- Jurus BI-Kemenkeu dinilai hanya mampu meredam tekanan rupiah sementara.
- Daya tarik imbal hasil belum cukup jika kepercayaan investor masih rendah.
- Rupiah butuh dukungan faktor global dan fiskal untuk menguat berkelanjutan.
Suara.com - Kinerja Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menjaga stabilitas rupiah dinilai belum cukup kuat untuk membuat mata uang Garuda menguat secara berkelanjutan.
Meski dapat meredam tekanan dalam jangka pendek, sejumlah faktor fundamental masih menjadi penentu arah rupiah ke depan.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan dua kebijakan yang baru disepakati pemerintah dan BI lebih tepat dipandang sebagai upaya menahan pelemahan rupiah ketimbang menjadi jaminan penguatan yang berkelanjutan.
Adapun dua langkah yang ditempuh adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil instrumen rupiah guna menarik kembali dana asing, serta menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan.
"Menurut saya, dua langkah BI dan Kemenkeu tersebut bisa membantu menahan tekanan rupiah, tetapi belum otomatis membuat rupiah menguat secara berkelanjutan," kata Josua kepada Suara.com.
Menurutnya, peningkatan imbal hasil aset berdenominasi rupiah dapat menarik kembali aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) maupun Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), terutama ketika investor global sedang berburu instrumen dengan tingkat pengembalian lebih tinggi.
Dalam jangka pendek, strategi tersebut berpotensi mengurangi tekanan jual terhadap rupiah sekaligus menunjukkan komitmen otoritas dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Namun, efektivitasnya tetap sangat bergantung pada tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
"Jika pemodal masih melihat risiko kebijakan domestik tinggi, kenaikan imbal hasil hanya akan menjadi kompensasi risiko, bukan pemulihan kepercayaan," ujarnya.
Selain itu, Josua menilai kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan sektor perbankan juga menjadi faktor penting. Pasalnya, tekanan terhadap rupiah sering kali meningkat ketika pelaku pasar berebut likuiditas dan perbankan menjadi lebih konservatif dalam menyalurkan dana.
Likuiditas yang memadai akan membantu menjaga fungsi pasar uang, mendukung penyaluran kredit, serta meningkatkan efektivitas operasi moneter BI. Meski demikian, pengelolaannya harus dilakukan secara hati-hati.
"Jika terlalu ketat, ekonomi riil dan kredit bisa tertekan. Jika terlalu longgar ketika rupiah sedang melemah, permintaan valas justru bisa meningkat," jelasnya.
Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar likuiditas yang cukup, melainkan likuiditas yang diarahkan untuk menopang stabilitas ekonomi tanpa mengorbankan pertumbuhan.
Lebih lanjut, Josua menilai penguatan rupiah yang berkelanjutan memerlukan dukungan faktor lain yang lebih mendasar. Pemerintah perlu menjaga disiplin Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), memperjelas arah kebijakan ekonomi, serta mengurangi ketidakpastian yang dapat mengganggu dunia usaha.
Menurutnya, rupiah baru memiliki peluang menguat lebih konsisten apabila tekanan global mulai mereda, harga minyak dunia terkendali, arus modal asing kembali masuk secara stabil, cadangan devisa tetap kuat, serta persepsi investor terhadap pengelolaan fiskal Indonesia membaik.
"Rupiah baru bisa menguat lebih berkelanjutan apabila tekanan global mereda, harga minyak terkendali, arus dana asing kembali masuk secara konsisten, cadangan devisa tetap kuat, dan pemerintah mampu memperbaiki persepsi terhadap pengelolaan fiskal," tegas Josua.