Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Haris Rusly Moti: Ada Kaum Oligarki Serakahnomic di Balik Narasi 1998 Redux

M Nurhadi

Selasa, 23 Juni 2026 | 10:55 WIB
Haris Rusly Moti: Ada Kaum Oligarki Serakahnomic di Balik Narasi 1998 Redux
Haris Rusly Moti, Pemrakarsa 98 Resolution Network,.
baca 10 detik
  • Haris Rusly Moti menyatakan oligarki sistematis berupaya menciptakan instabilitas nasional demi keuntungan finansial pribadi seperti krisis tahun 1998.
  • Narasi krisis ekonomi di media sosial diorkestrasi secara sengaja oleh kelompok oligarki untuk melemahkan kekuasaan dan hukum nasional.
  • Tindakan tegas Presiden Prabowo dalam pemberantasan korupsi dianggap mengancam kepentingan ekonomi para spekulan dan kelompok oligarki tersebut.

Suara.com - Haris Rusly Moti, eksponen gerakan reformasi 98 dari Universitas Gadjah Mada, menilai terdapat indikasi sistematis kelompok yang ia sebut 'oligarki serakahnomic' untuk menciptakan instabilitas nasional.

Pemrakarsa 98 Resolution Network tersebut mengatakan, upaya instabilitas nasional itu dilakukan untuk keuntungan finansial pribadi.

"Ini mirip dengan apa yang terjadi pada masa krisis moneter puluhan tahun silam," kata Haris Rusly Moti, Selasa (23/6/2026).

Haris menilai, narasi kegelapan ekonomi yang belakangan ini menghiasi lini masa media sosial bukanlah aspirasi murni dari rakyat, melainkan desain besar.

“Kaum oligarki serakahnomic itu terobsesi mengulangi mega-perampokan, yang pernah mereka lakukan dengan menunggangi krisis moneter dan gerakan mahasiswa tahun 1998," kata dia.

Jejak Sejarah: Mega-Perampokan di Balik Krisis

Menurutnya, untuk memahami kekhawatiran ini, publik perlu menoleh kembali pada sejarah kelam tahun 1997-1998.

Kala itu, Indonesia tidak hanya dihantam badai ekonomi global, tetapi juga dieksploitasi oleh aktor-aktor finansial internasional dan domestik.

Haris menyebutkan peran tokoh luar negeri dan pusat keuangan regional, yang memfasilitasi pengurasan kekayaan negara.

baca juga

“Krisis moneter tahun 1997 dan 1998 dengan koordinator lapangan George Soros dan pelaksana lapangannya perusahaan hedge fund atau fund manager yang berpusat di Singapura, berhasil menggelar karpet merah mega-perampokan terhadap keuangan dan kekayaan Indonesia”, urai Haris.

Ia menegaskan, kerugian yang dialami negara saat itu tidak main-main. Skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI), menjadi bukti nyata bagaimana dana talangan darurat justru disalahgunakan untuk kepentingan segelintir orang.

“Kerugian negara akibat perampokan tersebut mencapai ratusan triliun rupiah akibat penyalahgunaan dana talangan darurat dari Bank Indonesia. Negara tetangga kita, Singapura, kelimpahan duit segar BLBI yang diparkir para perampok di sana”, ujar Haris .

Narasi "1998 Redux": Bukan Gerakan Akar Rumput

Haris mencermati, kemunculan tagar seperti #1998Redux atau narasi Indonesia bangkrut di media sosial saat ini memiliki pola yang mencurigakan.

Melalui kacamata analitik, gerakan ini tidak menunjukkan karakteristik gerakan sosial yang lahir dari keresahan rakyat di tingkat bawah (bottom-up), melainkan digerakkan dari atas (top-down).

“Narasi atau tagar ‘1998 redux’, mengulangi 1998, tidak lahir secara buttom up dari gerakan sosial dan gerakan mahasiswa. Jika kita perhatikan di analitik, narasi 1998 redux diorkestrasi secara top down oleh oligarki serakahnomic melalui akun proxy media sosial”, lanjut Haris.

Tujuan utama dari destabilisasi ini, menurut Haris, adalah untuk menciptakan kekosongan kekuasaan dan hukum yang bisa dimanfaatkan kembali.

Ia merujuk pada analisis intelijen asing pasca-reformasi yang melihat Indonesia sebagai wilayah yang tidak bertuan secara sistemik.

