- IHSG anjlok 3,48 persen ke level 5.734 pada sesi pertama perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 akibat tekanan global.
- Pemicu utama pelemahan adalah ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat serta meningkatnya ancaman perang dagang China.
- Sentimen negatif diperparah oleh outlook peringkat kredit PT Danantara Investment Management dan depresiasi rupiah menembus Rp18.000 per dolar.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada sesi pertama perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Hingga jeda siang, IHSG anjlok 206 poin atau 3,48 persen ke level 5.734.
Berdasarkan riset Pilarmas Investindo Sekuritas, pelemahan IHSG terjadi sejalan dengan koreksi yang melanda mayoritas bursa saham Asia.
Investor memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas.
Perang Iran-AS Memamas Kembali
![Warga melintas di depan layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). [ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/bar]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/03/65229-ihsg-indeks-harga-saham-gabungan-saham-ihsg-melemah-ihsg-anjlok.jpg)
Pilarmas menjelaskan, sentimen utama berasal dari meningkatnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Situasi semakin memanas setelah Iran menyerang Bandara Internasional Kuwait, sementara Israel memberi sinyal kesiapan bersama AS untuk melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran apabila diperlukan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang rapuh di kawasan Timur Tengah dan berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi global.
Selain faktor geopolitik, pasar juga dibayangi meningkatnya tensi perang dagang yang melibatkan China. Perwakilan Perdagangan AS mengumumkan rencana penerapan tarif tambahan hingga 12,5 persen terhadap impor dari 60 mitra dagang, termasuk China, terkait dugaan kegagalan mencegah masuknya produk yang terkait kerja paksa.
"Beijing berjanji akan mengambil tindakan balasan, meningkatkan kekhawatiran akan konfrontasi perdagangan yang lebih luas antara kedua pihak," tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam riset hariannya, Kamis (4/6/2026).
DIM Raih Outlook Negatif dari Moody's
Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG juga dipicu oleh belum membaiknya sentimen pasar. Pelaku pasar masih mencermati berbagai perkembangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Pilarmas, kombinasi faktor global dan kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah memunculkan risiko krisis kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik.
Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar adalah keputusan Moody's Ratings yang menetapkan peringkat kredit Baa2 dengan outlook negatif untuk PT Danantara Investment Management (DIM).
![Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (27/1/2026). [Suara.com/Rina]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/27/31313-bursa-efek-indonesia-bei-jakarta.jpg)
Di saat yang sama, nilai tukar rupiah terus tertekan terhadap dolar AS dan telah bergerak di atas level Rp 18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa pelemahan rupiah dapat berdampak terhadap persepsi risiko Indonesia di mata investor global.
"Selanjutnya tekanan nilai rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS yang sudah di atas Rp18.000. Kondisi ini tentunya dikuatirkan dapat berdampak pada penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional," tulis Pilarmas.