Rupiah Melemah Terus-menerus Akibat Kebijakan Pemerintah

Liberty Jemadu

Kamis, 28 Mei 2026 | 17:44 WIB
Rupiah Melemah Terus-menerus Akibat Kebijakan Pemerintah
Ekonom Fakhrul Fulvian menyatakan rupiah melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS akibat kebijakan domestik, selain karena tekanan global. [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Ekonom Fakhrul Fulvian menyatakan rupiah melemah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS akibat kebijakan domestik, selain karena tekanan global.
  • Ketidaksinkronan kebijakan fiskal pemerintah dan moneter Bank Indonesia memicu ketidakpastian serta kredibilitas di mata para pelaku pasar.
  • Keputusan mempertahankan subsidi BBM demi stabilitas sosial membuat nilai tukar rupiah menanggung beban ekonomi secara jauh lebih ekstrem.

Suara.com - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan rupiah kini menanggung tekanan akibat kebijakan pemerintah yang tidak sinkron dengan Bank Indonesia, selain akibat konflik di Timur Tengah.

Nilai tukar rupiah di pasar offshore atau luar negeri kini mendekati Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini menjadikan rupiah sebatai salah satu mata uang dengan penurunan nilai paling buruk di antara negara berkembang bahkan di kawasan Asia.

Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5/2026) mengatakan fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif baik dibanding banyak negara berkembang lain.

Inflasi domestik masih terkendali, sektor perbankan relatif sehat dan pertumbuhan ekonomi masih positif. Namun, Fakhrul mengingatkan bahwa pasar saat ini tidak hanya melihat angka headline.

“Pasar melihat apakah Indonesia punya policy anchor yang cukup kuat untuk menghadapi era global baru yang jauh lebih volatile dan inflationary,” ujar dia.

Lebih lanjut, jelas Fakhrul, yang tengah diuji saat ini bukan hanya fundamental ekonomi, tetapi kredibilitas dan konsistensi kebijakan.

Ia mengamini bahwa faktor global turut menekan rupiah, mulai dari geopolitik dan fragmentasi perdagangan dunia, penguatan dolar AS, hingga tingginya imbal hasil (yield) US Treasury.

Akan tetapi, menurutnya, faktor domestik juga berperan karena pasar melihat adanya ketidakseimbangan antara kebijakan fiskal dan moneter. Ia juga menilai, sejumlah komunikasi kebijakan yang muncul mendadak di tengah sentimen pasar yang buruk turut memperbesar ketidakpastian.

“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan adjustment harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” kata Fakhrul.

baca juga

Ia juga menguraikan bahwa dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global akan menekan inflasi, fiskal, harga domestik, dan nilai tukar.

Namun, ketika penyesuaian domestik dilakukan sangat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial dan daya beli, maka tekanan akhirnya lebih banyak berpindah ke rupiah.  Penyesuaian itu antara lain dengan tetap mempertahankan subsidi BBM saat harganya minyak dunia naik dan nilai rupiah menurun terhadap dolar AS - mata uang yang digunakan untuk mengimpor minyak.

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” jelas Fakhrul.

Menurutnya, hal tersebut yang membuat pelemahan rupiah saat ini tampak jauh lebih besar dibandingkan beberapa indikator ekonomi lainnya.

Ia menambahkan bahwa kondisi saat ini relevan dengan teori Dornbusch Overshooting. Ketika harga domestik rigid sementara pasar keuangan bergerak cepat, maka nilai tukar akan bergerak jauh lebih ekstrem dibanding fundamentalnya.

“Inflasi yang seharusnya muncul di banyak tempat akhirnya terlalu banyak ditanggung oleh rupiah,” ujar dia.

Dia mengatakan, fenomena ini sering terjadi di negara berkembang yang memilih menjaga stabilitas harga domestik dalam jangka pendek.

Pemerintah Indonesia saat ini menghadapi dilema besar antara menjaga daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas eksternal.

