- IHSG tembus 6.400, tapi belum pasti masuk tren bullish.
- Net buy asing dan fundamental mulai menopang penguatan IHSG.
- Level 6.400 harus bertahan untuk membuka peluang menuju 6.500.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan geliat setelah berhasil menembus level psikologis 6.400. Penguatan ini juga dibarengi dengan aksi beli bersih atau net buy investor asing.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar bagi investor: apakah IHSG sedang memasuki fase pembalikan tren atau penguatan ini hanya sekadar technical rebound?
Direktur Reliance Sekuritas, Reza Priyambada, menilai aliran dana asing dapat menjadi salah satu motor utama penguatan IHSG. Investor asing, yang umumnya berasal dari institusi maupun private fund, memiliki kekuatan dana besar sehingga transaksi mereka mampu memberikan dorongan signifikan terhadap indeks.
"Adanya aksi beli dari para investor asing dianggap dapat mengangkat IHSG karena mereka bertransaksi dalam dana yang begitu besar dan biasanya dari institusi maupun private fund. Dengan adanya pembelian dalam jumlah besar tersebut dan dilakukan secara bertahap maka akan mendorong naiknya IHSG," ujar Reza kepada Suara.com, Selasa (12/8/2026).
Namun, derasnya dana asing juga menjadi pedang bermata dua. Ketika investor asing kembali melakukan aksi jual, tekanan terhadap IHSG dapat meningkat dengan cepat.
"Hanya saja, kekurangannya jika ada aksi jual kembali maka akan membuat IHSG berbalik melemah. Oleh karena itu, juga tergantung dengan respons mereka terhadap sentimen yang ada," katanya.
Fundamental Mulai Menopang IHSG
Di tengah penguatan indeks, kondisi fundamental ekonomi Indonesia mulai memberikan pijakan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pemulihan IHSG saat ini mulai mendapat dukungan fundamental, meski belum menjadi faktor utama.
Ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 mencapai 5,29% secara tahunan, sementara investasi tumbuh 6,87%. Di sisi moneter, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada Juli 2026.
Namun, Nafan menilai kenaikan IHSG belum bisa disebut sebagai reli yang sepenuhnya digerakkan fundamental.
"Saat ini masih merupakan kombinasi antara technical recovery, improvement in sentiment, foreign flow dan ekspektasi fundamental, bukan purely fundamental-driven rally," ujar Nafan.
Artinya, ada beberapa mesin yang sedang bekerja secara bersamaan. Pemulihan teknikal, masuknya dana asing, membaiknya sentimen serta ekspektasi terhadap fundamental ekonomi menjadi bahan bakar kenaikan IHSG.
Sentimen Global Masih Jadi Risiko
Di sisi lain, pasar saham belum sepenuhnya terbebas dari risiko eksternal.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai sentimen pasar masih cenderung moderat. Investor masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda.
Selain itu, pelaku pasar juga menunggu sejumlah agenda penting, termasuk pengumuman MSCI dan data inflasi Amerika Serikat pada pekan ini.
"Dari sisi sentimen pun, kecenderungannya masih moderat dengan perhatian investor yang masih mencermati konflik geopolitik di Timur Tengah yang sedang dalam fase kesepakatan damai, kemudian dari sisi lain investor juga mencermati akan pengumuman MSCI dan juga data inflasi AS pada pekan ini," jelas Herditya.
Bagi pasar saham Indonesia, perkembangan tersebut penting karena perubahan sentimen global dapat memengaruhi arus modal asing dan nilai tukar rupiah.
Setelah 6.400, Mampukah IHSG Tembus 6.500?
Level 6.400 kini menjadi titik penting yang harus dipertahankan IHSG. Setelah berhasil melewatinya, pasar mulai melihat 6.500 sebagai resistance psikologis berikutnya.
Namun, menembus 6.400 saja belum cukup untuk memastikan bahwa tren IHSG telah benar-benar berbalik.
Nafan menyebut setidaknya ada tiga indikator yang perlu diperhatikan investor.
"Pertama, IHSG mampu bertahan di atas 6.400, bukan hanya menembus intraday. Kedua, breakout disertai kenaikan volume transaksi. Ketiga, foreign net buy berlangsung konsisten," jelasnya.
