- Rupiah menguat ke level Rp17.912 per dolar AS di pasar keuangan pada Kamis, 6 Agustus 2026.
- Penguatan rupiah dipicu oleh penurunan harga minyak dunia serta data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat.
- Seluruh mata uang di kawasan Asia turut mencatatkan penguatan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat.
Suara.com - Mata uang Indonesi terus mencatat positif di pasar keuangan. Adapun, rupiah terus bangkit terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Kamis 6 Agustus 2026 dibuka ke level Rp17.912 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menguat 21 poin atau 0,12 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp17.933 dolar AS.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah didorong oleh penurunan harga minyak dunia.
"Rupiah menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia oleh meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia menambahkan, data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua juga memberikan sentimen positif terhadap rupiah. Sehingga, mata uang Garuda masih akan terus menguat.
"Data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan juga masih akan mendukung rupiah. Range Rp17.850-Rp18.000," jelasnya.
![Ilustrasi Won Korea. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/02/83468-ilustrasi-won-korea.jpg)
Saat ini, mata uang Asia kompak menguat terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea mencatat penguatan terbesar yakni 0,36 persen, disusul dolar Taiwan yang menguat 0,27 persen. Lalu ada ringgit Malaysia menguat 0,13 persen, baht Thailand menguat 0,13 persen.
Diikuti peso Filipina menguat 0,10 persen, yen Jepang menguat 0,05 persen, dolar Singapura menguat 0,05 persen, yuan China menguat 0,02 persen dan dolar Hong Kong yang menguat 0,01 persen terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,66, turun dari sehari sebelumnya yang ada di 99,67.