Fakhrul menilai, keputusan untuk menahan penyesuaian harga energi dapat dipahami dari sisi sosial dan politik. Namun konsekuensinya, tekanan ekonomi menjadi lebih terkonsentrasi di pasar keuangan.

“Kalau harga domestik dibuat rigid sementara tekanan global terus naik, maka pasar valuta asing akhirnya yang bergerak paling ekstrem,” ia memperingatkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Investor Jepang: Indonesia Hadapi Kemandekan Ekonomi yang Berbahaya

Investor Jepang: Indonesia Hadapi Kemandekan Ekonomi yang Berbahaya

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 15:14 WIB

Rupiah Anjlok ke Rp17.870 Hari Ini, Cek Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI

Rupiah Anjlok ke Rp17.870 Hari Ini, Cek Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:37 WIB

Dolar AS Ngamuk, Rupiah Ambruk ke Level Rp17.900

Dolar AS Ngamuk, Rupiah Ambruk ke Level Rp17.900

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:03 WIB

Simak Harga Kurs Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA, Ada yang Jual Rp17.950

Simak Harga Kurs Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA, Ada yang Jual Rp17.950

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:59 WIB

Terkini

Duka di Cikarang Utara: Ayah dan Anak Tewas Usai Ledakan Tabung Gas Hanguskan Rumah

Duka di Cikarang Utara: Ayah dan Anak Tewas Usai Ledakan Tabung Gas Hanguskan Rumah

Jabar | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:36 WIB

Sapu Bersih 40 Suara! Emil Dardak Kembali Pimpin Demokrat Jatim Secara Aklamasi

Sapu Bersih 40 Suara! Emil Dardak Kembali Pimpin Demokrat Jatim Secara Aklamasi

News | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:30 WIB

Tembus Rp189 Miliar! Data PPATK Bongkar Transaksi Judi Daring Warga dan ASN di Lebak

Tembus Rp189 Miliar! Data PPATK Bongkar Transaksi Judi Daring Warga dan ASN di Lebak

Banten | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:23 WIB

Maba UII Langsung Juara Campus League, Alfira Deanika Tundukkan Unggulan UNESA

Maba UII Langsung Juara Campus League, Alfira Deanika Tundukkan Unggulan UNESA

Jawa Tengah | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:15 WIB

Menyambangi Tebuireng, Tradisi Ziarah dan Suka Cita Warga NU Jelang Muktamar Ke-35

Menyambangi Tebuireng, Tradisi Ziarah dan Suka Cita Warga NU Jelang Muktamar Ke-35

Jatim | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:13 WIB

Momentum HAPERNAS 2026, Perumnas Serahterimakan Hunian kepada Lebih dari 530 Konsumen

Momentum HAPERNAS 2026, Perumnas Serahterimakan Hunian kepada Lebih dari 530 Konsumen

Jabar | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:06 WIB

Bila Mufakat Buntu, Sidang Pleno III Muktamar Ke-35 NU Sepakati Opsi Voting

Bila Mufakat Buntu, Sidang Pleno III Muktamar Ke-35 NU Sepakati Opsi Voting

Jatim | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:06 WIB

Bahtsul Masail di Muktamar NU Sepakat Kripto Boleh Ditransaksikan

Bahtsul Masail di Muktamar NU Sepakat Kripto Boleh Ditransaksikan

Bisnis | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:01 WIB

Batas Aman BPA Diperketat! BPOM Resmikan Aturan Baru Kemasan Galon Guna Ulang

Batas Aman BPA Diperketat! BPOM Resmikan Aturan Baru Kemasan Galon Guna Ulang

Banten | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 23:00 WIB

Pabrik Styrofoam di Cileungsi Ludes Terbakar, Percikan Las Hanguskan Bangunan Hingga 7 Mobil

Pabrik Styrofoam di Cileungsi Ludes Terbakar, Percikan Las Hanguskan Bangunan Hingga 7 Mobil

Bogor | Sabtu, 29 Agustus 2026 | 22:51 WIB

×