- Indeks Harga Saham Gabungan dibuka menguat ke level 6.141 pada Rabu, 29 Juli 2026.
- Pergerakan IHSG diperkirakan terbatas akibat sikap menunggu investor terhadap hasil rapat The Fed.
- BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan tiga saham pilihan di tengah dinamika pasar tersebut.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menghijau pada pembukaan, Rabu, 29 Juli 2026. IHSG diibuka menguat ke level 6.141.
Mengutip data Stockbit, hingga pukul 09.05 WIB, IHSG masih melonjak ke level 6.167 atau menguat 0,59 persen.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 1,61 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp 663,93 miliar serta frekuensi sebesar 111.520 kali.
Di waktu itu, terdapat 358 saham menghijau, sedangkan, 154 saham merosot. Sisanya, 453 saham masih belum bergerak alias stagnan.
![Ilustrasi perdagangan sesi I IHSG hari ini [Ist/Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/09/15/33629-ilustrasi-ihsg-bursa-efek-indonesia.jpg)
Adapun, berikut beberpa saham yang Top Gainer dan Loser di waktu itu:
Top Gainer
- MTWI
- TFAS
- ALDO
- ZONE
- SAPX
Top Loser
- MCAS
- KDTM
- BAJA
- KOBX
- HBAT
Proyeksi IHSG
IHSG diperkirakan masih cenderung terbatas pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Pelaku pasar memilih bersikap wait and see menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang akan menjadi penentu arah sentimen pasar global.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebutkan, secara teknikal IHSG masih memiliki bias melemah dengan area support di level 6.100 hingga 6.040, sementara resistance berada pada kisaran 6.200 hingga 6.268.
"Secara teknikal, IHSG diperkirakan masih bergerak terbatas dengan bias melemah, di kisaran support 6.100–6.040 dan resistance 6.200–6.268. Area support tersebut menjadi level penting untuk menjaga peluang technical rebound dalam jangka pendek," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya, Rabu (29/7/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,89 persen ke level 6.130,59. Pelemahan indeks dipicu meningkatnya sikap hati-hati investor menjelang keputusan suku bunga The Fed.
Selain itu, tekanan juga datang dari aksi jual pada saham-saham sektor perbankan dan properti. Sentimen domestik turut dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS), serta ketidakpastian terkait penunjukan Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif.
Dari eksternal, pasar global akan mencermati hasil rapat FOMC. The Fed diperkirakan masih mempertahankan suku bunga acuan atau Fed Funds Rate di level 3,75 persen.
Meski demikian, perhatian utama investor bukan hanya pada keputusan suku bunga, melainkan juga pernyataan atau forward guidance The Fed mengenai arah kebijakan moneter ke depan.