Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.351,139
LQ45 633,989
Srikehati 307,930
JII 383,125
USD/IDR 17.932

Rupiah Rp18.000 Diam-Diam Memangkas Laba Emiten

Mohammad Fadil Djailani, Fakhri Fuadi Muflih

Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:55 WIB
Rupiah Rp18.000 Diam-Diam Memangkas Laba Emiten
Pelemahan rupiah yang bertahan di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar Amerika Serikat mulai memunculkan korban di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Desain Suara.com/AI
baca 10 detik
  • Rupiah Rp18.000 diam-diam memangkas laba emiten lewat rugi kurs.
  • Indofood jadi bukti penjualan naik, tetapi laba bersih justru anjlok.
  • Importir tertekan, eksportir komoditas justru diuntungkan rupiah lemah.

Suara.com - Pelemahan rupiah yang bertahan di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar Amerika Serikat mulai memunculkan korban di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Dampaknya memang tidak langsung terlihat dari sisi penjualan, tetapi mulai menggerus laba bersih sejumlah emiten melalui satu pos yang kerap luput dari perhatian investor: rugi selisih kurs.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa perusahaan tidak harus mengalami penurunan pendapatan untuk mencatat laba yang lebih kecil. Justru di tengah penjualan yang masih tumbuh, pelemahan rupiah mampu menggerus keuntungan akibat membengkaknya kewajiban dalam mata uang dolar AS.

Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menilai pasar tidak bisa menggeneralisasi pelemahan rupiah sebagai kabar buruk bagi seluruh emiten. Efeknya sangat bergantung pada struktur bisnis dan sumber pendanaan masing-masing perusahaan.

"Yang dirugikan itu ada dua. Pertama perusahaan yang banyak impor, kedua perusahaan yang punya utang dalam mata uang dolar," ujar Teguh kepada Suara.com, Kamis (6/8/2026).

Mengapa laba bisa turun padahal penjualan naik?

Banyak investor ritel menganggap kenaikan penjualan otomatis berujung pada kenaikan laba. Namun laporan keuangan semester I-2026 justru menunjukkan kenyataan berbeda.

Pelemahan rupiah membuat perusahaan harus mencatat nilai utang dolar dalam rupiah yang lebih besar dibanding sebelumnya. Selisih kenaikan tersebut dibukukan sebagai rugi kurs yang langsung mengurangi laba bersih.

"Nilai utangnya dicatat di laporan keuangan dalam rupiah. Karena rupiahnya melemah, nilainya naik. Selisihnya kemudian dicatat sebagai rugi kurs. Kemudian itu membuat laba bersih turun," jelas Teguh.

Artinya, meski aktivitas operasional perusahaan tetap berjalan baik, keuntungan bersih dapat tertekan hanya karena perubahan nilai tukar.

baca juga

Kasus Indofood menjadi alarm pertama

Kondisi tersebut mulai terlihat pada Grup Indofood.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih membukukan pertumbuhan penjualan sekitar 11 persen menjadi Rp41,86 triliun pada semester I-2026. Laba usaha juga meningkat menjadi Rp9,15 triliun.

Namun di balik kinerja operasional yang solid, laba bersih justru anjlok sekitar 33 persen menjadi Rp3,7 triliun setelah perusahaan mencatat rugi selisih kurs yang membengkak akibat pelemahan rupiah.

Fenomena serupa juga terjadi pada PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Pendapatan dan laba usaha masih tumbuh, tetapi laba bersih ikut tertekan karena kenaikan beban rugi kurs dari kewajiban dalam mata uang asing.

Kasus dua emiten tersebut menunjukkan pelemahan rupiah tidak selalu menghantam permintaan konsumen, tetapi mampu menggerus keuntungan melalui jalur keuangan.

Sektor mana yang paling rentan?

Jika rupiah bertahan di sekitar Rp18.000 per dolar AS dalam jangka panjang, sejumlah sektor diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar.

Industri farmasi menjadi salah satu yang paling rentan karena mayoritas bahan baku obat masih berasal dari impor. Kenaikan biaya produksi berpotensi menekan margin laba apabila perusahaan tidak mampu menaikkan harga jual secara seimbang.

Risiko juga membayangi perusahaan manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, terutama industri plastik, kemasan, hingga petrokimia. Beban produksi berpotensi meningkat seiring mahalnya harga bahan baku.

Sementara itu, emiten properti yang masih memiliki pinjaman atau obligasi dalam dolar AS juga menghadapi ancaman rugi kurs apabila belum memiliki strategi lindung nilai (hedging) yang memadai.

Tidak separah krisis masa lalu

Meski demikian, Teguh menilai kondisi saat ini belum mengarah pada tekanan sistemik seperti yang pernah terjadi dua dekade lalu.

Menurutnya, mayoritas perusahaan besar kini jauh lebih berhati-hati dalam menarik pinjaman luar negeri sehingga eksposur utang dolar jauh lebih rendah dibanding masa lalu.

