Kemlu: Ancaman Saksi Ekonomi AS Tanda Tak Mampu Diplomasi Damai dengan Iran

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:32 WIB
Kemlu: Ancaman Saksi Ekonomi AS Tanda Tak Mampu Diplomasi Damai dengan Iran
Rudal Iran (Tasnimnews)
baca 10 detik
  • Kemenlu Iran menyebut sanksi ekonomi AS bukti ketergantungan dan kegagalan diplomasi Washington.

  • Donald Trump membatalkan serangan ke Iran seiring menguatnya peluang kesepakatan damai kawasan.

  • Iran dan Oman telah menyepakati rincian rute pelayaran kapal di Selat Hormuz.

Suara.com - Kementerian Luar Negeri Iran menilai sanksi ekonomi Amerika Serikat bukan lagi instrumen diplomasi melainkan bentuk kecanduan politik akibat ketidakmampuan Washington bernegosiasi. Sikap keras Tehran ini muncul di tengah sinyal peningkatan kesepakatan damai kawasan dan keamanan jalur pelayaran global Selat Hormuz.

Washington dinilai terus menaikkan tekanan ekonomi setiap kali negosiasi menemui jalan buntu. Pola berulang tersebut menunjukkan krisis strategi diplomasi yang dialami para pembuat kebijakan AS.

Ketergantungan pada sanksi finansial justru mempersempit ruang kompromi yang menguntungkan kedua belah pihak. Langkah represif ini dinilai tidak akan sanggup meruntuhkan ketahanan nasional Tehran.

Pesawat tempur di dekat Selat Hormuz (FlightRadar24)
Pesawat tempur di dekat Selat Hormuz (FlightRadar24)

Juru Bicaranya, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa penekanan ekonomi yang berlebihan mencerminkan kebiasaan berbahaya Washington. Ketergantungan tersebut menggeser rasionalitas pemikiran strategis dalam berdiplomasi.

Ia menanggapi klaim Menteri Keuangan AS terkait upaya penekanan ekonomi terhadap negaranya. Menurutnya, klaim tersebut justru menelanjangi kelemahan posisi tawar Amerika Serikat.

Mengapa Iran Menilai Sanksi AS Sebagai Ketergantungan Kompulsif?

Baghaei secara terbuka mengritik pendekatan sanksi yang terus diulang oleh pemerintah Amerika Serikat.

“Menkeu AS membanggakan diri dengan upaya ‘mencekik’ Iran melalui sanksi ekonomi. Di luar kesan berlebihan yang ditimbulkannya, klaim tersebut menjadi bukti nyata ketergantungan kompulsif Amerika pada sanksi. Setiap kali Washington terbukti tidak mampu menjalankan diplomasi, mereka kembali menggunakan sanksi; dan setiap kali sanksi tersebut gagal memberikan hasil, mereka hanya meningkatkan dosisnya,” kata Baghaei melalui X.

Ia menambahkan bahwa tindakan represif tersebut telah menggantikan proses berpikir rasional dalam pembuatan kebijakan luar negeri.

baca juga

“Ini bukan lagi ‘kebijakan’ - ini adalah ‘kebiasaan’; dan yang lebih berbahaya, ini merupakan kecanduan yang telah menggantikan pemikiran itu sendiri,” tambahnya.

Baghaei mengingatkan bahwa Iran memiliki rekam jejak panjang dalam bertahan dari tekanan sanksi Barat. Pengalaman berdekade-dekade membuktikan ketahanan ekonomi negara tersebut tidak mudah dilumpuhkan.

Ia juga memberi peringatan keras kepada para politisi di Washington terkait dampak jangka panjang kebijakan mereka. Kebiasaan merusak ini dinilai menutup peluang penyelesaian krisis secara terhormat.

Washington berisiko kehilangan jalan keluar terbaik dari krisis yang mereka ciptakan sendiri. Kegagalan mengubah strategi hanya akan mempermalukan posisi politik AS di mata dunia.

Bagaimana Perkembangan Kesepakatan Damai dan Selat Hormuz?

Di sisi lain, dinamika militer mencatat perubahan penting ketika Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana serangan militer ke Iran. Langkah mundur ini terjadi seiring makin dekatnya potensi kesepakatan damai kedua negara.

Rencana perdamaian tersebut mencakup poin krusial mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz untuk jalur perdagangan. Selain itu, kesepakatan juga mengatur kerangka kerja baru terkait program nuklir Iran.

Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi kemajuan teknis bersama Oman mengenai skema pelayaran kapal. Kedua negara telah menyepakati detail geografis jalur melintas di kawasan strategis Selat Hormuz.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Donald Trump Umumkan Terbuka untuk Perang Lagi: Amerika Satu-satunya Pengendali Selat Hormuz

Donald Trump Umumkan Terbuka untuk Perang Lagi: Amerika Satu-satunya Pengendali Selat Hormuz

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:45 WIB

Selat Hormuz Kembali Lancar, ICP Indonesia Turun ke 81,68 Dolar AS per Barel

Selat Hormuz Kembali Lancar, ICP Indonesia Turun ke 81,68 Dolar AS per Barel

Bisnis | Selasa, 11 Agustus 2026 | 09:17 WIB

Babak Baru! Donald Trump Tuntut Iran Bayar Ganti Rugi Perang karena Ini

Babak Baru! Donald Trump Tuntut Iran Bayar Ganti Rugi Perang karena Ini

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 07:36 WIB

Terkini

Toyota Masih Hitung Harga Resmi Land Cruiser FJ untuk Pasar Indonesia

Toyota Masih Hitung Harga Resmi Land Cruiser FJ untuk Pasar Indonesia

Otomotif | Selasa, 15 September 2026 | 07:12 WIB

Rekam Jejak Fahd A Rafiq: Suap DPID, Korupsi Al-Qur'an, Kini Kena OTT KPK di Bogor

Rekam Jejak Fahd A Rafiq: Suap DPID, Korupsi Al-Qur'an, Kini Kena OTT KPK di Bogor

Entertainment | Selasa, 15 September 2026 | 07:00 WIB

Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan

Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 07:00 WIB

Cara Memasak Nasi di Rice Cooker Tidak Kering atau Benyek, Segini Ukuran Airnya

Cara Memasak Nasi di Rice Cooker Tidak Kering atau Benyek, Segini Ukuran Airnya

Lifestyle | Selasa, 15 September 2026 | 06:55 WIB

Kisah di Balik Reshuffle Purbaya: Ditelepon Mensesneg Saat Rapat, Tak Kembali ke Ruang Sidang

Kisah di Balik Reshuffle Purbaya: Ditelepon Mensesneg Saat Rapat, Tak Kembali ke Ruang Sidang

News | Selasa, 15 September 2026 | 06:11 WIB

Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperpanjang 3 Hari

Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperpanjang 3 Hari

Foto | Selasa, 15 September 2026 | 06:00 WIB

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

News | Selasa, 15 September 2026 | 00:17 WIB

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Entertainment | Selasa, 15 September 2026 | 00:04 WIB

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

News | Senin, 14 September 2026 | 23:56 WIB

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 23:54 WIB

×