiris pergerakan IHSG sepanjang dua dekade (2001–2021), rata-rata imbal hasil (return) indeks pada rentang Mei hingga Oktober rata-rata hanya berada di angka 2,42 persen.

Angka tersebut terpaut sangat jauh jika dibandingkan dengan periode emas November hingga April yang mampu mencatatkan rata-rata pertumbuhan hingga 15,40 persen. 

Namun, siklus historis tersebut tidak selalu bersifat mutlak. Dari 20 periode tahunan yang diamati, tercatat hanya 12 kali periode November-April berhasil mengungguli periode Mei-Oktober.  Sementara pada delapan sisa periode lainnya, justru memberikan keuntungan yang lebih optimal bagi investor.

Namun, apa yang terjadi pada Mei 2026 ini sejatinya berada di luar konteks penurunan likuiditas musiman akibat masa liburan satgas investasi. Pasar modal Indonesia saat ini sedang dihantam oleh kombinasi empat tekanan struktural berskala besar yang datang secara simultan dalam kurun waktu tiga pekan saja.

baca juga

Faktor pertama dipicu oleh aksi perombakan portofolio global alias rebalancing indeks MSCI. Pada 12 Mei 2026, MSCI secara resmi mendepak enam saham berkapitalisasi pasar raksasa (big cap) asal Indonesia dari daftar MSCI Global Standard Index.

Keenam emiten tersebut adalah DSSA, BREN, AMMN, AMRT, CUAN, dan TPIA. Kebijakan ini otomatis memaksa ribuan manajer investasi dunia yang mengelola dana pasif dan Exchange-Traded Fund (ETF) global untuk segera melakukan aksi jual massal sebelum tanggal efektif 29 Mei.

Langkah keluar ini memicu gelombang penjualan bersih (net sell) investor asing yang masif, di mana akumulasinya sejak awal tahun telah menembus Rp50,63 triliun.

Pukulan kedua datang dari lembaga indeks global lainnya, yakni FTSE Russell. Secara bersamaan, FTSE turut mengeluarkan beberapa saham emiten tanah air dari daftar indeks mereka.

Kehilangan tempat di dua lembaga indeks global terkemuka sekaligus dalam satu momentum yang sama merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi dalam sejarah pasar modal domestik.

Faktor ketiga adalah kondisi nilai tukar Rupiah yang terus mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah (all-time low). Mata uang Garuda ditutup melemah di posisi Rp17.668 per dolar AS.

Gejolak depresiasi yang tajam ini memicu spekulasi kuat di kalangan pelaku pasar bahwa Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG).

Sentimen ini menjadi awan hitam bagi sektor perbankan dan properti, dua sektor dengan bobot kapitalisasi terbesar yang menjadi motor penggerak IHSG.

Pukulan terakhir berasal dari sentimen negatif pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah yang makin tidak pasti di tengah perang AS-Iran yang tak kunjung mereda. Ketidakpastian politik pemerintah ini membuat pasar waspada terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Keputusan RI yang membentuk jalan ekspor (komoditas batu bara, CPO, dan logam) satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia direspon negatif oleh investor karena kekhawatiran munculnya distorsi pasar, risiko monopoli, dan potensi inefisiensi operasional yang dapat membebani pelaku usaha.

Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]
Pekerja berjalan di dekat layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]

Komparasi Krusial: Mei COVID-19 Vs Mei 2026

Untuk melihat seberapa parah kondisi saat ini, publik perlu membandingkannya dengan fase-fase krisis terdahulu. Pada Mei 2020, pasar saham sempat porak-poranda setelah kasus positif COVID-19 pertama diumumkan pemerintah pada Maret 2020, yang saat itu langsung mengempaskan indeks sebesar 1,67 persen ke level 5.361 dalam sehari.

Bahkan pada perdagangan 9 Maret 2020, indeks sempat terjun bebas hingga 6,5 persen ke level 5.136, yang memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan kebijakan pembekuan perdagangan sementara (trading halt).

Namun, meski situasi Maret hingga Mei 2020 sangat mencekam akibat pandemi, akar masalahnya terlihat jelas dan solusinya dapat diukur melalui akselerasi program vaksinasi serta stimulus fiskal dari pemerintah.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan Mei 2024 yang juga sempat dicap sebagai salah satu bulan terburuk akibat koreksi bulanan 3,64 persen, pemicunya saat itu sangat terlokalisasi. Penurunan indeks kala itu hanya disebabkan oleh satu saham, yakni BREN, yang mengalami penguncian batas bawah (Auto Rejection Bawah/ARB) selama tiga hari berturut-turut di tengah aksi net sell asing sebesar Rp14,87 triliun.

