- Aviation Fuel Terminal Hang Nadim jalankan Program Kampung Bahari Si Pelaut untuk memberdayakan nelayan dan warga Batam.
- Pelatihan budidaya serta diversifikasi produk hasil laut berhasil meningkatkan pendapatan warga pesisir secara signifikan.
- Program pemberdayaan ini juga mencatatkan keberhasilan dalam merehabilitasi lingkungan pesisir serta mengelola sampah secara berkelanjutan.
Suara.com - Pengembangan UMKM terbukti meningkatkan pendapatan bagi para pelaku usaha. Hal ini terjadi oleh UMKM nelayan di pesisir Kampung Tua Terih, Batam yang cuannya melonjak setelah diversifikasi.
Melalui Program Community Involvement & Development (CID) Kampung Bahari Si Pelaut, para nelayan dan warga sekitar diajarkan pengembangan budidaya perikanan, pengolahan hasil laut, hingga penguatan kapasitas usaha masyarakat.
Hasilnya, pendapatan kelompok nelayan dan UMKM perempuan dari semula Rp27,56 juta menjadi Rp68,45 juta, atau rata-rata naik sekitar 40 persen per anggota. Program ini dicetuskan oleh PT Pertamina Patra Niaga melalui Aviation Fuel Terminal Hang Nadim.
Komisaris Utama Pertamina Patra Niaga, Sabar Yudo Suroso, mengatakan Kampung Bahari Si Pelaut memiliki potensi besar untuk terus berkembang karena mampu mengolah sumber daya pesisir menjadi kegiatan ekonomi yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
![Foto udara sejumlah kapal nelayan bersandar di sekitar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN) Pelabuhan Perikanan Ulee Lheue, Banda Aceh, Aceh, Selasa (14/7/2026). [ANTARA FOTO/Akramul Muslim/agr]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/15/30647-pemerintah-tetapkan-harga-khusus-bbm-nelayan-harga-bbm-nelayan-bbm-khusu-nelayan.jpg)
"Apa yang dikembangkan di sini menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan dapat dimanfaatkan menjadi kegiatan produktif, sarana edukasi, sekaligus produk yang memiliki nilai tambah. Potensinya sangat baik dan perlu terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas," ujarnya di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Program Kampung Bahari Si Pelaut melibatkan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Terihindo Jaya Lestari, KUB Belian Tuah, Kelompok Wanita Tani Warisan Lestari, serta Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Sukses Bersama.
Masyarakat mengembangkan budidaya ikan kakap, bawal, dan kerapu, budidaya ikan air tawar melalui sistem aquaponik, rehabilitasi mangrove, hingga pengolahan hasil perikanan menjadi berbagai produk usaha.
Salah satu kelompok yang merasakan manfaat program adalah Poklahsar Sukses Bersama. Pendampingan yang diberikan mencakup pelatihan produksi higienis, manajemen keuangan, branding, hingga pemasaran digital sehingga usaha yang dijalankan semakin berkembang.
"Dari awalnya hanya satu atau dua produk, sekarang kami memiliki enam produk unggulan. Pendapatan anggota kelompok juga bertambah dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari," ungkap Ketua Poklahsar Sukses Bersama, Dian.
Kini, kelompok tersebut mampu mengolah hampir seluruh bagian ikan menjadi produk bernilai ekonomi. Mulai dari keripik kulit ikan tenggiri original dan pedas manis, kerupuk kulit ikan kakap, swiss roll abon ikan, abon ikan, hingga penyedap rasa dari tulang ikan.
Bahkan kepala udang yang sebelumnya menjadi limbah juga diolah menjadi penyedap rasa. Beragam produk tersebut kini telah dipasarkan hingga Malaysia dan Singapura.
Di sektor budidaya, inovasi Budidaya Ikan Terintegrasi (BUDITA/Eco-Dita) juga membantu nelayan meningkatkan produktivitas. Melalui metode tersebut, masa pemeliharaan ikan berhasil dipangkas dari sekitar 240 hari menjadi 120 hari sehingga panen dapat dilakukan lebih cepat dan perputaran modal meningkat.
Sementara itu, VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menegaskan perusahaan akan terus mengembangkan program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal di sekitar wilayah operasional.
"Kami harap pendampingan yang dilakukan dapat menciptakan manfaat yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat," tutur Kitty.
Selain berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat, Program Kampung Bahari Si Pelaut juga memberikan manfaat bagi lingkungan. Program ini berhasil mengelola 35,24 ton sampah per tahun, mengurangi emisi sekitar 113,5 ton CO-ekivalen setiap tahun, serta merehabilitasi kawasan pesisir melalui penanaman 1.000 bibit mangrove.