Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.365,374
LQ45 634,125
Srikehati 308,918
JII 383,968
USD/IDR 17.790

Pembiayaan UMKM Tembus Rp1.500 Triliun, Tapi Ekonomi Daerah Tak Kunjung Terangkat

Mohammad Fadil Djailani, Fakhri Fuadi Muflih

Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:26 WIB
Pembiayaan UMKM Tembus Rp1.500 Triliun, Tapi Ekonomi Daerah Tak Kunjung Terangkat
Menteri UMKM Maman Abdurrahman bahkan mempertanyakan efektivitas pembiayaan yang selama ini terus digelontorkan kepada pelaku usaha. Foto Fakhri-Suara.com
baca 10 detik
  • Pembiayaan UMKM tembus Rp1.500 triliun, ekonomi daerah belum terdongkrak.
  • Modal dan pelatihan bertambah, tetapi produk UMKM banyak yang tak laku.
  • Produk impor membanjiri pasar dan menekan daya saing UMKM lokal.

Suara.com - Besarnya pembiayaan untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ternyata belum menjadi jaminan pertumbuhan ekonomi di daerah. Pemerintah mengakui, meski akses pembiayaan UMKM terus meningkat dan kini telah menembus lebih dari Rp1.500 triliun, dampaknya terhadap perekonomian masih belum terasa signifikan.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman bahkan mempertanyakan efektivitas pembiayaan yang selama ini terus digelontorkan kepada pelaku usaha. Menurutnya, kenaikan nilai pembiayaan belum otomatis membuat UMKM berkembang atau mampu menggerakkan ekonomi daerah.

"Sampai hari ini, grafik pertumbuhan akses pembiayaan UMKM dari tahun ke tahun naik. Saya berani menyampaikan itu, itu naik. Artinya, kalau dilihat dari angka akses pembiayaan, kita berani katakan bahwa itu naik," kata Maman dalam acara UMKM Finance Summit 2026 di Jakarta, Selasa (11/8/2026).

Namun, kenaikan tersebut justru menyisakan persoalan besar. Maman mempertanyakan mengapa tambahan modal yang nilainya sudah sangat besar belum mampu memberikan dorongan berarti terhadap perekonomian di sejumlah daerah.

"Tapi ada pertanyaan sederhana, kenapa dengan naiknya nilai atau nominal akses pembiayaan yang sekarang kurang lebih di atas 1.500 triliun, tetapi kok rasa-rasanya dianggap oleh sebagian besar publik maupun kita sendiri belum mampu mendongkrak secara signifikan ekonomi di beberapa daerah?" ujarnya.

Menurut Maman, persoalan UMKM saat ini bukan lagi semata-mata kekurangan modal. Pemerintah bersama perbankan telah memberikan berbagai dukungan, mulai dari pembiayaan, pelatihan, hingga peningkatan kapasitas produksi.

"UMKM-nya sudah kita kasih modal, kita berikan pelatihan, kita buka peningkatan kapasitas produksi bagaimana caranya mereka bisa produksi barang sebagus-bagusnya, tetapi yang jadi masalah pada saat dia sudah produksi barang, dia mau jual ke pasar, barangnya nggak laku. Barangnya nggak laku," kata Maman.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam ekosistem UMKM. Pelaku usaha bisa mendapatkan modal dan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi tidak memiliki kepastian bahwa barang yang dihasilkan akan diserap konsumen.

Maman menyebut lemahnya pasar domestik menjadi salah satu penyebab utama. Menurut dia, pasar Indonesia saat ini terlalu banyak dibanjiri produk impor sehingga UMKM harus berhadapan langsung dengan barang dari luar negeri.

baca juga

"Ya macam-macam, tapi faktor yang paling besar adalah pasar domestik kita becek. Pasar domestik kita dipenuhi dengan produk-produk barang impor. Yang mau nggak mau UMKM kita dihadapkan pada sebuah situasi dia harus head-to-head dengan produk-produk barang luar," ujarnya.

Persaingan tersebut membuat tambahan modal berisiko tidak menyelesaikan persoalan mendasar UMKM. Ketika produk tidak terserap pasar, pembiayaan yang seharusnya menjadi bahan bakar pertumbuhan justru berpotensi tidak menghasilkan peningkatan usaha yang berarti.

Maman menilai pemerintah tidak bisa hanya berfokus memperbesar akses pembiayaan. Perlindungan dan perluasan pasar bagi produk domestik juga harus menjadi perhatian.

