- Amerika Serikat dan Iran menyepakati draf perdamaian untuk membuka kembali Selat Hormuz serta mengakhiri blokade laut pada Jumat mendatang.
- Sentimen positif tersebut memicu kenaikan indeks saham Asia serta menurunkan harga minyak mentah dan nilai tukar dolar Amerika.
- Analisis pasar memprediksi kebijakan bank sentral akan melunak, meski normalisasi distribusi energi global diperkirakan membutuhkan waktu cukup lama.
Suara.com - Pasar keuangan global bergerak responsif dan menyambut gembira draf rencana kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik bersenjata.
Sentimen positif ini memicu lonjakan pada pasar ekuitas dan obligasi di zona Asia, yang dibarengi dengan kejatuhan nilai tukar dolar AS serta koreksi tajam pada harga komoditas energi.
Dalam sesi perdagangan harian, harga kontrak berjangka minyak mentah AS dilaporkan anjlok hingga lebih dari 4 persen. Sebaliknya, kontrak berjangka indeks S&P 500 merangkak naik sekitar 0,8 persen, sementara indeks dolar AS terperosok ke level terendahnya dalam jangka waktu 10 hari terakhir di hadapan sejumlah mata uang utama dunia.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi gas dan minyak global yang sempat dilumpuhkan Iran selama beberapa bulan terakhir, dijadwalkan akan dibuka kembali secara resmi pada hari Jumat mendatang.
Sebagai langkah timbal balik, Trump menyatakan telah menginstruksikan penghentian total blokade armada laut AS atas pelabuhan-pelabuhan dagang milik Iran.
Walaupun draf poin perjanjian secara terperinci belum dipublikasikan secara transparan, seorang pejabat senior jajaran pemerintah Iran membocorkan kepada Reuters bahwa draf final memorandum kesepahaman (MoU) tersebut mencakup sejumlah klausul krusial.
Iran berkomitmen untuk langsung membuka kembali akses Selat Hormuz bagi seluruh kapal komersial internasional. Sementara itu, draf pencabutan blokade laut oleh militer AS akan langsung diaktifkan pasca-penandatanganan dokumen dan ditargetkan rampung sepenuhnya dalam kurun waktu 30 hari.
Sejumlah analis strategis dari berbagai lembaga keuangan dunia memberikan draf pandangan dan catatan kritis mereka mengenai dinamika pasar terbaru ini:
Kerangka Damai dan Faktor Geopolitik Pendukung
Charu Chanana, Chief Investment Strategis di Saxo Singapura, menilai kerangka perdamaian ini menjadi indikator paling kuat bahwa Washington dan Teheran menginginkan jalur de-eskalasi konflik. Namun, ia mengingatkan bahwa draf ini baru berupa kerangka kerja preliminer, bukan draf perjanjian akhir. U
jian sesungguhnya terletak pada momen penandatanganan hari Jumat terkait konsesi nuklir dan sanksi ekonomi, serta kepatuhan Israel terhadap seruan Trump untuk menyetop perselisihan militer di Lebanon.
Pandangan senada datang dari Imre Speizer, Pakar Strategi Pasar di Westpac Auckland, yang menilai bahwa potensi friksi antara Israel dan Lebanon masih membayangi pasar, dan durasi penantian hingga hari Jumat berisiko memicu volatilitas di tengah iklim yang sensitif.
Implikasi Terhadap Kebijakan Bank Sentral (The Fed & BOJ)
Dari perspektif moneter AS, Brian Jacobsen, Chief Economic Strategist di Annex Wealth Management Wisconsin, berpendapat bahwa kejatuhan harga minyak dan bensin ini akan sangat mempermudah draf pengambilan keputusan bagi Bank Sentral AS (The Fed).
Pada pertemuan mendatang, The Fed diproyeksikan akan menghapus draf retorika mengenai bias pelonggaran (easing bias), namun hampir dipastikan tidak akan memasukkan draf bahasa yang mengarah pada pengetatan atau kenaikan suku bunga (hiking bias).
Sementara itu, untuk wilayah regional Jepang, Masahito Sugawara selaku Analis Senior di Daiwa Securities Tokyo menjelaskan bahwa penurunan komoditas energi ini dapat mereduksi kekhawatiran atas lonjakan inflasi. Hal ini diperkirakan akan membuat sikap Bank of Japan (BOJ) menjadi kurang agresif (hawkish) dari draf perkiraan pasar sebelumnya, yang berpotensi melemahkan nilai tukar yen pasca-konferensi pers.
Hiroyuki Ueno dari Sumitomo Mitsui Trust Asset Management menambahkan, draf penguatan indeks Nikkei hari ini sebagian besar dipicu oleh aktivitas short cover oleh para investor yang diwajibkan melakukan aksi beli di area harga tinggi.
Meskipun disambut dengan draf optimisme tinggi, para pakar mata uang dan komoditas mengingatkan bahwa pemulihan sektor riil membutuhkan waktu yang tidak instan.
Kristina Clifton, Pakar Strategi Valas Senior di Commonwealth Bank of Australia (CBA), menegaskan bahwa pengaktifan kembali infrastruktur gas dan minyak bumi secara total membutuhkan proses berbulan-bulan.
"Pasar akan sangat fokus pada bagaimana lalu lintas kapal mulai kembali dan melihat seberapa cepat kapasitas produksi dapat kembali pulih secara online. Dalam pandangan kami, harga energi tidak akan langsung merosot ke level sebelum konflik terjadi dalam waktu dekat, karena pemulihan jalur maritim memerlukan waktu untuk kembali ke draf kondisi normal," urai Kristina.
Pandangan taktis tersebut didukung oleh Nick Twidale, Chief Market Strategist di ATFX Global Sydney, yang memperkirakan mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia dan yen akan mengalami draf apresiasi tipis dalam beberapa sesi ke depan.
Namun, ia menyangsikan harga minyak akan jatuh ke level 70 dolar AS per barel dalam waktu dekat mengingat proses normalisasi memakan waktu bulanan, bukan mingguan.