- Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp26,3 triliun untuk paket stimulus ekonomi paruh kedua tahun 2026 guna memperkuat daya beli masyarakat.
- Kebijakan ini mencakup insentif transportasi, bantuan pangan bagi 33,2 juta keluarga, serta program pelatihan vokasi bagi tenaga kerja.
- Stimulus juga menyasar sektor industri strategis dan kreatif melalui pelonggaran fiskal, bea masuk, serta penurunan tarif pajak royalti.
Kucuran dana senilai Rp2,1 triliun dialokasikan untuk program pelatihan vokasi. Program ini ditargetkan menyasar sebanyak 220 ribu lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) serta 50 ribu tenaga kerja yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
4. Klaster Insentif Industri Strategis
Di sektor usaha, pemerintah memberikan pelonggaran fiskal guna menurunkan beban operasional industri manufaktur dan transportasi udara.
Stimulus ini diwujudkan melalui kebijakan pembebasan bea masuk atas impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang diperuntukkan bagi industri petrokimia, industri bahan baku plastik, serta suku cadang (spare parts) pesawat terbang.
5. Klaster Insentif Pajak Sektor Kreatif
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap ekosistem literasi dan industri kreatif di dalam negeri, pemerintah memberikan insentif pajak khusus. Kebijakan ini berupa penurunan tarif pajak royalti final menjadi 1,5%, yang diberikan secara spesifik bagi para penulis lokal.
Perbandingan dengan Paket Stimulus Periode Sebelumnya
Peluncuran paket stimulus ekonomi pada paruh kedua tahun 2026 ini tercatat lebih besar dibandingkan langkah intervensi fiskal yang pernah diambil pemerintah sebelumnya. Sebagai catatan komparasi, pada periode Juni–Juli 2025 lalu, pemerintah telah menggelontorkan paket stimulus dengan total nilai Rp24,4 triliun.
Pada tahun lalu, fokus anggaran dialokasikan untuk membiayai komponen insentif transportasi, program bantuan pangan, penyaluran Bantuan Subsidi Upah (BSU), serta pemberian diskon untuk iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK). Dengan realisasi stimulus baru senilai Rp26,3 triliun di pertengahan tahun ini, pemerintah berharap roda perekonomian nasional dapat bergerak lebih akseleratif dan inklusif di berbagai lini sektor potensial.