"Oleh sebab itu, modal pembiayaan seperti apa pun didorong, akses pendidikan seperti apa pun, tapi pada saat pasarnya nggak bisa kita sterilisasi, mereka akan mati dengan sendirinya," ungkapnya.

Meski demikian, Maman menegaskan pemerintah tidak bermaksud menutup pasar Indonesia dari produk impor. Menurutnya, kebijakan impor tetap harus mempertimbangkan kemampuan industri dan UMKM dalam negeri agar tidak menciptakan persaingan yang timpang.

"Kita setuju, kita juga bukan berarti kami dari Kementerian UMKM anti terhadap produk-produk impor, tetapi pada saat kita mau dorong produk-produk impor masuk ke domestik, ke pasar domestik kita, itu harus dilihat juga dengan kekuatan produksi barang domestik kita," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BTN Gandeng Pemkot Padang, Perluas Layanan Dari KPR Hingga Digitalisasi Layanan Publik

BTN Gandeng Pemkot Padang, Perluas Layanan Dari KPR Hingga Digitalisasi Layanan Publik

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 20:21 WIB

Ojol Jadi Pengusaha UMKM dan Bukan Pekerja, Perpres Bakal Atur THR hingga Bonus?

Ojol Jadi Pengusaha UMKM dan Bukan Pekerja, Perpres Bakal Atur THR hingga Bonus?

Bisnis | Senin, 10 Agustus 2026 | 20:10 WIB

Nasib THR Ojol Usai Jadi UMKM: Bukan Pekerja Formal, Ikut Perjanjian Kemitraan

Nasib THR Ojol Usai Jadi UMKM: Bukan Pekerja Formal, Ikut Perjanjian Kemitraan

News | Senin, 10 Agustus 2026 | 20:01 WIB

Terkini

Liga Indonesia vs India: Adu Tradisi, Uang, Bintang Dunia, hingga Krisis Tata Kelola

Liga Indonesia vs India: Adu Tradisi, Uang, Bintang Dunia, hingga Krisis Tata Kelola

Bola | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:25 WIB

Paramitha Hilang 2 Tahun Ternyata Dibunuh Sopir Travel dan Dibuat Jadi Tengkorak

Paramitha Hilang 2 Tahun Ternyata Dibunuh Sopir Travel dan Dibuat Jadi Tengkorak

Sulsel | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:24 WIB

BGN Larang Siswa Bawa Pulang MBG: Makanan Tak Terpantau Bisa Berujung Keracunan

BGN Larang Siswa Bawa Pulang MBG: Makanan Tak Terpantau Bisa Berujung Keracunan

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:20 WIB

Tahan Beli, Harga Emas Antam Lagi Naik Jadi Rp2,71 Juta/Gram Hari Ini

Tahan Beli, Harga Emas Antam Lagi Naik Jadi Rp2,71 Juta/Gram Hari Ini

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:17 WIB

Ambisi Lampung Menjadi Raja Gula: 13 Ribu Hektare Lahan Tebu Baru Disiapkan

Ambisi Lampung Menjadi Raja Gula: 13 Ribu Hektare Lahan Tebu Baru Disiapkan

Lampung | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:15 WIB

Ini Penulisan Ucapan Dirgahayu dan HUT Ke-81 RI yang Benar, Jangan Sampai Keliru!

Ini Penulisan Ucapan Dirgahayu dan HUT Ke-81 RI yang Benar, Jangan Sampai Keliru!

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:11 WIB

Putuskan Hengkang dari JYP Entertainment, Jeongyeon: TWICE Pusat Hidup Saya

Putuskan Hengkang dari JYP Entertainment, Jeongyeon: TWICE Pusat Hidup Saya

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:10 WIB

Minta Doa Sebelum Dakwaan Dibacakan, Gus Yaqut: Semua yang Baik Akan Kelihatan

Minta Doa Sebelum Dakwaan Dibacakan, Gus Yaqut: Semua yang Baik Akan Kelihatan

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:04 WIB

Gempar! Pasar Balangan Sleman Mendadak Ramai, Penampilan Jathilan Jadi Magnet Warga

Gempar! Pasar Balangan Sleman Mendadak Ramai, Penampilan Jathilan Jadi Magnet Warga

Jogja | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:00 WIB

Usaha Mencintai Hidup: Belajar Bangkit Ketika Hidup Tak Lagi Seperti Dulu

Usaha Mencintai Hidup: Belajar Bangkit Ketika Hidup Tak Lagi Seperti Dulu

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:00 WIB

×