Minyakita Masih Mahal, CORE Sebut Produsen Sawit Lebih Pilih Ekspor Ketimbang Pasok Dalam Negeri

Mohammad Fadil Djailani, Fakhri Fuadi Muflih

Selasa, 23 Juni 2026 | 14:46 WIB
Minyakita Masih Mahal, CORE Sebut Produsen Sawit Lebih Pilih Ekspor Ketimbang Pasok Dalam Negeri
Petugas memeriksa MinyaKita yang sudah dikemas di Cilincing, Jakarta Utara, Rabu (12/3/2025). ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/nz/am
baca 10 detik
  • Produsen sawit dinilai lebih memilih ekspor karena margin lebih besar.
  • Pasokan Minyakita terganggu, harga masih di atas HET di sejumlah daerah.
  • CORE dorong BUMN dan koperasi jadi penyeimbang pasar minyak goreng.

Suara.com - Harga minyak goreng rakyat Minyakita yang masih kerap dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) dinilai tidak lepas dari minimnya insentif bagi produsen sawit untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, menilai pelaku usaha lebih tertarik menyalurkan produk mereka ke pasar ekspor yang menawarkan keuntungan lebih besar dibandingkan skema Domestic Market Obligation (DMO).

Menurut Eliza, tipisnya margin keuntungan dari program DMO minyak goreng membuat perusahaan sawit cenderung memprioritaskan pasar luar negeri. Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak pada pasokan minyak goreng rakyat di dalam negeri, termasuk Minyakita yang masih sulit dijaga ketersediaan dan kestabilan harganya di berbagai daerah.

"Ini strategi perusahaan minyak sawit karena DMO minyak goreng ini marginnya tipis sekali dibandingkan ekspor. Karena prinsipnya swasta memaksimalkan profit. Ekspor lebih menguntungkan sehingga pemenuhan dalam negeri dinomorduakan," ujar Eliza kepada Suara.com, Senin (23/6/2026).

Ia menjelaskan, sebagai entitas bisnis, perusahaan swasta secara alami akan mengalokasikan produknya ke pasar yang memberikan tingkat keuntungan lebih tinggi. Akibatnya, kebutuhan minyak goreng domestik kerap kalah bersaing dengan permintaan ekspor yang dinilai lebih menguntungkan.

Eliza menegaskan persoalan Minyakita tidak bisa diselesaikan hanya dengan menaikkan atau menyesuaikan harga eceran tertinggi. Pemerintah perlu menyentuh akar masalah, yakni memperbaiki sistem pasokan dan menciptakan insentif yang lebih menarik bagi produsen agar mau menyalurkan lebih banyak minyak goreng ke pasar domestik.

Di sisi lain, ia menyoroti dominasi perusahaan swasta dalam industri pengolahan crude palm oil (CPO) nasional. Menurutnya, pemerintah saat ini belum memiliki kapasitas hilirisasi sawit yang cukup kuat untuk menjadi penyeimbang pasar.

Akibatnya, kebijakan pemerintah yang bertujuan menyediakan minyak goreng murah bagi masyarakat sering kali berbenturan dengan kepentingan bisnis perusahaan yang lebih memilih mengekspor produk demi meraih margin keuntungan lebih besar.

"Besarnya penguasaan swasta dalam pengolahan CPO dan pemerintah belum punya hilirisasi kelapa sawit yang memadai. Jadinya keinginan pemerintah menyediakan minyak murah bertabrakan dengan keinginan swasta yang memaksimalkan profit dengan mengekspor," katanya.

baca juga

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Eliza mendorong pemerintah memperkuat peran badan usaha milik negara (BUMN), khususnya di sektor minyak goreng. Kehadiran BUMN dinilai penting sebagai penyeimbang pasar guna menjaga ketersediaan pasokan dan menekan gejolak harga.

Ia mencontohkan dukungan terhadap target PTPN dalam meningkatkan produksi minyak goreng hingga 1,8 juta ton per tahun. Selain itu, sebagian alokasi CPO milik PTPN juga dapat diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan Minyakita dan pasar domestik.