"Kalau perusahaan yang punya utang dolar sekarang tidak banyak. Yang lebih banyak terdampak justru perusahaan yang impor," katanya.

Artinya, ancaman terbesar saat ini bergeser dari sisi utang menjadi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Ada juga pihak yang menikmati rupiah lemah

Di balik tekanan terhadap perusahaan importir, pelemahan rupiah justru menjadi angin segar bagi emiten berbasis ekspor.

Perusahaan batu bara, nikel, timah hingga minyak sawit memperoleh pendapatan dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasional dibayar menggunakan rupiah. Kombinasi tersebut membuat margin keuntungan mereka justru berpotensi meningkat ketika rupiah melemah.

Karena itu, pelemahan nilai tukar menciptakan pemenang dan pecundang di pasar saham. Investor dituntut lebih cermat membaca struktur pendapatan, komposisi biaya, serta profil utang setiap emiten, bukan sekadar melihat pertumbuhan penjualan.

Teguh pun menilai pasar perlahan mulai menyesuaikan diri dengan level kurs saat ini.

"Kalau rupiah bertahan di sekitar Rp18.000 dan tidak melemah lagi ke Rp19.000, pasar lama-lama akan terbiasa. Orang kemudian akan optimistis lagi dan pasar saham bisa naik lagi," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rupiah Perkasa di Tengah Pelemahan Dolar AS, Dibuka Menguat ke Rp17.912

Rupiah Perkasa di Tengah Pelemahan Dolar AS, Dibuka Menguat ke Rp17.912

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 09:28 WIB

Rupiah Perkasa ke Rp17.933 per Dolar AS, Damai Timur Tengah dan Ekonomi RI Jadi Pendorong

Rupiah Perkasa ke Rp17.933 per Dolar AS, Damai Timur Tengah dan Ekonomi RI Jadi Pendorong

Bisnis | Rabu, 05 Agustus 2026 | 16:07 WIB

Rupiah Bangkit, Dolar AS Mulai Turun ke Level Rp17.974

Rupiah Bangkit, Dolar AS Mulai Turun ke Level Rp17.974

Bisnis | Rabu, 05 Agustus 2026 | 09:37 WIB

Terkini

Build Hero Gord Tersakit di MLBB, Biar Winrate Naik Signifikan!

Build Hero Gord Tersakit di MLBB, Biar Winrate Naik Signifikan!

Tekno | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:55 WIB

Rupiah Rp18.000 Diam-Diam Memangkas Laba Emiten

Rupiah Rp18.000 Diam-Diam Memangkas Laba Emiten

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:55 WIB

CKG 2026 Temukan 1 Juta Kasus Hipertensi Baru pada Peserta yang Tahun Lalu Dinyatakan Sehat

CKG 2026 Temukan 1 Juta Kasus Hipertensi Baru pada Peserta yang Tahun Lalu Dinyatakan Sehat

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:50 WIB

Bebas Bahan Iritan, 4 Pilihan Body Lotion Fragrance-Free untuk Kulit Eksim

Bebas Bahan Iritan, 4 Pilihan Body Lotion Fragrance-Free untuk Kulit Eksim

Your Say | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:50 WIB

Yang Tersisa dari Gempa Venezuela, Kamar Mayat Penuh Hingga Ibu Masih Cari Jasad Anaknya

Yang Tersisa dari Gempa Venezuela, Kamar Mayat Penuh Hingga Ibu Masih Cari Jasad Anaknya

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:42 WIB

Jadi yang Terbanyak di Indonesia, Apa Kelemahan Zodiak Cancer? Ini Sisi yang Sering Disalahpahami

Jadi yang Terbanyak di Indonesia, Apa Kelemahan Zodiak Cancer? Ini Sisi yang Sering Disalahpahami

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:39 WIB

Purbaya Heran Penduduk RI 5 Kali Lebih Banyak, Tapi Penjualan Mobil Kalah dari Malaysia

Purbaya Heran Penduduk RI 5 Kali Lebih Banyak, Tapi Penjualan Mobil Kalah dari Malaysia

Bisnis | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:38 WIB

4 Rekomendasi Sepatu Lari Nike Terbaik untuk Daily Run, Nyaman dan Empuk

4 Rekomendasi Sepatu Lari Nike Terbaik untuk Daily Run, Nyaman dan Empuk

Lifestyle | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:37 WIB

IPK Tinggi Bukan Jaminan: Mengapa Anak Pintar Sering Tertinggal dari yang Biasa Saja?

IPK Tinggi Bukan Jaminan: Mengapa Anak Pintar Sering Tertinggal dari yang Biasa Saja?

Your Say | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:36 WIB

Harta Kekayaan Raja Juli Antoni, Menhut yang Terseret Kasus Gratifikasi Bupati Kuansing

Harta Kekayaan Raja Juli Antoni, Menhut yang Terseret Kasus Gratifikasi Bupati Kuansing

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 14:34 WIB

×