- Pemerintah meluncurkan bus hidrogen dan pengembangan koridor hijau Jakarta-Karawang-Patimban pada 21 Juli 2026 di Jakarta untuk transisi energi.
- Menteri ESDM menyatakan biaya produksi hidrogen masih tinggi sehingga belum mampu bersaing dengan bahan bakar minyak lainnya.
- Terdapat 93 inisiatif hidrogen senilai Rp32 triliun untuk mendukung sektor transportasi serta dedieselisasi listrik di daerah terpencil Indonesia.
Suara.com - Indonesia resmi memulai penerapan penggunaan hidrogen melalui peluncuran Pilot Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (Bus H2 DDF) serta pengembangan Green Hydrogen Corridor rute Jakarta-Karawang-Patimban sepanjang 194 kilometer. Kendati demikian, pemerintah mengakui biaya menjadi tantangan utama dalam pengembangan hidrogen sebagai energi baru terbarukan.
Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Selasa (21/7/2026).
Bahlil menegaskan, meskipun hidrogen berpotensi mendukung swasembada energi nasional di tengah gejolak geopolitik global, nilai keekonomiannya saat ini belum mampu bersaing dengan bahan bakar alternatif lain, termasuk biodiesel B50.
"Masih mahalnya energi berbasis hidrogen menjadi tantangan untuk kita semua dalam rangka bagaimana mendapatkan teknologi yang lebih efisien agar kompetitif," ujar Bahlil.
Meski demikian, ia optimistis harga hidrogen akan makin kompetitif seiring perkembangan teknologi serta makin sulitnya akses terhadap sumur minyak baru akibat konflik global.
"Keyakinan saya dengan perang terus terjadi, dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru, maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber-sumber BBM minyak lainnya," kata Bahlil.
Sementara itu Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mengungkapkan bahwa saat ini telah terdapat 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen di seluruh Indonesia.
"Saat ini kami mempunyai 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang proyek-proyeknya tersebar di seluruh Indonesia dan melahirkan investasi sebesar Rp32 triliun," ujar Eniya.
Selain sektor transportasi, hidrogen diarahkan untuk program dedieselisasi di daerah terpencil. Proyek percontohan di Pulau Sumba—yang ditargetkan beroperasi secara komersial pada 2028—serta di Pulau Rote diproyeksikan mampu menekan biaya produksi listrik dari 1 dolar AS menjadi 25 sen dolar AS per kilowatt hour (kWh).
Sebagai bentuk penerapan di sektor transportasi, pemerintah meluncurkan Bus H2 DDF hasil kerja sama Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), dan Perum DAMRI. Bus bermesin diesel Hino 6 silinder berkapasitas 7.684 cc tersebut dimodifikasi menggunakan 16 tabung penyimpanan hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter dengan tekanan kerja 150 bar.
Pengujian teknis dan verifikasi keamanan proyek percontohan ini dilakukan oleh PT SUCOFINDO (Persero) selaku lembaga inspeksi independen. Berdasarkan data pengujian SUCOFINDO, penggunaan sistem gabungan solar dan hidrogen tersebut berhasil menekan emisi opasitas sebesar 57,66 persen, karbon monoksida 45,45 persen, karbon dioksida 39,37 persen, serta nitrogen oksida sebesar 21,16 persen.
Skema modifikasi ini dipilih agar pengurangan emisi gas buang dan penghematan BBM solar dapat dilakukan tanpa harus mengganti seluruh armada bus yang beroperasi saat ini.