“Ketika situasi ekonomi dan politik kacau, hukum dan konstitusi tidak tegak, maka situasi tersebut ibarat ruang atau tanah kosong tanpa tuan yang memberi keleluasaan mereka melakukan perampok sesuka hati mereka", tegas Haris.

Ketakutan Oligarki terhadap Kebijakan Prabowo

Lantas, mengapa narasi ini muncul sekarang? Haris berpendapat kelompok oligarki saat ini sedang berada dalam posisi terdesak.

Langkah-langkah tegas dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam menegakkan Pasal 33 UUD 1945 dan pemberantasan korupsi menjadi ancaman nyata bagi mereka.

“Jadi motivasi dibalik narasi 1998 redux dan sale Indonesia bukan untuk melakukan perubahan yang berpihak pada kepentingan negara dan rakyat. Kaum oligarki serakahnomic itu justru terobsesi menciptakan kembali situasi destabilisasi dan krisis multidimensi seperti tahun 1998 untuk melakukan perampokan terhadap kekayaan Indonesia”, jelas Haris.

Haris menambahkan, ketakutan akan kebangkrutan sebenarnya bukan dialami oleh negara, melainkan oleh para spekulan tersebut.

“Kenapa saya mengatakan demikian, karena sebetulnya yang terancam nasibnya gelap gulita dan bangkrut, bukan negara Indonesia, tapi kaum oligarki serakahnomic. Peluang mereka terkunci melalui menumpuk kekayaan yang bersumber dari perampokan terhadap keuangan negara dan SDA Indonesia," ujar Haris.

Ia juga menyoroti fenomena kampanye negatif seperti ajakan membuang Rupiah atau melarikan aset ke luar negeri.

Menurutnya, mustahil rakyat kecil yang melakukan hal tersebut. “Menurut saya yang mempunyai kemampuan untuk melakukan sale Indonesia, buang Rupiah dan kabur dari Indonesia adalah kaum oligarki serakahnomic yang punya kekayaan melimpah yang diperoleh dari perampokan terhadap sumber daya alam dan kekayaan Indonesia”, tegas Haris.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Hotel Sultan Bakal Dirobohkan! Prabowo Ingin Bangun Ikon Baru Berstandar Internasional

Hotel Sultan Bakal Dirobohkan! Prabowo Ingin Bangun Ikon Baru Berstandar Internasional

News | Senin, 22 Juni 2026 | 19:21 WIB

Dipanggil Presiden ke Istana, Dirut PLN Minta Maaf soal Gangguan Kelistrikan Nasional

Dipanggil Presiden ke Istana, Dirut PLN Minta Maaf soal Gangguan Kelistrikan Nasional

Video | Senin, 22 Juni 2026 | 12:52 WIB

Surat Cinta Siswi SD di Nias Utara untuk Prabowo: Bisa Menabung Berkat MBG

Surat Cinta Siswi SD di Nias Utara untuk Prabowo: Bisa Menabung Berkat MBG

News | Senin, 22 Juni 2026 | 09:25 WIB

100 Tahun Naar de Republiek Indonesia: Menelanjangi Neokolonialisme 2026, Republik untuk Siapa?

100 Tahun Naar de Republiek Indonesia: Menelanjangi Neokolonialisme 2026, Republik untuk Siapa?

Your Say | Jum'at, 19 Juni 2026 | 21:15 WIB

Menpar Widi Minta Anggaran Rp709 Miliar, Keponakan Prabowo: Sudah Lapor Presiden? Belum?

Menpar Widi Minta Anggaran Rp709 Miliar, Keponakan Prabowo: Sudah Lapor Presiden? Belum?

Video | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:56 WIB

Presiden Prabowo Diminta Copot Budiman Sudjatmiko

Presiden Prabowo Diminta Copot Budiman Sudjatmiko

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 12:35 WIB

Lingkar Dalam Prabowo Bikin Investor Waswas, Rupiah dan IHSG Kena Tekanan

Lingkar Dalam Prabowo Bikin Investor Waswas, Rupiah dan IHSG Kena Tekanan

Bisnis | Kamis, 18 Juni 2026 | 08:29 WIB

Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo!

Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo!

News | Senin, 15 Juni 2026 | 16:17 WIB

Terkini

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Bola | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:35 WIB

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:35 WIB

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:27 WIB

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:31 WIB

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Otomotif | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Bisnis | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Jawa Tengah | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Lampung | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:57 WIB

Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien

Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:23 WIB

×