Konfirmasi penguatan juga idealnya terlihat dari semakin luasnya saham yang ikut naik atau market breadth. Selain itu, terbentuknya pola higher high dan higher low, serta penguatan saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, akan memperkuat sinyal pemulihan.
Sebaliknya, jika IHSG kembali jatuh di bawah 6.400 dengan volume transaksi besar dan investor asing kembali mencatatkan net sell, penguatan sebelumnya justru berisiko menjadi false breakout.
"Apabila IHSG kembali turun ke bawah 6.400 dengan volume besar, sementara foreign kembali net sell, maka breakout tersebut berpotensi menjadi false breakout dan risiko dead cat bounce kembali meningkat," tegas Nafan.
Dengan kata lain, 6.400 bukan sekadar angka psikologis, tetapi menjadi garis pembuktian apakah IHSG benar-benar memasuki tren baru.
Asing Masih Punya Alasan Masuk
Peluang masuknya kembali dana asing ke pasar saham Indonesia juga masih terbuka. Salah satu alasannya adalah koreksi signifikan yang dialami IHSG sepanjang paruh pertama 2026.
"Menurut saya masih ada ruang bagi asing masuk, terutama setelah IHSG mengalami koreksi signifikan pada paruh pertama 2026," ujar Nafan.
Koreksi tersebut membuat sejumlah saham big caps memiliki rasio risiko dan imbal hasil atau risk-reward ratio yang lebih menarik dibandingkan ketika valuasinya berada di level premium.
Namun, investor global tidak semata-mata mencari saham yang terlihat murah.
Mereka juga mempertimbangkan pertumbuhan laba (earnings growth), tingkat pengembalian modal (return on equity/ROE), pergerakan rupiah, risiko negara (country risk), kredibilitas fiskal hingga kemudahan akses terhadap pasar Indonesia (market accessibility).
"Koreksi tersebut membuat sebagian saham big caps memiliki risk-reward ratio yang lebih menarik dibandingkan ketika valuasi berada pada level yang relatif premium. Namun, investor asing tentu tidak hanya melihat murah atau mahal secara absolut; mereka juga mempertimbangkan earnings growth, ROE, rupiah, country risk, fiscal credibility dan market accessibility," jelas Nafan.
Saham Big Caps Jadi Penopang
Dalam kondisi tersebut, saham-saham berkapitalisasi besar berpotensi menjadi penopang pemulihan IHSG. Nafan mencermati sejumlah saham dari berbagai sektor yang dinilai dapat menopang pemulihan pasar.
Daftar saham tersebut meliputi AADI, ACES, ADRO, AKRA, AMRT, ANTM, BBCA, BBNI, BBRI, BMRI, BRIS, BULL, CBDK, CMRY, CPIN, ERAA, ESSA, EXCL, INCO, INDF, INKP, ITMG, JSMR, KLBF, KRAS, NCKL, PANI, PGEO, RATU, SMRA, TINS, TLKM, dan UNVR.
Meski demikian, daftar tersebut bukan berarti seluruh saham otomatis akan menguat bersamaan. Kinerja masing-masing emiten tetap akan sangat bergantung pada fundamental, valuasi, prospek laba, sentimen sektoral serta kondisi pasar secara keseluruhan.
Jadi, Rebound atau Pembalikan Tren?
Untuk sementara, penguatan IHSG di atas 6.400 belum cukup menjadi bukti bahwa tren bearish telah sepenuhnya berakhir.
Ada tanda-tanda positif berupa masuknya dana asing, membaiknya sentimen serta dukungan dari fundamental ekonomi domestik. Namun, risiko global masih membayangi dan konsistensi foreign net buy menjadi salah satu kunci.
Karena itu, level 6.400 menjadi area yang patut diperhatikan. Jika IHSG mampu bertahan di atas level tersebut, disertai volume transaksi yang meningkat dan aliran dana asing yang konsisten, peluang menuju 6.500 semakin terbuka.
Sebaliknya, jika IHSG gagal bertahan dan kembali tertekan bersama aksi net sell asing, investor perlu mewaspadai bahwa penguatan sebelumnya hanya merupakan technical rebound atau bahkan dead cat bounce.