- Rupiah Rp18.000 diam-diam memangkas laba emiten lewat rugi kurs.
- Indofood jadi bukti penjualan naik, tetapi laba bersih justru anjlok.
- Importir tertekan, eksportir komoditas justru diuntungkan rupiah lemah.
Suara.com - Pelemahan rupiah yang bertahan di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar Amerika Serikat mulai memunculkan korban di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Dampaknya memang tidak langsung terlihat dari sisi penjualan, tetapi mulai menggerus laba bersih sejumlah emiten melalui satu pos yang kerap luput dari perhatian investor: rugi selisih kurs.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa perusahaan tidak harus mengalami penurunan pendapatan untuk mencatat laba yang lebih kecil. Justru di tengah penjualan yang masih tumbuh, pelemahan rupiah mampu menggerus keuntungan akibat membengkaknya kewajiban dalam mata uang dolar AS.
Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menilai pasar tidak bisa menggeneralisasi pelemahan rupiah sebagai kabar buruk bagi seluruh emiten. Efeknya sangat bergantung pada struktur bisnis dan sumber pendanaan masing-masing perusahaan.
"Yang dirugikan itu ada dua. Pertama perusahaan yang banyak impor, kedua perusahaan yang punya utang dalam mata uang dolar," ujar Teguh kepada Suara.com, Kamis (6/8/2026).
Mengapa laba bisa turun padahal penjualan naik?
Banyak investor ritel menganggap kenaikan penjualan otomatis berujung pada kenaikan laba. Namun laporan keuangan semester I-2026 justru menunjukkan kenyataan berbeda.
Pelemahan rupiah membuat perusahaan harus mencatat nilai utang dolar dalam rupiah yang lebih besar dibanding sebelumnya. Selisih kenaikan tersebut dibukukan sebagai rugi kurs yang langsung mengurangi laba bersih.
"Nilai utangnya dicatat di laporan keuangan dalam rupiah. Karena rupiahnya melemah, nilainya naik. Selisihnya kemudian dicatat sebagai rugi kurs. Kemudian itu membuat laba bersih turun," jelas Teguh.
Artinya, meski aktivitas operasional perusahaan tetap berjalan baik, keuntungan bersih dapat tertekan hanya karena perubahan nilai tukar.
Kasus Indofood menjadi alarm pertama
Kondisi tersebut mulai terlihat pada Grup Indofood.
PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih membukukan pertumbuhan penjualan sekitar 11 persen menjadi Rp41,86 triliun pada semester I-2026. Laba usaha juga meningkat menjadi Rp9,15 triliun.
Namun di balik kinerja operasional yang solid, laba bersih justru anjlok sekitar 33 persen menjadi Rp3,7 triliun setelah perusahaan mencatat rugi selisih kurs yang membengkak akibat pelemahan rupiah.
Fenomena serupa juga terjadi pada PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). Pendapatan dan laba usaha masih tumbuh, tetapi laba bersih ikut tertekan karena kenaikan beban rugi kurs dari kewajiban dalam mata uang asing.
Kasus dua emiten tersebut menunjukkan pelemahan rupiah tidak selalu menghantam permintaan konsumen, tetapi mampu menggerus keuntungan melalui jalur keuangan.
Sektor mana yang paling rentan?
Jika rupiah bertahan di sekitar Rp18.000 per dolar AS dalam jangka panjang, sejumlah sektor diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar.
Industri farmasi menjadi salah satu yang paling rentan karena mayoritas bahan baku obat masih berasal dari impor. Kenaikan biaya produksi berpotensi menekan margin laba apabila perusahaan tidak mampu menaikkan harga jual secara seimbang.
Risiko juga membayangi perusahaan manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, terutama industri plastik, kemasan, hingga petrokimia. Beban produksi berpotensi meningkat seiring mahalnya harga bahan baku.
Sementara itu, emiten properti yang masih memiliki pinjaman atau obligasi dalam dolar AS juga menghadapi ancaman rugi kurs apabila belum memiliki strategi lindung nilai (hedging) yang memadai.
Tidak separah krisis masa lalu
Meski demikian, Teguh menilai kondisi saat ini belum mengarah pada tekanan sistemik seperti yang pernah terjadi dua dekade lalu.
Menurutnya, mayoritas perusahaan besar kini jauh lebih berhati-hati dalam menarik pinjaman luar negeri sehingga eksposur utang dolar jauh lebih rendah dibanding masa lalu.
"Kalau perusahaan yang punya utang dolar sekarang tidak banyak. Yang lebih banyak terdampak justru perusahaan yang impor," katanya.
Artinya, ancaman terbesar saat ini bergeser dari sisi utang menjadi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Ada juga pihak yang menikmati rupiah lemah
Di balik tekanan terhadap perusahaan importir, pelemahan rupiah justru menjadi angin segar bagi emiten berbasis ekspor.
Perusahaan batu bara, nikel, timah hingga minyak sawit memperoleh pendapatan dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasional dibayar menggunakan rupiah. Kombinasi tersebut membuat margin keuntungan mereka justru berpotensi meningkat ketika rupiah melemah.
Karena itu, pelemahan nilai tukar menciptakan pemenang dan pecundang di pasar saham. Investor dituntut lebih cermat membaca struktur pendapatan, komposisi biaya, serta profil utang setiap emiten, bukan sekadar melihat pertumbuhan penjualan.
Teguh pun menilai pasar perlahan mulai menyesuaikan diri dengan level kurs saat ini.
"Kalau rupiah bertahan di sekitar Rp18.000 dan tidak melemah lagi ke Rp19.000, pasar lama-lama akan terbiasa. Orang kemudian akan optimistis lagi dan pasar saham bisa naik lagi," pungkasnya.