- PT Samuel Sekuritas memproyeksikan pasar keuangan domestik menghadapi tantangan berat pada paruh kedua tahun 2026 akibat ketidakpastian makroekonomi.
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen guna menstabilkan nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi.
- Strategi investasi defensif disarankan bagi pelaku pasar karena kenaikan suku bunga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan margin perbankan.
Suara.com - PT Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan pasar keuangan domestik masih akan menghadapi tantangan berat pada paruh kedua tahun 2026.
Kombinasi antara depresiasi nilai tukar rupiah, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi, siklus pengetatan moneter, serta arah kebijakan domestik diperkirakan menjadi penahan laju pertumbuhan pasar.
Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, mengungkapkan bahwa ketidakpastian situasi makroekonomi ini menuntut para pelaku pasar untuk meninjau ulang alokasi aset mereka.
"Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan. Dalam situasi seperti ini, strategi yang terlalu agresif belum tentu menjadi pilihan terbaik. Karena itu, pendekatan defensif menjadi semakin penting,” ujar Tae Yong Shim dalam acara Media Connect di Jakarta, Jumat (3/7/2026).
BI Hadapi Dilema Stabilitas vs Pertumbuhan
Tae Yong Shim menjelaskan, fokus utama Bank Indonesia (BI) sepanjang paruh pertama tahun ini tersita pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
Guna meredam volatilitas, bank sentral telah mengerek BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) secara agresif, dari posisi 4,75 persen pada Maret 2026 menjadi 5,75 persen pada Juni 2026.
Langkah pengetatan ini dinilai laksana pisau bermata dua bagi perekonomian nasional:
Kebijakan BI: Kenaikan BI-Rate 100 bps (ke level 5,75%)
Dampak Positif: Menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan menstabilkan nilai tukar Rupiah.
Dampak Negatif: Menahan laju ekspansi kredit sehingga pertumbuhan ekonomi berpotensi tertahan.
Menurut Shim, siklus pengetatan moneter saat ini memiliki kemiripan historis dengan kondisi pada tahun 2018 silam.
Saat itu, BI juga terpaksa mengorbankan pertumbuhan ekonomi demi memulihkan kepercayaan investor asing dan menjaga stabilitas eksternal.
"Masalah utamanya bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi alasan di balik kenaikan itu. Ketika pasar membaca bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas, investor akan menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko," tambahnya.
Dari sudut pandang pasar modal, Samuel Sekuritas menilai koreksi tajam yang terjadi beberapa waktu lalu sebenarnya telah membuat valuasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada pada titik masuk (entry point) yang menarik. Hanya saja, katalis pembalikan arah (rebound) belum cukup kuat akibat tersandera risiko kebijakan.
Meskipun tekanan dari isu penyesuaian indeks MSCI diperkirakan telah melewati fase puncaknya, investor disarankan tetap mencermati faktor-faktor struktural seperti porsi saham publik (free float), transparansi emiten, hingga risiko penurunan status (downgrade) ke frontier market.
Di sisi lain, Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menyoroti sektor perbankan yang selama ini menjadi motor penggerak pasar. Meski mencatatkan kinerja tahunan (year-on-year) yang relatif kokoh, emiten bank diprediksi akan menghadapi tekanan margin pada semester II-2026.
"Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan biaya dana (cost of funds). Jika proses repricing dana pihak ketiga bergerak lebih cepat dibandingkan aset produktif, margin bank akan tetap berada dalam tekanan. Di saat sama, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur," pungkas Prasetya.