Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.599.000
Beli Rp2.495.000
IHSG 5.744,556
LQ45 565,493
Srikehati 279,472
JII 338,217
USD/IDR 17.989

Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap

M Nurhadi

Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:35 WIB
Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap
Pekerja mengamati layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/5/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]
baca 10 detik
  • PT Samuel Sekuritas memproyeksikan pasar keuangan domestik menghadapi tantangan berat pada paruh kedua tahun 2026 akibat ketidakpastian makroekonomi.
  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen guna menstabilkan nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi.
  • Strategi investasi defensif disarankan bagi pelaku pasar karena kenaikan suku bunga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan margin perbankan.

Suara.com - PT Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan pasar keuangan domestik masih akan menghadapi tantangan berat pada paruh kedua tahun 2026.

Kombinasi antara depresiasi nilai tukar rupiah, lonjakan imbal hasil (yield) obligasi, siklus pengetatan moneter, serta arah kebijakan domestik diperkirakan menjadi penahan laju pertumbuhan pasar.

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Tae Yong Shim, mengungkapkan bahwa ketidakpastian situasi makroekonomi ini menuntut para pelaku pasar untuk meninjau ulang alokasi aset mereka.

"Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan. Dalam situasi seperti ini, strategi yang terlalu agresif belum tentu menjadi pilihan terbaik. Karena itu, pendekatan defensif menjadi semakin penting,” ujar Tae Yong Shim dalam acara Media Connect di Jakarta, Jumat (3/7/2026).

BI Hadapi Dilema Stabilitas vs Pertumbuhan

Tae Yong Shim menjelaskan, fokus utama Bank Indonesia (BI) sepanjang paruh pertama tahun ini tersita pada upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.

Guna meredam volatilitas, bank sentral telah mengerek BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) secara agresif, dari posisi 4,75 persen pada Maret 2026 menjadi 5,75 persen pada Juni 2026.

Langkah pengetatan ini dinilai laksana pisau bermata dua bagi perekonomian nasional:

Kebijakan BI: Kenaikan BI-Rate 100 bps (ke level 5,75%)

baca juga

Dampak Positif: Menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan menstabilkan nilai tukar Rupiah.

Dampak Negatif: Menahan laju ekspansi kredit sehingga pertumbuhan ekonomi berpotensi tertahan.

Menurut Shim, siklus pengetatan moneter saat ini memiliki kemiripan historis dengan kondisi pada tahun 2018 silam.

Saat itu, BI juga terpaksa mengorbankan pertumbuhan ekonomi demi memulihkan kepercayaan investor asing dan menjaga stabilitas eksternal.

"Masalah utamanya bukan hanya kenaikan suku bunga, tetapi alasan di balik kenaikan itu. Ketika pasar membaca bahwa kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas, investor akan menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko," tambahnya.

Dari sudut pandang pasar modal, Samuel Sekuritas menilai koreksi tajam yang terjadi beberapa waktu lalu sebenarnya telah membuat valuasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada pada titik masuk (entry point) yang menarik. Hanya saja, katalis pembalikan arah (rebound) belum cukup kuat akibat tersandera risiko kebijakan.

Meskipun tekanan dari isu penyesuaian indeks MSCI diperkirakan telah melewati fase puncaknya, investor disarankan tetap mencermati faktor-faktor struktural seperti porsi saham publik (free float), transparansi emiten, hingga risiko penurunan status (downgrade) ke frontier market.

Di sisi lain, Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi, menyoroti sektor perbankan yang selama ini menjadi motor penggerak pasar. Meski mencatatkan kinerja tahunan (year-on-year) yang relatif kokoh, emiten bank diprediksi akan menghadapi tekanan margin pada semester II-2026.

"Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendorong kenaikan biaya dana (cost of funds). Jika proses repricing dana pihak ketiga bergerak lebih cepat dibandingkan aset produktif, margin bank akan tetap berada dalam tekanan. Di saat sama, biaya pinjaman yang lebih tinggi juga dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur," pungkas Prasetya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Komisi Ojol 8 Persen Bikin Prospek GOTO Suram, Target Harga Saham Dipangkas

Komisi Ojol 8 Persen Bikin Prospek GOTO Suram, Target Harga Saham Dipangkas

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 14:45 WIB

Isu BEI Bakal Rombak Total Aturan FCA, 3 Kriteria Ini Bakal Dihapus!

Isu BEI Bakal Rombak Total Aturan FCA, 3 Kriteria Ini Bakal Dihapus!

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 14:27 WIB

IHSG Terbang ke Level 5.886 di Sesi I, BBCA dan ISAT Pendorongnya

IHSG Terbang ke Level 5.886 di Sesi I, BBCA dan ISAT Pendorongnya

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 13:27 WIB

IHSG Mulai Betah di Zona Hijau, Pagi Bergerak di Level 5.800-an

IHSG Mulai Betah di Zona Hijau, Pagi Bergerak di Level 5.800-an

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 09:18 WIB

Tekanan Pasar Tenaga Kerja AS Mereda, Investor Saham Bisa Lebih Tenang?

Tekanan Pasar Tenaga Kerja AS Mereda, Investor Saham Bisa Lebih Tenang?

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 08:10 WIB

Asing Kabur Bawa Duit 5 Miliar Dolar, Investor Ritel Jadi Pahlawan IHSG

Asing Kabur Bawa Duit 5 Miliar Dolar, Investor Ritel Jadi Pahlawan IHSG

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 06:51 WIB

Terkini

Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City

Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:27 WIB

Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh

Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:20 WIB

Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru

Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 21:05 WIB

Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050

Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:51 WIB

Ratusan Santri Antusias Ikuti Beragam Aktivitas di Junior Miners Fun Fest 2026

Ratusan Santri Antusias Ikuti Beragam Aktivitas di Junior Miners Fun Fest 2026

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:29 WIB

Negara di Eropa Mendadak Jor-joran Belanja Militer, Ada Isu Perang Besar?

Negara di Eropa Mendadak Jor-joran Belanja Militer, Ada Isu Perang Besar?

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 20:17 WIB

Ibu-Ibu PNM Mekaar Jadi Wajah Perempuan Berdaya dalam Sensus Ekonomi 2026

Ibu-Ibu PNM Mekaar Jadi Wajah Perempuan Berdaya dalam Sensus Ekonomi 2026

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 19:48 WIB

Patriot Bond Dituding Pencucian Uang, Purbaya: Dunia Gak Hitam-Putih, Jangan Sampai Kita Rugi Banyak

Patriot Bond Dituding Pencucian Uang, Purbaya: Dunia Gak Hitam-Putih, Jangan Sampai Kita Rugi Banyak

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 19:40 WIB

Kemendag Beberkan Penyelamat Neraca Dagang RI Masih Surplus Secara Kumulatif

Kemendag Beberkan Penyelamat Neraca Dagang RI Masih Surplus Secara Kumulatif

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 19:32 WIB

INDEF: Aturan Kemasan Polos Rokok Berpotensi Hilangkan 52,8 Ribu Lapangan Kerja

INDEF: Aturan Kemasan Polos Rokok Berpotensi Hilangkan 52,8 Ribu Lapangan Kerja

Bisnis | Jum'at, 03 Juli 2026 | 19:25 WIB

×