"Seperti mendukung target PTPN menaikkan produksi minyak goreng menjadi 1,8 juta ton per tahun. Selain itu, beri prioritas alokasi CPO PTPN untuk Minyakita atau kebutuhan domestik," ujarnya.

Tak hanya mengandalkan BUMN, Eliza juga mengusulkan pemberdayaan koperasi petani dan pelaku usaha kecil agar dapat terlibat langsung dalam pengolahan serta distribusi minyak goreng. Langkah ini diyakini dapat mengurangi dominasi perusahaan besar, meningkatkan nilai tambah bagi petani, sekaligus menciptakan harga minyak goreng yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Menurutnya, selama ini petani masih banyak menjual hasil sawit dalam bentuk bahan mentah. Padahal, jika diberikan akses pengolahan dan dukungan usaha, petani dapat memperoleh keuntungan lebih besar dari produk hilir yang bernilai tambah tinggi.

"Masyarakat kita harus diberdayakan, diberi kesempatan untuk mengembangkan bisnisnya agar menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, tidak menjual dalam bentuk mentah, tetapi diolah menjadi minyak. Petani untung karena mendapat nilai tambah, masyarakat untung karena harga bisa menjadi lebih murah," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Harga MinyaKita Tak Jadi Naik, Terus Apa Solusi Pemerintah?

Harga MinyaKita Tak Jadi Naik, Terus Apa Solusi Pemerintah?

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 18:10 WIB

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:36 WIB

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Kebun Sawit PTPN Dijarah, Negara Rugi Rp62,6 Miliar

Bisnis | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:53 WIB

Terkini

Sri Lanka Jadi Calon Markas Baru Sindikat Penipuan Siber Internasional di Asia Pasifik

Sri Lanka Jadi Calon Markas Baru Sindikat Penipuan Siber Internasional di Asia Pasifik

News | Kamis, 24 September 2026 | 07:45 WIB

Masa Kerja Tak Berlaku Lagi, TPP ASN Kota Malang Kini Murni Berdasarkan Kinerja

Masa Kerja Tak Berlaku Lagi, TPP ASN Kota Malang Kini Murni Berdasarkan Kinerja

Malang | Kamis, 24 September 2026 | 07:44 WIB

Kementan Stop Impor, Kini Harga Singkong Mulai Naik

Kementan Stop Impor, Kini Harga Singkong Mulai Naik

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 07:42 WIB

Nempel Jalur KRL, 1.377 Hunian Subsidi Disiapkan bagi MBR di Kawasan Perkotaan

Nempel Jalur KRL, 1.377 Hunian Subsidi Disiapkan bagi MBR di Kawasan Perkotaan

News | Kamis, 24 September 2026 | 07:41 WIB

Setapol Ungkap Kondisi Tahanan Demo 27 Agustus: Ada yang Patah Jari hingga Luka Kepala

Setapol Ungkap Kondisi Tahanan Demo 27 Agustus: Ada yang Patah Jari hingga Luka Kepala

News | Kamis, 24 September 2026 | 07:36 WIB

Eropa Diminta Lindungi Mahkamah Pidana Internasional dari Amerika Serikat

Eropa Diminta Lindungi Mahkamah Pidana Internasional dari Amerika Serikat

News | Kamis, 24 September 2026 | 07:32 WIB

Skin Barrier Sehat! 4 Pelembap Cream Squalane Kunci Hidrasi Kulit Kering

Skin Barrier Sehat! 4 Pelembap Cream Squalane Kunci Hidrasi Kulit Kering

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 07:30 WIB

Kenapa Perut Bunyi Padahal Tidak Lapar? Ini 6 Alasannya Secara Medis

Kenapa Perut Bunyi Padahal Tidak Lapar? Ini 6 Alasannya Secara Medis

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 07:20 WIB

Badland Hunters: Ketika Dunia Hancur, Apa yang Membuat Kita Tetap Bertahan?

Badland Hunters: Ketika Dunia Hancur, Apa yang Membuat Kita Tetap Bertahan?

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 07:10 WIB

Daftar Shio yang Ditakdirkan Kaya Raya dan Sukses di Usia Tua

Daftar Shio yang Ditakdirkan Kaya Raya dan Sukses di Usia Tua

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 06:50 WIB

×