- Bursa Efek Indonesia mencatatkan lonjakan likuiditas saham blue chip dan lapis kedua pada Selasa, 9 Juni 2026.
- Saham BBCA memimpin nilai transaksi sebesar Rp2,43 triliun, sementara saham BABY mencatatkan kenaikan harga tertinggi mencapai 34,62 persen.
- BEI melakukan suspensi terhadap emiten ADCP serta memberikan status pemantauan UMA bagi dua puluh saham yang berfluktuasi tidak wajar.
Pada perdagangan hari ini, BEI membekukan sementara waktu (suspensi) aktivitas perdagangan satu emiten, yaitu PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP). Tindakan penghentian sementara ini diberlakukan sebagai langkah murni penyegaran (cooling down) atas volatilitas harga saham yang bergerak di luar kebiasaan ritme pasar.
Selain suspensi, bursa juga mengeluarkan status radar pemantauan khusus atau Unusual Market Activity (UMA) terhadap 20 emiten yang memperlihatkan pola transaksi tidak wajar. Jajaran saham dalam pengawasan tersebut adalah BKSL, NINE, RSGK, KBLV, RMKE, LMAX, SOCI, CBUT, INET, FORU, GRIA, KOPI, HUMI, ROCK, IRSX, NICL, BABY, LOPI, MGNA, dan WGSH.
Penyematan status UMA ini berfungsi sebagai indikator pengingat agar para pelaku pasar lebih cermat dalam mempelajari laporan keterbukaan informasi emiten sebelum mengeksekusi order transaksi.
Dari sisi nilai perputaran dana, saham BBCA mendominasi perolehan modal pasar dengan angka Rp2,43 triliun. Sedangkan untuk persentase profit harian tertinggi dipimpin oleh saham BABY yang melesat hingga 34,62 persen.
Disclaimer: Perdagangan instrumen ekuitas di bursa efek mengandung risiko finansial dan fluktuasi harga yang tinggi. Artikel ini disusun secara independen sebagai bentuk penyediaan produk informasi jurnalisme ekonomi publik dan tidak memuat rekomendasi investasi, ajakan beli, atau panduan transaksi formal. Pembaca diimbau melakukan analisis mandiri secara mendalam sebelum mengambil keputusan keuangan personal.