Pengamat: Pengusaha Jangan Baru Ribut Saat DSI Bereskan Tata Kelola Ekspor

Achmad Fauzi

Rabu, 03 Juni 2026 | 19:42 WIB
Pengamat: Pengusaha Jangan Baru Ribut Saat DSI Bereskan Tata Kelola Ekspor
Banyak pihak mempertanyakan keberadaan DSI. [Antara].
baca 10 detik
  • Pengamat Arief Poyuono meminta publik mendukung Danantara Sumberdaya Indonesia dalam membenahi tata kelola ekspor komoditas strategis nasional.
  • Praktik under invoicing selama tahun 1991 hingga 2024 telah merugikan penerimaan negara senilai lebih dari Rp15.000 triliun.
  • Pembentukan Danantara bertujuan menciptakan sistem perdagangan yang transparan, akuntabel, serta meningkatkan devisa hasil ekspor negara secara optimal.

Suara.com - Pengamat BUMN Arief Poyuono meminta berbagai pihak tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif terhadap PT Danantara Sumberdaya Indonesia (Persero) atau DSI. Menurutnya, keberadaan DSI untuk memperkuat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis.

Arief menuturkan, upaya pembenahan tata niaga ekspor lewat DSI, justru perlu didukung karena berbagai persoalan yang selama ini terjadi, termasuk praktik under invoicing, telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menimbulkan kerugian besar bagi negara.

"Kalau pemerintah sekarang mau membenahi tata kelola ekspor, menurut saya itu langkah yang baik. Persoalan under invoicing ini bukan isu baru, sudah puluhan tahun menjadi masalah dan merugikan negara dalam jumlah yang sangat besar," ujarnya di Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Sejumlah pekerja mengangkat buah kelapa sawit di Kabupaten Siak, Selasa (26/5/2026). [Ist]
ekspor minyak kelapa sawit mentah akan satu pintu lewat DSI. [Ist]

Arief menilai banyak pihak justru mulai meragukan kebijakan tersebut ketika pemerintah berupaya meningkatkan transparansi dan pengawasan terhadap perdagangan komoditas strategis nasional.

Padahal, jelasnya, persoalan kebocoran dalam tata niaga ekspor selama ini tidak pernah menjadi perdebatan besar meski dampaknya dinilai cukup signifikan terhadap penerimaan negara dan devisa hasil ekspor.

"Kalau angka kebocorannya sebesar itu, tentu kita tidak bisa menganggap ini persoalan kecil. Yang saya heran, selama bertahun-tahun praktik seperti ini tidak pernah menjadi perdebatan besar. Giliran sekarang ada upaya untuk membenahi dan meningkatkan transparansi, justru muncul banyak keraguan," imbuhnya.

Arief menjelaskan, praktik under invoicing ekspor terjadi ketika pelaku usaha melaporkan nilai atau volume ekspor lebih rendah dibandingkan kondisi sebenarnya.

Praktik tersebut berpotensi mengurangi penerimaan negara, menekan devisa hasil ekspor yang masuk ke dalam negeri, serta menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat.

Ia mengungkapkan, sejumlah kajian menunjukkan akumulasi nilai ekspor yang dilaporkan lebih rendah dari realisasi sebenarnya mencapai sekitar 908 miliar dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang periode 1991 hingga 2024. Nilai tersebut setara lebih dari Rp 15.000 triliun.

baca juga

Karena itu, Arief meminta publik memberikan kesempatan kepada Danantara dan DSI untuk menjalankan mandat yang telah diberikan pemerintah sebelum memberikan penilaian terhadap hasil kebijakan tersebut.

Menurutnya, evaluasi seharusnya dilakukan setelah implementasi berjalan dan dampaknya dapat diukur secara objektif.

"Kita kasih kesempatan dulu. Danantara baru ditugaskan untuk memperkuat tata kelola ekspor. Lihat implementasinya, lihat hasilnya. Kalau memang ada kekurangan tentu bisa diperbaiki. Tapi jangan sebelum berjalan sudah langsung diasumsikan negatif," katanya.

