- IHSG diproyeksikan menguji area resistance 6.300 setelah sebelumnya ditutup melemah signifikan akibat aksi jual bersih asing.
- Bursa Wall Street dan saham teknologi tertekan akibat memudarnya harapan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
- Konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan menjaga harga minyak mentah tetap tinggi.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan mencoba menembus (break) area resistance kuat di level 6.300 pada perdagangan hari ini, setelah pada sesi sebelumnya harus ditutup melemah signifikan sebesar 1,53%.
Pelemahan bursa domestik tersebut turut diwarnai oleh aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang mencatatkan akumulasi sekitar Rp280 miliar.
Berdasarkan data perdagangan, jajaran saham berkapitalisasi besar yang paling banyak dilepas oleh pemodal asing meliputi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, CFP®, mengingatkan para pelaku pasar untuk tetap bersikap waspada dan mengedepankan manajemen risiko yang disiplin.
Menurut analisis teknikalnya, apabila IHSG gagal menembus batas resistance kuat tersebut, indeks memiliki potensi untuk kembali berkonsolidasi atau mengalami koreksi lanjutan yang cukup dalam.
Untuk pergerakan hari ini, rentang support IHSG diperkirakan berada pada kisaran level 6.100 hingga 6.200, sementara area resistance terdekat diproyeksikan menguji rentang 6.300 hingga 6.350.
Ketidakpastian arah pergerakan pasar keuangan domestik ini terjadi di tengah atmosfer sentimen global yang kurang menguntungkan, menyusul pelemahan tajam yang melanda bursa saham Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (11/8/2026).
Harapan Damai AS-Iran Memudar, Wall Street dan Bursa Asia Tertekan
Di pasar global, bursa saham Wall Street tertekan setelah optimisme pelaku pasar terhadap potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali meredup.
Indeks S&P 500 ditutup melorot 0,32%, indeks komposit Nasdaq melemah 0,60%, dan indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,34%.
Investor kembali mencermati ketegangan di kawasan strategis Timur Tengah setelah pejabat baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS tidak mengubah sikap politiknya dan menerima persyaratan Iran untuk mengakhiri perang.
Pernyataan keras tersebut langsung memicu kekhawatiran global bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama serta berisiko mengganggu kelancaran pasokan energi dunia.
Kondisi ini membuat harga minyak mentah jenis Brent bertahan di sekitar level tertinggi dalam seminggu, meski pergerakannya diwarnai volatilitas tinggi. Kenaikan harga energi tersebut membawa dampak sektoral di Wall Street, di mana sektor energi S&P 500 berhasil terangkat sebesar 1,1%.
Sebaliknya, tekanan besar melanda saham-saham teknologi berkapitalisasi raksasa (big tech). Saham Amazon tercatat merosot 2,1%, Alphabet tergerus 3,8%, dan saham SpaceX terpangkas hampir 4%.
Namun di sisi lain, saham Apollo Global berhasil menguat 6,2% dan Blackstone melonjak hampir 4%. Dari sisi kinerja korporasi individual, saham Jabil menguat 5,9% setelah UBS menaikkan rekomendasi saham perusahaan manufaktur elektronik tersebut menjadi "buy".
Sementara itu, saham perusahaan pakaian olahraga On anjlok 20,3% akibat capaian penjualan di bawah ekspektasi pasar, serta saham perusahaan LNG Venture Global yang turun 7,3% usai pendapatan kuartal II meleset tipis dari perkiraan.
Atmosfer ketidakpastian ini merembet ke kawasan regional Asia, di mana pergerakan bursa cenderung terbatas seiring kewaspadaan investor terhadap dinamika inflasi global.
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini merespons persyaratan damai Iran dengan mengajukan tuntutan ganti rugi atas korban tewas dalam konflik. Kendati demikian, bursa saham Korea Selatan berhasil menguat berkat lonjakan saham produsen cip Samsung Electronics sebesar lebih dari 4%, yang mendorong indeks KOSPI naik 0,73% dan KOSDAQ menguat 0,39%.
Di Australia, indeks ASX 200 bertambah 0,19% setelah bank sentral Reserve Bank of Australia (RBA) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,35%.
Disclaimer: Artikel ini memuat informasi mengenai pasar keuangan dan estimasi pergerakan instrumen investasi dari analis publik. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing pembaca. Artikel ini murni bertujuan sebagai diseminasi informasi berita.