- Kebutuhan pembiayaan naik dari Rp7.400 triliun ke Rp9.200 triliun.
- Pemerintah melirik Panda Bond China dan Samurai Bond Jepang.
- Diversifikasi utang diperlukan, tapi risiko beban pembiayaan ikut membesar.
Suara.com - Kebutuhan pembiayaan ekonomi Indonesia diproyeksikan terus membengkak dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah memperkirakan kebutuhan tersebut melonjak dari sekitar Rp7.400 triliun pada 2026 menjadi Rp9.200 triliun pada 2029.
Angka tersebut menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah untuk menjaga roda ekonomi tetap bergerak. Di tengah kebutuhan dana yang semakin besar, pemerintah mulai melirik sumber pembiayaan dari luar negeri, termasuk melalui Panda Bond dari China dan Samurai Bond dari Jepang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan peningkatan kebutuhan pembiayaan membuat Indonesia harus mencari sumber dana yang lebih beragam.
"Kita harus terus jaga, karena pembiayaan ekonomi yang di tahun 2026 itu sekitar Rp7.400 triliun, itu akan meningkat ke Rp9.200 triliun di tahun 2029," ujar Airlangga di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/8/2026).
Menurut dia, diversifikasi sumber pembiayaan menjadi penting agar Indonesia tidak hanya mengandalkan satu sumber dana. Panda Bond dan Samurai Bond menjadi dua instrumen yang dinilai dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
"Nah, ini mungkin beberapa yang bisa didorong, selain Panda Bond tentu Samurai Bond. Jadi kalau kita bisa dorong diversifikasi, tentu akan lebih baik," katanya.
Namun, di balik upaya mencari sumber pembiayaan baru tersebut, terdapat persoalan yang tidak kecil. Kebutuhan dana ekonomi yang terus meningkat berarti tekanan untuk memperoleh pembiayaan juga semakin besar.
Artinya, semakin besar kebutuhan pembiayaan yang harus dipenuhi, semakin besar pula tantangan pemerintah menjaga biaya utang tetap terkendali serta memastikan tambahan dana tersebut benar-benar menghasilkan pertumbuhan ekonomi.
Airlangga menilai Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk menarik pembiayaan dari pasar China. Salah satunya terlihat dari besarnya hubungan perdagangan kedua negara yang mencapai US$150 miliar.
Selain itu, Indonesia dan China juga memiliki bilateral swap arrangement senilai US$50 miliar.
"Pertama AAA, kedua trade kita dengan China itu 150 billion US dollar. Kemudian kita punya bilateral swap arrangement itu 50 billion US dollar. Jadi kalau ini adalah momentum kita juga untuk diversifikasi daripada pinjaman," ujar Airlangga.
Pemerintah juga mencoba meyakinkan investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memiliki daya tarik. Airlangga menyebut sejumlah lembaga pemeringkat masih memberikan peringkat investment grade kepada Indonesia.
S&P memberikan peringkat BBB, R&I BBB, Fitch BBB, sementara Moody's memberikan Baa2. Untuk Panda Bond, Airlangga menyebut Indonesia mendapatkan peringkat AAA.
"Nah, tentu kalau AAA harus kita, Pak Yuda, kita harus bisa menarik lebih besar Panda Bond," katanya.