- CEO IESR Fabby Tumiwa menyambut positif rencana Presiden Prabowo membangun PLTS 100 GW di Jakarta pada 15 Agustus 2026.
- IESR menekankan kesiapan implementasi dan delapan langkah strategis sangat krusial untuk merealisasikan target transisi energi tersebut.
- Pemerintah perlu menuangkan seluruh target ke dalam peta jalan terukur yang dilengkapi alokasi pembiayaan serta pengawasan ketat.
Suara.com - Institute for Essential Services Reform (IESR) mengingatkan pemerintah, keberhasilan transisi energi di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya target, melainkan oleh kesiapan implementasi di lapangan.
Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, menyambut positif rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 Gigawatt (GW) yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato penyampaian Rancangan APBN 2027 dan Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta.
Kendati demikian, ia menekankan perlunya langkah konkret agar target ambisius tersebut dapat terealisasi.
"Namun demikian, pengalaman menunjukkan bahwa keberhasilan transisi energi tidak ditentukan oleh besarnya target semata, melainkan oleh kesiapan implementasi," ujar Fabby dalam keterangan yang dikutip pada Sabtu (15/8/2026).
Fabby menjelaskan, untuk merealisasikan target PLTS 100 GW tersebut, pemerintah perlu memastikan delapan langkah strategis.
Langkah utama yang harus dilakukan mencakup penerapan tata kelola yang baik melalui komando yang jelas serta pengelolaan program sebagai sebuah misi surya nasional (national solar mission).

Selain itu, pemerintah dituntut mempercepat pembangunan jaringan transmisi dan distribusi listrik, mengembangkan sistem penyimpanan energi (battery energy storage systems), serta merombak perencanaan sistem kelistrikan nasional.
Dari sisi regulasi dan investasi, IESR menyaratkan penyederhanaan perizinan serta penyiapan skema pembiayaan yang menarik bagi sektor swasta.
Pemerintah juga perlu menyiapkan tenaga kerja yang kompeten di seluruh provinsi dan memperkuat industri domestik yang kompetitif agar terintegrasi dalam rantai pasok global.
Menurut Fabby, komitmen pengembangan energi surya dan akselerasi penghentian pembangkit diesel berbasis desa merupakan langkah tepat untuk memperluas akses energi bersih.
Namun, seluruh target tersebut harus segera dituangkan ke dalam peta jalan (roadmap) yang terukur, lengkap dengan alokasi pembiayaan dan mekanisme pengawasan yang ketat.