-
Dolar AS menguat akibat kebuntuan negosiasi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
-
Spekulasi kenaikan suku bunga Fed bulan September makin kuat dipicu kenaikan harga minyak dunia.
-
Pasar keuangan global kini menanti rilis data resmi laporan tenaga kerja bulanan Amerika Serikat.
Suara.com - Ketidakpastian negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu aksi pemburu modal mengamankan dana ke dolar AS. Kondisi ini membuat nilai tukar mata uang Paman Sam merangkak naik terhadap yen maupun euro pada perdagangan Jumat.
Spekulasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) pada September mendatang turut memberi dorongan ekstra bagi penguatan tersebut. Laporan pasar tenaga kerja bulanan yang segera dirilis menjadi penentu arah kebijakan moneter AS selanjutnya.
Ketegangan geopolitik Timur Tengah yang belum mereda secara instan mengikis optimisme investor di pasar uang global. Situasi ini langsung menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah AS sekaligus menguntungkan posisi mata uang dolar.

Pada sesi pagi di Asia, posisi dolar AS merambat naik hingga menyentuh level 158,505 yen. Pencapaian ini melanjutkan tren positif harian sebesar 0,4 persen yang dicatat pada hari Kamis sebelumnya.
Penguatan tersebut sekaligus memulihkan posisi dolar AS setelah sempat anjlok ke level terendah 13 minggu di angka 155,20 yen. Kejatuhan tajam sebelumnya terjadi akibat adanya intervensi bersama antara pemerintah Jepang dan Amerika Serikat.
Terhadap mata uang euro, dolar AS juga menguat tipis ke posisi 1,1521 dolar AS per euro. Pergerakan positif ini meneruskan tren penguatan sekitar 0,3 persen dari sesi perdagangan harian sebelumnya.
Kekhawatiran pasar berlanjut setelah muncul laporan rancangan kesepakatan Iran dan Oman terkait lalu lintas Selat Hormuz. Opsi pemberian kendali navigasi kapal kepada Teheran memicu respons hati-hati dari pihak Washington.
Pemerintah AS menegaskan tidak akan menyerahkan kendali jalur energi terpenting dunia tersebut kepada pihak Iran. Perselisihan hak akses Selat Hormuz ini langsung memicu respons spontan pada komoditas minyak mentah dunia.
Harga minyak mentah jenis Brent merangkak naik melebihi satu dolar hingga menembus $83,55 per barel. Ancaman lonjakan inflasi energi ini memicu tekanan baru pada pasar obligasi pemerintah AS.
"USD ditopang oleh kenaikan harga minyak (setelah) kabar bahwa kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali selat tersebut ternyata lebih jauh dari yang diharapkan," kata Kristina Clifton, ekonom di Commonwealth Bank of Australia.
Laporan pers media internasional menyebut Ketua The Fed Kevin Warsh membuka peluang kenaikan suku bunga pada September jika inflasi memburuk. Namun, sebagian analis memperkirakan kebijakan pengetatan moneter baru akan diambil pada akhir tahun.
"Kami memperkirakan Fed akan menunggu hingga Desember sebelum memulai siklus pengetatan yang moderat," kata Clifton menambahkan.
Meskipun internal The Fed sempat terbelah hingga menahan suku bunga bulan lalu, komitmen meredam inflasi tetap menjadi prioritas utama. Sikap tegas otoritas moneter ini ditunggu pembuktiannya lewat rilis data ketenagakerjaan terkini.
Survei ekonom memperkirakan penyerapan tenaga kerja non-pertanian AS meningkat sebanyak 80.000 pekerjaan sepanjang bulan lalu. Angka proyeksi ini melonjak dibanding realisasi penambahan bulan Juni yang berada di angka 57.000.
Sementara itu, tingkat pengangguran di Amerika Serikat diproyeksikan bertahan stabil pada level 4,2 persen. Kepastian angka-angka ini sangat menentukan langkah lanjutan para pelaku pasar finansial dunia.