- Sejumlah riset menemukan toksikan produk alternatif lebih rendah dari rokok.
- Studi Bern dan JAMA menunjukkan vape berpotensi bantu perokok dewasa berhenti.
- BRIN menemukan toksikan produk tembakau dipanaskan turun hingga 80-90%.
3. Studi JAMA: Vape Jadi Alat Berhenti Merokok yang Banyak Digunakan
Penelitian lain yang diterbitkan JAMA Network pada Januari 2025 turut menunjukkan perubahan pola perokok dewasa di Inggris.
Dalam penelitian berjudul Prevalence of Popular Smoking Cessation Aids in England and Associations With Quit Success, rokok elektronik menjadi metode yang paling banyak digunakan dalam upaya berhenti merokok selama periode 2023-2024.
Sebanyak 40,2 persen upaya berhenti merokok dilakukan dengan bantuan rokok elektronik.
Studi tersebut juga menemukan upaya berhenti merokok yang dibantu rokok elektronik memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan terapi pengganti nikotin atau nicotine replacement therapy (NRT).
"Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan beralih dari kebiasaan merokok dapat meningkat dengan mendorong penggunaan metode yang lebih efektif," tulis penelitian tersebut.
Temuan ini memperlihatkan bahwa rokok elektronik telah menjadi salah satu alat yang digunakan sebagian perokok dewasa dalam proses transisi dari rokok konvensional.
4. Penelitian BRIN: Toksikan Lebih Rendah karena Tanpa Pembakaran
Indonesia juga memiliki penelitian terkait profil toksikan produk tembakau alternatif.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penelitian Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants pada 2025 menemukan kadar sejumlah toksikan pada rokok elektronik lebih rendah dibandingkan rokok berdasarkan pengujian terhadap sembilan toksikan utama yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
BRIN juga melakukan penelitian terhadap produk tembakau yang dipanaskan. Hasilnya menunjukkan adanya potensi penurunan paparan zat berbahaya dibandingkan rokok konvensional.
Peneliti BRIN Prof. Bambang Prasetya mengatakan hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan paparan berbagai toksikan pada produk tembakau yang dipanaskan.
"Studi pada produk tembakau yang dipanaskan menunjukkan secara konsisten penurunan zat toksikan berisiko terhadap kesehatan hingga 80-90 persen dibandingkan rokok," jelas Bambang.
Bukan Tanpa Risiko
Rangkaian penelitian tersebut menunjukkan pola yang relatif konsisten: produk tembakau alternatif tidak menghasilkan asap dari pembakaran tembakau seperti rokok konvensional sehingga paparan sejumlah toksikan dapat lebih rendah.
Namun, temuan tersebut tidak berarti produk tembakau alternatif sepenuhnya aman.
Produk yang mengandung nikotin tetap memiliki risiko dan bukan pilihan bagi nonperokok, terutama anak-anak dan remaja. Karena itu, pendekatan pengurangan risiko ditujukan pada perokok dewasa yang sudah merokok dan kesulitan berhenti.
Dengan semakin banyaknya penelitian dari berbagai negara, perdebatan mengenai produk tembakau alternatif kini tidak hanya berkutat pada apakah produk tersebut aman atau tidak, tetapi juga bagaimana profil risikonya dibandingkan rokok dan apakah produk tersebut dapat membantu perokok dewasa beralih.