- PT Bank Mandiri Tbk mencatat laba bersih konsolidasi Rp30,4 triliun pada akhir Juni 2026, tumbuh 24,4 persen secara tahunan.
- Penyaluran kredit bank only mencapai Rp1.592 triliun atau meningkat 19,9 persen karena ditopang penghimpunan Dana Pihak Ketiga sebesar Rp1.710 triliun.
- Pertumbuhan kredit tersebut disalurkan untuk mendukung proyek strategis nasional, sektor komersial, serta memperluas akses pembiayaan UMKM di berbagai daerah.
Suara.com - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp30,4 triliun per akhir Juni 2026 atau tumbuh 24,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Adapun laba bersih secara bank only tercatat sebesar Rp28,5 triliun per akhir Juni 2026, tumbuh 25 persen (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp22,8 triliun.
Sementara itu penyaluran kredit juga tumbuh kuat dan berkualitas. Hingga Juni 2026, kredit bank only Bank Mandiri mencapai Rp1.592 triliun atau meningkat 19,9 persen secara tahunan, melampaui rata-rata pertumbuhan kredit industri perbankan yang sebesar 12,7 persen berdasarkan data Bank Indonesia (BI)
Direktur Utama Bank Mandiri Riduan mengatakan kinerja intermediasi tersebut ditopang oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus meningkat. DPK bank only Bank Mandiri tercatat sebesar Rp1.710 triliun atau tumbuh 17,1 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK industri yang sebesar 10,2 persen pada periode yang sama.
Apalagi, pertumbuhan kredit perseroan turut menggerakkan aktivitas ekonomi nasional melalui berbagai ekosistem usaha, mulai dari sektor pemerintahan, BUMN, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Pada ekosistem pemerintahan dan BUMN, Bank Mandiri menyalurkan kredit sebesar Rp489 triliun per Juni 2026 atau tumbuh 41,6 persen secara tahunan. Pembiayaan tersebut diarahkan untuk mendukung proyek strategis nasional, infrastruktur, energi, pertahanan, hingga layanan publik dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," katanya dalam paparan secara virtual, Kamis (23/7/2026).
Sementara itu, kredit usaha mikro tercatat mencapai Rp31,3 triliun atau meningkat 15,7 persen secara tahunan, sebagai upaya memperluas akses pembiayaan yang inklusif bagi masyarakat dan UMKM di berbagai daerah.
"Ini mencerminkan komitmen Bank Mandiri untuk terus hadir sebagai ekosistem penggerak ekonomi negeri, dari kota besar hingga ke pelosok daerah,” bebernya.
Peran Bank Mandiri dalam mendukung sektor riil juga tercermin dari pertumbuhan kredit komersial. Direktur Commercial Banking Bank Mandiri Totok Priyambodo menyampaikan, outstanding kredit komersial mencapai Rp343 triliun per Juni 2026 atau tumbuh 15,1 persen secara tahunan.
“Kami terus mengarahkan pembiayaan kepada sektor-sektor yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian nasional, termasuk perkebunan, hilirisasi, transportasi dan logistik, energi, serta berbagai sektor produktif lainnya. Dengan pendekatan tersebut, kami berharap pertumbuhan kredit tidak hanya mendorong ekspansi usaha nasabah, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi nasional secara lebih merata,” kata Totok.
Bank Mandiri juga menjaga daya saing suku bunga kredit di tengah ekspansi bisnis. Hal ini tercermin dari net interest margin (NIM) yang berada di level 4,37 persen per Juni 2026, dibandingkan 4,63 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Totok menegaskan, pertumbuhan laba tersebut merupakan hasil dari ekspansi kredit yang berkualitas dan berorientasi pada sektor produktif.
“Pencapaian laba ini adalah hasil dari kualitas ekspansi kredit yang kami jaga, dengan penyaluran yang difokuskan ke sektor produktif dan padat karya, sehingga berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Totok.