Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.401,888
LQ45 632,283
Srikehati 308,081
JII 381,604
USD/IDR 17.820

B50 Resmi Berlaku, INDEF Beberkan Ancaman Kenaikan Harga Minyak Goreng

Achmad Fauzi, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Rabu, 01 Juli 2026 | 16:44 WIB
B50 Resmi Berlaku, INDEF Beberkan Ancaman Kenaikan Harga Minyak Goreng
Ilustrasi Bahan Bakar B50. (Gemini AI)
baca 10 detik
  • Pemerintah Indonesia resmi memberlakukan kebijakan mandatori biodiesel 50 persen atau B50 secara serentak mulai Rabu, 1 Juli 2026.
  • Kebijakan B50 berisiko menyebabkan tekanan fiskal berat bagi APBN serta potensi defisit dana pada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.
  • Implementasi B50 memicu risiko kenaikan harga minyak goreng domestik serta peningkatan drastis kebutuhan impor bahan baku metanol bagi industri.

Suara.com - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Green Transition Initiative (GTI) mengingatkan adanya sejumlah risiko besar yang perlu diwaspadai dalam kebijakan Biodiesel 50 persen atau B50.

Risiko itu terutama mucul dari sisi fiskal, pasokan bahan baku, hingga kesiapan sektor hilir.

Adapun, kebijakan mandatori biodiesel 50 persen (B50) dijadwalkan mulai diberlakukan secara serentak pada hari ini, Rabu, 1 Juli 2026.

Kepala Dekarbonisasi Industri dan Transportasi INDEF GTI, Andry Satrio Nugroho, menyatakan bahwa meskipun serapan pasar untuk B50 relatif aman karena masuk dalam skema solar subsidi dan Public Service Obligation (PSO), beban berat justru mengintai ketahanan anggaran negara dan stabilitas harga di masyarakat.

Menurut analisis INDEF GTI, pengalihan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) ke pasar domestik untuk memenuhi kebutuhan B50 akan menurunkan volume ekspor.

Penurunan ekspor tersebut otomatis mengurangi penerimaan APBN dari sektor bea keluar serta menggerus dana insentif yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dari pungutan ekspor.

Infografis peta jalan implementasi biodiesel. [Indonesialeaks]
Infografis peta jalan implementasi biodiesel. [Indonesialeaks]

"Ketika volume ekspor turun, penerimaan bea keluar ikut turun. CPO yang dijual ke pasar domestik dengan harga lebih rendah juga menekan laba, sehingga PPh badan sektor sawit ikut tergerus," kata Andry dalam keterangan tertulisnya yang dikutip pada Rabu (1/7/2026). 

Tekanan fiskal ini diproyeksikan semakin berat jika harga minyak dunia mengalami penurunan. Penurunan harga minyak global akan melebarkan selisih harga antara Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dan solar, yang berakibat pada membengkaknya nilai insentif yang harus dibayarkan. 

INDEF GTI mengestimasi kebutuhan insentif bisa mencapai Rp41,3 triliun jika harga minyak Brent berada di level 85 dolar AS per barel, dan risiko defisit dana BPDPKS akan membesar jika harga minyak turun di bawah 100 dolar AS per barel.

baca juga

Untuk menutupi kebutuhan tersebut, tarif pungutan ekspor idealnya dinaikkan menjadi 23,8 persen, hampir dua kali lipat dari tarif saat ini yang sebesar 12,5 persen, di tengah volume ekspor yang justru menyusut.

"Ironisnya, pada saat bersamaan, volume ekspor yang menjadi basis pungutan justru menyusut.Bila BPDP akhirnya kehabisan dana, program tidak bisa begitu saja berhenti karena B50 sudah menjadi mandat untuk menopang pasokan solar domestik," kata Andry. 

Menurut Andry, defisit anggaran pada BPDPKS berisiko mengalihkan beban pembiayaan langsung ke APBN.

Kondisi tersebut akan menempatkan pemerintah pada pilihan sulit,  antara memberikan suntikan dana dari APBN untuk menutupi defisit atau menaikkan tarif pungutan ekspor yang berpotensi membebani para eksportir dan petani. 

"Tanpa antisipasi, pembayaran kepada produsen FAME pun berpotensi terlambat," jelasnya. 

