Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.599.000
Beli Rp2.485.000
IHSG 5.924,360
LQ45 589,254
Srikehati 291,550
JII 348,641
USD/IDR 18.064

Investor Jepang: Indonesia Hadapi Kemandekan Ekonomi yang Berbahaya

Liberty Jemadu

Kamis, 28 Mei 2026 | 15:14 WIB
Investor Jepang: Indonesia Hadapi Kemandekan Ekonomi yang Berbahaya
Investor Jepang memperingatkan Indonesia menghadapi risiko stagflasi akibat pelemahan rupiah dan penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah. [Antara]
baca 10 detik
  • Investor Jepang memperingatkan Indonesia menghadapi risiko stagflasi akibat pelemahan rupiah dan penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
  • Konflik di Timur Tengah menyebabkan kenaikan harga bahan baku impor yang memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
  • Kondisi ekonomi yang stagnan mengancam pertumbuhan industri nasional dan berisiko memicu pemutusan hubungan kerja secara massal di Indonesia.

Suara.com - Indonesia bersiap-siap menghadapi stagflasi atau kemandekan pertumbuhan ekonomi yang berbahaya, demikian disampaikan oleh seorang investor Jepang yang beroperasi di Tanah Air kepada media Nikkei Asia pada pekan ini.

Stagflasi adalah kondisi ketika inflasi meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerja tidak bertumbuh.

Di tengah kondisi perekonomian yang merayap, nilai tukar rupiah yang ambruk hingga ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya, daya beli masyarakat yang melemah dan inflasi yang semakin tinggi akibat konflik di Timur Tengah, peringatan dari para investor ini perlu didengar oleh pemerintah Prabowo Subianto.

Shoichi Hasegawa, Presiden Direktur KAO Indonesia, mengatakan Indonesia saat ini mengalami dua masalah utama yakni pelemahan nilai tukar rupiah dan turunnya kepercayaan publik.

"Yang menurut saya berbahaya saat ini adalah pelemahan permintaan yang mengarah ke deflasi. Pada dasarnya, jika konsumen hanya membeli barang murah, pertumbuhan ekonomi akan mandek kecuali volume bertambah," kata Hasegawa.

Sementara itu tekanan dari luar, yakni perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di Timur Tengah yang masih berlangsung juga masih akan terus mengganggu perekonomian Indonesia.

"Harga minyak saat ini sedikit turun, tapi masih butuh waktu lebih lama agar harga bahan baku juga ikut turun. Jadi kami harus beroperasi dengan asumsi bahwa tren ini akan bertahan hingga akhir tahun," terang Hasegawa, yang perusahaanya membawahi merek-merek seperti Biore, deterjen Attack, pembalut Laurier dan popok Merries.

Nilai tukar rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS pada pekan ini, titik paling rendah dalam sejarah Indonesia. Sementara itu kepercayaan investor terhadap pemerintah juga menurun akibat ketidakpastian kebijakan, reformasi pasar finansial yang belum jelas dan rendahnya kepastian hukum.

Bank Indonesia pekan lalu sudah menaikkan suku Bungan acuan hingga 50 basis poin untuk menjaga nilai tukar rupiah, meski efeknya belum banyak terasa.

baca juga

Kao Indonesia sudah mengumumkan kepada para distributor akan menaikkan harga produk-produknya menyusul naiknya harga bahan baku yang diimpor akibat melemahnya nilai tukar rupiah serta konflik di Timur Tengah.

Hasegawa mengatakan produk deterjen adalah yang paling terdampak karena menggunakan bahan baku nafta dan bahan turunan minyak bumi lainnya yang diimpor dari Timur Tengah.

"Kami memiliki banyak produk. Ada bahan baku yang masih bisa kami impor, tapi ada juga yang tidak. Ini membuat produksi melambat," terang dia.

Hal ini kata dia berdampak ke semua pedagang. Ada yang bahkan sudah mulai menimbun barang, sebelum kebijakan kenaikan harga berlaku.

"Bahkan pasar-pasar tradisional juga terdampak parah. Arus kas mereka sekarang sudah kering," kata Hasegawa.

Lebih lanjut Hasegawa mengungkapkan pihaknya sudah melihat polarisasi dalam pola konsumsi di Indonesia. Ini terlihat khusus di pasar kelas menengah, yang terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dolar AS Ngamuk, Rupiah Ambruk ke Level Rp17.900

Dolar AS Ngamuk, Rupiah Ambruk ke Level Rp17.900

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:03 WIB

Simak Harga Kurs Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA, Ada yang Jual Rp17.950

Simak Harga Kurs Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA, Ada yang Jual Rp17.950

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:59 WIB

Menkeu Purbaya Heran Rupiah Melemah Terus: Enggak Masuk Akal

Menkeu Purbaya Heran Rupiah Melemah Terus: Enggak Masuk Akal

Bisnis | Rabu, 27 Mei 2026 | 12:32 WIB

Mengapa Rupiah Melemah saat Mata Uang Lain Menguat? Investor Tak Percaya Pemerintah!

Mengapa Rupiah Melemah saat Mata Uang Lain Menguat? Investor Tak Percaya Pemerintah!

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 06:15 WIB

Ekonom: Rupiah Telah Melemah Lebih dari 5%

Ekonom: Rupiah Telah Melemah Lebih dari 5%

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 15:04 WIB

Terkini

Harga Emas Antam Anjlok, Rupiah Ikutan Koreksi Tajam: Apa Penyebabnya?

Harga Emas Antam Anjlok, Rupiah Ikutan Koreksi Tajam: Apa Penyebabnya?

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 12:19 WIB

Purbaya Ramal Defisit APBN 2026 Bengkak Jadi Rp 734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB

Purbaya Ramal Defisit APBN 2026 Bengkak Jadi Rp 734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 12:02 WIB

Meski Labanya Ribuan Persen, Saham GGRM Belum Layak Dibeli

Meski Labanya Ribuan Persen, Saham GGRM Belum Layak Dibeli

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:51 WIB

Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD

Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:25 WIB

Skandal KUR BNI, Kejati Ungkap Korupsi Rp41,48 Miliar Libatkan 900 Petani Fiktif

Skandal KUR BNI, Kejati Ungkap Korupsi Rp41,48 Miliar Libatkan 900 Petani Fiktif

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:10 WIB

Alasan PT KAI Rombak Stasiun Bogor Secara Besar-besaran

Alasan PT KAI Rombak Stasiun Bogor Secara Besar-besaran

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 10:40 WIB

Kementan Tambah Anggaran Pertanian Papua, Total Alokasi 2026 Capai Rp3,2 Triliun

Kementan Tambah Anggaran Pertanian Papua, Total Alokasi 2026 Capai Rp3,2 Triliun

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 10:35 WIB

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Catat Transaksi Lebih dari Rp8 Triliun, Dikunjungi 6 Juta Orang

Jakarta Fair Kemayoran 2026 Catat Transaksi Lebih dari Rp8 Triliun, Dikunjungi 6 Juta Orang

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 10:04 WIB

Rupiah Terus Anjlok, Dolar AS Naik ke Level Rp18.116

Rupiah Terus Anjlok, Dolar AS Naik ke Level Rp18.116

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 09:38 WIB

IHSG Mulai Menguat Lagi Pagi ini, Saham RANS Diburu Investor

IHSG Mulai Menguat Lagi Pagi ini, Saham RANS Diburu Investor

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 09:19 WIB

×