Lebih lanjut, Arief menegaskan tujuan utama pembentukan DSI bukan untuk mempersulit dunia usaha, melainkan menciptakan sistem perdagangan komoditas yang lebih transparan, akuntabel, dan terintegrasi.

Ia juga menilai kebijakan tersebut dapat menciptakan persaingan usaha yang lebih sehat karena penertiban ditujukan kepada pelaku yang tidak patuh, bukan kepada perusahaan yang selama ini menjalankan kegiatan usaha sesuai aturan.

"Yang perlu dipahami, ini bukan soal mempersulit dunia usaha. Justru tujuannya menciptakan level playing field yang lebih sehat. Sudah saatnya praktik-praktik yang merugikan negara ditertibkan dan pelaku usaha yang tidak patuh ditangani dengan tegas," beber Arief.

Ia menambahkan, selama kebijakan tersebut dijalankan secara transparan, bertahap, dan tetap memperhatikan kepastian usaha, dunia usaha tidak perlu khawatir terhadap upaya pemerintah memperkuat tata kelola ekspor komoditas strategis nasional.

"Pada akhirnya yang diuntungkan adalah Indonesia. Devisa lebih optimal, tata kelola lebih baik, dan kepercayaan pasar internasional terhadap komoditas Indonesia juga bisa semakin kuat," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Purbaya Ancam Pecat Petinggi BUMN Ekspor PT DSI Jika Tak Becus: Saya Anggota Pengawas Danantara!

Purbaya Ancam Pecat Petinggi BUMN Ekspor PT DSI Jika Tak Becus: Saya Anggota Pengawas Danantara!

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 16:55 WIB

Danantara Akan Terbitkan Surat Utang dalam Dolar AS saat Moody's Beri Outlook Negatif

Danantara Akan Terbitkan Surat Utang dalam Dolar AS saat Moody's Beri Outlook Negatif

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 16:33 WIB

Langsung Disampaikan Wakil Presiden Moody's: Danantara Dapat Outlook Negatif!

Langsung Disampaikan Wakil Presiden Moody's: Danantara Dapat Outlook Negatif!

Bisnis | Rabu, 03 Juni 2026 | 15:13 WIB

Terkini

Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled

Mengenal Luka yang Tak Terlihat & Harapan untuk Pulih dalam Novel Rekindled

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:10 WIB

Kulit Berminyak Pakai Facial Wash atau Facial Foam? Ini Perbedaannya

Kulit Berminyak Pakai Facial Wash atau Facial Foam? Ini Perbedaannya

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:10 WIB

Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun

Tebing 10 Meter di Lumajang Runtuh, Ayah dan Anak 9 Tahun Tewas Tertimbun

Jatim | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:07 WIB

Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja

Awas Kena PHP Perusahaan! Ini Bahaya Terselubung Tren Ghost Job bagi Pencari Kerja

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05 WIB

Harga Emas Antam Anjlok Rp33.000 dalam Dua Hari

Harga Emas Antam Anjlok Rp33.000 dalam Dua Hari

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:00 WIB

Jebakan WA Berujung Bui: Polisi Nyamar Jadi Pelanggan, Mami Prostitusi di Metro Tak Berkutik

Jebakan WA Berujung Bui: Polisi Nyamar Jadi Pelanggan, Mami Prostitusi di Metro Tak Berkutik

Lampung | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:59 WIB

Sering Dilakukan Tanpa Sadar, 5 Kebiasaan Pemotor saat Hujan Ini Ternyata 'Undang' Maut

Sering Dilakukan Tanpa Sadar, 5 Kebiasaan Pemotor saat Hujan Ini Ternyata 'Undang' Maut

Otomotif | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:46 WIB

Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang

Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:40 WIB

Bawa Pesan dari Mandalika, 5 Pembalap Muda Indonesia Siap 'Ngamuk' di Sepang

Bawa Pesan dari Mandalika, 5 Pembalap Muda Indonesia Siap 'Ngamuk' di Sepang

Sport | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:38 WIB

Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum

Kendal Tornado FC Jamu Persebaya di Stadion Sriwedari Tanpa Penonton Umum

Surakarta | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:37 WIB

×