- IHSG ditutup menguat 1,04 persen di level 6.409,654 pada perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026.
- Investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp1,24 triliun pada berbagai saham berkapitalisasi besar.
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mencatatkan nilai beli bersih asing tertinggi sebesar Rp506,88 miliar.
Suara.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan pertama bulan ini dengan performa yang sangat mengesankan. Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), IHSG berhasil ditutup menguat signifikan sebesar 1,04 persen, membawanya parkir nyaman di level 6.409,654.
Lonjakan indeks bursa domestik ini sejalan dengan kembalinya agresivitas investor asing dalam mengakumulasi portofolio saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Data pergerakan investor asing dan statistik perdagangan BEI menunjukkan bahwa total nilai beli bersih atau net foreign buy pada hari perdagangan tersebut mencapai angka Rp1,24 triliun.
Arus modal asing yang masuk dengan deras ini mayoritas menyasar saham-saham big caps di sektor perbankan, petrokimia, pertambangan, telekomunikasi, hingga energi.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) keluar sebagai primadona incaran utama para pemodal asing. Bank pelat merah yang memiliki fokus besar pada segmen UMKM ini mencatatkan nilai beli bersih asing paling tinggi, menembus angka Rp506,88 miliar.
Besarnya minat asing terhadap saham perbankan ini menjadikannya sebagai motor penggerak utama alias kontributor terbesar terhadap kenaikan IHSG dengan sumbangan sebesar 13,14 poin.
Selain BBRI, emiten lain yang turut memberikan dorongan poin cukup signifikan terhadap laju IHSG adalah PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) sebesar 5,64 poin dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar 5,54 poin.
Sektor infrastruktur menjadi bintang panggung dengan membukukan penguatan terbesar yakni 2,17 persen, sementara sektor barang konsumen non-primer menjadi satu-satunya yang tertekan dengan pelemahan 0,69 persen.
Berikut adalah daftar rincian 10 emiten yang paling banyak diborong oleh investor asing berdasarkan nilai net foreign buy pada perdagangan Jumat (7/8/2026):
BBRI (PT Bank Rakyat Indonesia Tbk): Rp506,88 miliar
TPIA (PT Chandra Asri Pacific Tbk): Rp275,85 miliar
ANTM (PT Aneka Tambang Tbk): Rp147,37 miliar
TINS (PT Timah Tbk): Rp132,01 miliar
BRPT (PT Barito Pacific Tbk): Rp120,51 miliar
ISAT (PT Indosat Tbk): Rp60,43 miliar
ICBP (PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk): Rp43,09 miliar
DSSA (PT Dian Swastatika Sentosa Tbk): Rp39,45 miliar
BREN (PT Barito Renewables Energy Tbk): Rp38,62 miliar
AMMN (PT Amman Mineral Internasional Tbk): Rp32,20 miliar
Di tengah derasnya arus dana masuk, sebagian investor asing juga melakukan penyesuaian portofolio dengan merealisasikan aksi jual bersih (net foreign sell) pada sejumlah saham lainnya. Menariknya, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) justru memimpin daftar saham yang paling banyak dilepas asing.
Berikut adalah deretan 10 emiten yang paling banyak dilepas oleh investor asing pada periode yang sama:
BBCA (PT Bank Central Asia Tbk): Rp93,08 miliar
BULL (PT Buana Lintas Lautan Tbk): Rp69,35 miliar
BMRI (PT Bank Mandiri Tbk): Rp60,43 miliar
EMAS (PT Bumi Resources Minerals Tbk): Rp36,22 miliar
UNTR (PT United Tractors Tbk): Rp27,78 miliar
CPIN (PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk): Rp27,26 miliar
BACH (PT Bank Amar Indonesia Tbk): Rp26,92 miliar
ASII (PT Astra International Tbk): Rp26,69 miliar
KOTA (PT DMS Propertindo Tbk): Rp25,99 miliar
LPKR (PT Lippo Karawaci Tbk): Rp23,83 miliar
Secara keseluruhan, gairah pasar modal domestik berdenyut cukup kencang dengan mencatatkan nilai transaksi saham mencapai Rp16,45 triliun.
Volume perdagangan yang bergulir mencapai 36,88 miliar lembar saham, melibatkan frekuensi transaksi sebanyak 2,19 juta kali. Kapitalisasi pasar bursa pun ikut terkerek, kokoh di angka Rp11.212 triliun.
Penguatan pasar saham ini tidak lepas dari kondisi makroekonomi yang turut mewarnai pergerakan pasar. Nilai tukar Rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,15 persen dan berada di level Rp17.897 per dolar Amerika Serikat.
Di sisi lain, Bank Indonesia merilis data cadangan devisa periode Juli 2026 yang tercatat sebesar US$145,3 miliar, sedikit mengalami penurunan dibandingkan bulan Juni 2026 yang berada di posisi US$145,6 miliar. Terkikisnya tipis cadangan devisa ini utamanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah intervensi Bank Indonesia guna memitigasi pelemahan mata uang garuda.
Dari sektor riil, indikator harga properti residensial di Indonesia turut menunjukkan sentimen positif dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,69 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II-2026. Pertumbuhan moderat ini sedikit lebih kencang dibandingkan kuartal I-2026 yang berada di angka 0,62 persen, didorong oleh penguatan permintaan pasar properti di beberapa kota besar.
Disclaimer: Artikel ini disajikan semata-mata untuk tujuan penyampaian informasi jurnalistik dan literasi keuangan bagi masyarakat. Seluruh data perdagangan saham, nilai indeks, dan analisis pergerakan pasar merujuk pada informasi yang berlaku pada saat penulisan dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika pasar modal. Isi pemberitaan ini bukan merupakan saran, rekomendasi mutlak, atau ajakan untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab penuh masing-masing investor.