Selain masalah anggaran, INDEF GTI menggarisbawahi risiko kenaikan harga minyak goreng di dalam negeri. Pengalihan pasokan CPO dalam jumlah besar untuk biodiesel dikhawatirkan mengurangi alokasi bahan baku untuk industri pangan, sehingga mendorong kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik.

Dari aspek teknis dan logistik, peralihan dari B40 ke B50 meningkatkan kebutuhan FAME sebesar 25 persen, yang menuntut kesiapan infrastruktur hilir seperti dermaga dan tangki penyimpanan. 

Di sisi lain, peningkatan produksi FAME ini justru memperbesar ketergantungan Indonesia pada impor metanol sebagai bahan baku pembantu. Penerapan B50 mendongkrak kebutuhan metanol hingga 2,9 juta ton, sementara kapasitas produksi domestik hanya sekitar 400 ribu ton. 

"Impor metanol berpotensi naik 2,5 juta ton. Upaya memangkas impor solar justru menambah impor metanol di sisi lain," kata Andry. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tetap Berlaku Juli, Peresmian B50 Tunggu Jadwal Prabowo

Tetap Berlaku Juli, Peresmian B50 Tunggu Jadwal Prabowo

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:46 WIB

Harga Pangan Hari Ini: Cabai dan Telur Kompak Turun, Minyak Goreng Kemasan Masih Merangkak Naik

Harga Pangan Hari Ini: Cabai dan Telur Kompak Turun, Minyak Goreng Kemasan Masih Merangkak Naik

Bisnis | Rabu, 01 Juli 2026 | 09:24 WIB

Berlaku Besok, IESR Ungkap Bahayanya Penerapan B50

Berlaku Besok, IESR Ungkap Bahayanya Penerapan B50

Bisnis | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:43 WIB

Terkini

Tengah Malam, Parigi Moutong Diguncang Gempa Magnitudo 6,2

Tengah Malam, Parigi Moutong Diguncang Gempa Magnitudo 6,2

Sulsel | Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:36 WIB

5 Merek Pengharum Ruangan Terbaik 2026, Cocok Buat Rumah dan Kantor

5 Merek Pengharum Ruangan Terbaik 2026, Cocok Buat Rumah dan Kantor

Lifestyle | Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:20 WIB

Profil Bangladesh Tim Pengganti India di FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Pernah Dipecundangi

Profil Bangladesh Tim Pengganti India di FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Pernah Dipecundangi

Bola | Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:20 WIB

Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?

Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?

Tekno | Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:15 WIB

OJK Siapkan Dua Regulasi Baru untuk Dukung Bursa Mineral dan Komoditas Strategis   Otoritas Jasa Keu

OJK Siapkan Dua Regulasi Baru untuk Dukung Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Otoritas Jasa Keu

Bisnis | Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:05 WIB

5 Mobil Terlaris 2026 Januari hingga Juli Kategori EV: Ini Rajanya

5 Mobil Terlaris 2026 Januari hingga Juli Kategori EV: Ini Rajanya

Otomotif | Minggu, 16 Agustus 2026 | 06:00 WIB

Jusuf Kalla Soroti Kerusuhan di Aceh, Minta Masyarakat Jaga Perdamaian Helsinki

Jusuf Kalla Soroti Kerusuhan di Aceh, Minta Masyarakat Jaga Perdamaian Helsinki

Bekaci | Minggu, 16 Agustus 2026 | 05:53 WIB

Unhas Pecat Mahasiswa Kehutanan Pelaku Pelecehan Seksual

Unhas Pecat Mahasiswa Kehutanan Pelaku Pelecehan Seksual

Sulsel | Minggu, 16 Agustus 2026 | 05:44 WIB

Parigi Moutong Diguncang Gempa M 6,2 Tengah Malam, BMKG Minta Warga Waspada

Parigi Moutong Diguncang Gempa M 6,2 Tengah Malam, BMKG Minta Warga Waspada

News | Minggu, 16 Agustus 2026 | 02:04 WIB

Pengibaran Bendera Bulan Bintang Picu Bentrok di Masjid Raya Baiturrahman

Pengibaran Bendera Bulan Bintang Picu Bentrok di Masjid Raya Baiturrahman

Sumut | Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:59 WIB

×