- Sektor tambang jadi satu-satunya yang minus pada triwulan II 2026.
- Batu bara terkontraksi 1,41% akibat penataan kuota produksi RKAB.
- Bijih logam anjlok 9,42%, menekan kinerja pertambangan nasional.
Suara.com - Implementasi kebijakan penataan produksi dan pembatasan pasokan batu bara mulai tercermin pada kinerja sektor pertambangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lapangan usaha pertambangan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami kontraksi pada triwulan II 2026, meski ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud mengungkapkan sektor pertambangan menyusut 1,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan seluruh lapangan usaha lainnya yang masih membukukan pertumbuhan positif.
"Pada triwulan II-2026, secara year-on-year seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan," ujar Edy dalam konferensi pers di Kantor BPS RI, Selasa (5/8/2026).
Tekanan terbesar berasal dari pertambangan bijih logam yang anjlok 9,42 persen akibat penurunan produksi bijih bauksit, timah, dan nikel. Penurunan tersebut juga diperburuk oleh belum pulihnya operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave di Papua Tengah setelah insiden longsor pada September 2025.
Di sisi lain, pertambangan batu bara dan lignit ikut mengalami kontraksi 1,41 persen. BPS menyebut kondisi tersebut dipengaruhi penataan kuota produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025–2027 yang diterapkan pemerintah untuk menjaga keseimbangan pasokan dan menopang harga batu bara di pasar global.
Kontraksi juga terjadi pada sektor minyak, gas, dan panas bumi yang turun 2,15 persen akibat penurunan alami produktivitas sumur migas serta minimnya penemuan cadangan baru.
Merosotnya sektor pertambangan menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian produksi dan berbagai tantangan operasional masih menjadi beban bagi industri ekstraktif nasional. Di saat sektor lain menikmati pemulihan ekonomi, pertambangan justru menjadi titik lemah yang menahan laju ekspansi sektor primer.
Sebaliknya, BPS mencatat pengadaan listrik dan gas tumbuh 10,81 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum naik 10,60 persen, serta informasi dan komunikasi meningkat 6,97 persen. Dari sisi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan sumber pertumbuhan 0,90 persen, disusul perdagangan 0,83 persen, konstruksi 0,62 persen, dan informasi serta komunikasi 0,48 persen.