Kondisi Mei 2026 berada dalam kategori krisis yang sama sekali berbeda. Kejatuhan indeks sebesar 13,10 persen dalam sebulan diiringi oleh tumbangnya enam saham big cap ke zona ARB secara bersamaan, tekanan net sell asing yang menyentuh Rp50,63 triliun, rekor terburuk nilai tukar Rupiah, serta ancaman kenaikan suku bunga.

Tekanan beruntun ini terus berlanjut hingga akhir pekan. Pada akhir perdagangan pekan ini, Jumat (22/5/2026) pagi, data RTI Business mencatat indeks kembali melemah 20,30 poin atau drop 0,33 persen ke posisi 6.074.

Dari keseluruhan saham yang bergerak, sebanyak 362 saham terpuruk di zona merah, 145 saham bergerak stagnan, dan hanya 221 saham yang mampu bertahan menguat. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

4 Saham RI Kembali Terlempar dari Indeks Global FTSE Russell, Ini Penyebabnya

4 Saham RI Kembali Terlempar dari Indeks Global FTSE Russell, Ini Penyebabnya

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:55 WIB

IHSG Ambles 8,35% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 1.190 Triliun

IHSG Ambles 8,35% Sepekan, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 1.190 Triliun

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:11 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Purbaya Janji Bakal Awasi Badan Ekspor PT DSI, Ancam Pecat Jika Pegawai Mendadak Kaya

Purbaya Janji Bakal Awasi Badan Ekspor PT DSI, Ancam Pecat Jika Pegawai Mendadak Kaya

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 09:00 WIB

Purbaya Akui Badan Ekspor DSI Dibentuk Gegara Banyak Kebocoran di Bea Cukai

Purbaya Akui Badan Ekspor DSI Dibentuk Gegara Banyak Kebocoran di Bea Cukai

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 08:30 WIB

IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi

IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi

Bisnis | Sabtu, 23 Mei 2026 | 16:27 WIB

Terkini

Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?

Fenomena HopeTok di Era Digital: Kenapa Konten Positif Semakin Dicari GenZ?

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:30 WIB

Iran: Perang Berakhir Jika Menang Lawan Amerika Serikat atau Lewat Negosiasi

Iran: Perang Berakhir Jika Menang Lawan Amerika Serikat atau Lewat Negosiasi

News | Senin, 20 Juli 2026 | 12:24 WIB

Pelantikan Jampidsus Baru Tinggal Menghitung Hari

Pelantikan Jampidsus Baru Tinggal Menghitung Hari

News | Senin, 20 Juli 2026 | 12:18 WIB

Bantah Klaim Hotman Paris, Mensesneg Tegaskan Pemeriksaan Pejabat Tak Butuh Izin Presiden

Bantah Klaim Hotman Paris, Mensesneg Tegaskan Pemeriksaan Pejabat Tak Butuh Izin Presiden

News | Senin, 20 Juli 2026 | 12:18 WIB

Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?

Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:16 WIB

Reborn Rookie: Kisah Konglomerat yang Terlahir Kembali sebagai Karyawan Baru

Reborn Rookie: Kisah Konglomerat yang Terlahir Kembali sebagai Karyawan Baru

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:15 WIB

Berapa Hadiah Pemenang Piala Dunia 2026? Segini Uang yang Dibawa Pulang Spanyol

Berapa Hadiah Pemenang Piala Dunia 2026? Segini Uang yang Dibawa Pulang Spanyol

Bola | Senin, 20 Juli 2026 | 12:15 WIB

Tragedi Maut di Kuningan: Pria Tewas Terjun dari Lantai 46, Isu Kerabat Pengacara Kondang Diselidiki

Tragedi Maut di Kuningan: Pria Tewas Terjun dari Lantai 46, Isu Kerabat Pengacara Kondang Diselidiki

News | Senin, 20 Juli 2026 | 12:14 WIB

Tiga WNA Asal India Dideportasi, Ini Perkaranya

Tiga WNA Asal India Dideportasi, Ini Perkaranya

Sumut | Senin, 20 Juli 2026 | 12:13 WIB

Kopi Kiwa: Menyesap Sensasi Kopi Premium di Pinggir Jalan GOR Kota Jambi

Kopi Kiwa: Menyesap Sensasi Kopi Premium di Pinggir Jalan GOR Kota Jambi

Your Say | Senin, 20 Juli 2026 | 12:05 WIB

×