- CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan koreksi pasar modal membuat valuasi emiten Indonesia menjadi sangat kompetitif dan ekonomis bagi investor.
- Investor global cenderung berinvestasi jangka panjang dengan fokus pada fundamental ekonomi makro serta prospek pertumbuhan perusahaan di Indonesia.
- Safari bisnis Danantara kepada 122 investor global berhasil memulihkan kepercayaan serta memperbaiki persepsi pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Suara.com - Koreksi signifikan yang melanda pasar modal Indonesia dalam beberapa bulan terakhir dinilai membawa berkah tersendiri bagi peta investasi nasional. Penurunan harga instrumen ekuitas tersebut justru mentransformasikan nilai valuasi sejumlah perusahaan terbuka (emiten) menjadi jauh lebih kompetitif dan ekonomis.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa para pelaku investasi global memiliki indikator penilaian yang komprehensif.
Mereka tidak sekadar terpaku pada fluktuasi pergerakan indeks dalam jangka pendek, melainkan menaruh perhatian besar pada ketahanan fundamental ekonomi makro serta prospek pertumbuhan ekspansi Indonesia dalam jangka panjang.
"Karena koreksi yang kemarin selama hampir berapa bulan ini hampir 30 atau 40 persen pasar modal kita, ini menyebabkan pricing dari perusahaan-perusahaan kita menjadi sangat-sangat affordable, sangat-sangat baik, sangat-sangat murah malah," kata Rosan dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/6/2026).
Menurut Rosan, penurunan indeks yang sempat terjadi beberapa waktu lalu justru menjadi magnet tersendiri bagi institusi finansial mancanegara yang selama ini konsisten mengamati pergerakan pasar keuangan domestik. Se
belum mengeksekusi penempatan modal, investor asing umumnya akan melakukan kalkulasi mendalam yang mengombinasikan faktor kesehatan fundamental korporasi, kapasitas pertumbuhan bisnis, rasio pembagian keuntungan (dividen), hingga posisi harga saham aktual.
"Pada saat mereka melihat oh fundamental kita bagus, perbankan kita pertumbuhannya bagus, dividennya bagus, yield-nya bagus, harganya di bawah, price to book-nya di bawah jauh dari harga pasar, ya otomatis mereka juga lihat oh ini it's time to buy," ujarnya.
Lebih lanjut, mantan Wakil Menteri BUMN ini menjelaskan bahwa para pengelola dana global memiliki karakteristik dan metodologi investasi yang sangat berbeda dengan pola transaksi sebagian besar investor ritel lokal.
Investor institusi luar negeri cenderung menerapkan strategi investasi dengan horison waktu jangka panjang, sehingga tidak mudah goyah oleh sentimen harian.
"Kalau investor luar, mereka view-nya langsung long term. Jadi mereka tidak melihat posisi mereka hari ini masuk oh seminggu lagi itu kalau turun ya kita keluar, enggak seperti itu," katanya.
Arah pemulihan dan penguatan bursa saham domestik serta penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir dinilai menjadi indikator nyata atas kembalinya kepercayaan para pelaku pasar global terhadap iklim investasi di Indonesia.
Momentum kebangkitan pasar modal ini juga ditopang oleh langkah strategis Danantara yang baru saja menuntaskan rangkaian safari bisnis (roadshow) internasional ke berbagai pusat keuangan dunia.
Dalam agenda diplomasi ekonomi tersebut, delegasi Danantara melakukan pertemuan intensif dengan sekitar 122 pengelola aset dan investor institusi global guna memaparkan peta jalan kebijakan serta strategi alokasi investasi yang tengah dijalankan oleh pemerintah maupun Danantara.
Pemaparan komprehensif tersebut mendapatkan respons yang sangat positif dari komunitas finansial internasional, sekaligus efektif dalam merekonstruksi serta memperbaiki persepsi pasar terhadap stabilitas nasional.
"Nah pada saat mereka melihat bahwa oh ternyata apa yang dilakukan dalam hal ini Danantara dan juga kebijakan-kebijakannya ini membalikkan momentum yang tadinya persepsi yang ada itu, persepsi yang mohon maaf mungkin tadinya mereka agak ragu-ragu mengenai ekonomi Indonesia, mengenai kebijakan kita," ujar Rosan.
Rosan mengidentifikasi bahwa tekanan koreksi yang melanda pasar modal Indonesia dalam beberapa bulan ke belakang sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor pergeseran persepsi dan sentimen psikologis pasar, ketimbang degradasi pada sektor fundamental ekonomi riil.
"Kalau kami melihatnya selama ini ini kan sebetulnya adalah lebih persepsi. Lebih banyak karena persepsi, karena kalau kita lihat fundamental kita kan memang secara jangka menengah panjang juga sangat-sangat baik," jelasnya.
Manajemen Danantara menaruh optimisme tinggi bahwa tren pertumbuhan positif di sektor keuangan ini akan terus terjaga secara berkesinambungan apabila pemerintah dan pelaku ekonomi senantiasa mampu memelihara kredibilitas kebijakan, transparansi laporan keuangan, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).
"Kalau kami melihat ya ini persepsinya sekarang alhamdulillah sudah ke tren positif and kita harapkan ya tentunya ini terus meningkat," ucap Rosan.