- Rupiah ditutup menguat ke Rp17.896 per dolar AS.
- Data ekonomi dan dana asing menopang rupiah.
- Pasar menanti data AS dan survei konsumen RI.
Suara.com - Rupiah berhasil membalikkan keadaan di penghujung perdagangan Jumat (7/8/2026). Setelah sempat tertekan pada perdagangan pagi, mata uang Garuda akhirnya ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), didorong membaiknya sentimen domestik dan derasnya aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.896 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.923 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah tidak lepas dari membaiknya persepsi investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Sejumlah indikator ekonomi yang dirilis belakangan dinilai masih solid dan berhasil menarik kembali minat investor asing.
"Rupiah ditutup sedikit menguat terhadap dolar AS, didukung membaiknya sentimen oleh data ekonomi domestik yang solid akhir-akhir ini dan inflow dana asing di SBN maupun ekuitas di bulan Juli," ujar Lukman kepada Suara.com.
Menurutnya, data cadangan devisa Indonesia yang hanya turun tipis pada Juli juga tidak memberikan tekanan berarti terhadap pergerakan rupiah. Dari sisi eksternal, kondisi dolar AS yang cenderung bergerak datar serta koreksi harga minyak dunia turut membantu menopang penguatan mata uang domestik.
Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting dalam waktu dekat. Pada Senin mendatang, perhatian investor akan tertuju pada hasil Survei Kepercayaan Konsumen Indonesia yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi konsumsi domestik.
Sementara itu, pada Jumat malam waktu Indonesia, pasar global akan fokus pada rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Untuk Senin investor akan mencermati survei kepercayaan konsumen Indonesia. Sebelumnya malam ini perhatian akan tertuju pada rilis data penting AS, jadi rupiah bisa bergerak di kisaran Rp17.850-Rp17.950," jelas Lukman.
Di kawasan Asia, mayoritas mata uang juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan mencatatkan penguatan terbesar dengan kenaikan 0,30 persen.
Di belakangnya, dolar Singapura menguat 0,15 persen, baht Thailand naik 0,11 persen, sementara yuan China bertambah tipis 0,03 persen.
Sebaliknya, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah turun 0,23 persen. Dolar Taiwan juga terkoreksi 0,17 persen pada penutupan perdagangan.
Penguatan rupiah di tengah sentimen global yang masih dinamis memberikan sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap aset domestik masih terjaga. Namun, arah pergerakan mata uang Garuda pada awal pekan depan masih akan sangat dipengaruhi oleh data ekonomi Indonesia maupun Amerika Serikat.