- Bank DBS Indonesia meluncurkan riset keberlanjutan lima sektor strategis pada 23 Agustus 2026 untuk memetakan pergeseran bisnis.
- Kelima sektor industri menghadapi pergeseran dari kepatuhan menuju strategi bisnis inti dengan tantangan dan kebutuhan pembiayaan berbeda.
- Riset mengidentifikasi peluang investasi seperti energi terbarukan, pusat data, lokalisasi farmasi, dan hilirisasi pertambangan berkelanjutan.
Suara.com - Lanskap keberlanjutan Indonesia sedang bergeser dari agenda kepatuhan menuju strategi ketahanan ekonomi dan daya saing bisnis.
Untuk memetakan pergeseran ini, Bank DBS Indonesia meluncurkan riset "The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks" yang mengkaji bagaimana perubahan tersebut terjadi di lima sektor strategis, yakni Energi, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur; Teknologi, Media, dan Telekomunikasi; Pangan dan Agribisnis; Kesehatan dan Farmasi; serta Logam dan Pertambangan.
Riset ini menunjukkan bahwa kelima sektor strategis tersebut mengalami pergeseran arah sustainability, sehingga memerlukan pendekatan financing dan advisory yang relevan.
Salah satu temuan utama riset ini menegaskan bahwa pendekatan keberlanjutan tidak dapat diterapkan secara seragam di seluruh industri.
Kelima sektor menghadapi tekanan untuk bergerak dari pendekatan compliance-driven menuju strategi bisnis inti, namun pemicu (driver), tantangan, dan bentuk solusi yang dibutuhkan berbeda signifikan satu sama lain, sehingga bentuk intervensi financing maupun advisory dari perbankan perlu disesuaikan per sektor.
"Di tengah perubahan lanskap bisnis yang semakin kompleks, perusahaan membutuhkan perspektif yang jelas untuk menentukan prioritas dan mengambil keputusan jangka panjang.
Keberlanjutan kini semakin berkaitan erat dengan ketahanan usaha, daya saing, dan penciptaan nilai. Namun, pergeseran menuju bisnis yang lebih berkelanjutan tidak memiliki satu jalur yang sama di setiap sektor.
Melalui riset ini, DBS Indonesia berupaya memberikan insights yang lebih terarah mengenai perubahan yang terjadi di berbagai sektor strategis, sekaligus peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi dunia usaha," kata Director of Institutional Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Anthonius Sehonamin dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).
Pada sektor Energi, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur, terjadi pergeseran dari ketergantungan fosil menuju elektrifikasi.
Kebutuhan listrik dari kendaraan listrik, hilirisasi mineral, AI, pusat data, dan elektrifikasi rumah tangga mendorong proyeksi konsumsi listrik naik dari sekitar 300 TWh (2024) menjadi lebih dari 1.800 TWh pada 2060.
Potensi energi terbarukan besar, hingga sekitar 3.687 GW, namun baru dimanfaatkan kurang dari 0,5% karena terhambat oleh keterbatasan transmisi dan bankability proyek.
Peluangnya meluas ke solar, penyimpanan energi berbasis baterai (BESS), grid modernization, hingga elektrifikasi industri.
Sementara itu, sektor Teknologi, Media, dan Telekomunikasi (TMT) bergeser dari konektivitas menuju layanan digital.
Pertumbuhan sektor telekomunikasi berbasis konektivitas melambat dari sekitar 9,69% (2015) menjadi 7,14% (Q1 2026), sementara nilai ekonomi digital terus naik, dengan estimasi total GMV mencapai sekitar USD99 miliar pada 2025 dengan 79% pengguna Indonesia yang sudah mengenal AI.
Pergeseran nilai ini mendorong permintaan terhadap cloud, cybersecurity, dan pusat data, dengan green data center menjadi peluang investasi utama berikutnya.
"Momentum pertumbuhan AI membuat pusat data menjadi growth engine baru bagi ekosistem digital Indonesia. Namun, ketersediaan energi terbarukan dan kepastian kebijakan ke depan akan sama pentingnya dengan besarnya potensi pasar dalam menentukan keputusan investasi," kata Chairman Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma.
Di sektor Pangan dan Agribisnis, fokus bergeser dari ekspansi produksi menuju produktivitas dan ketahanan pangan. Indonesia memproduksi sekitar 60% pasokan sawit dunia, namun pertumbuhan berikutnya bergantung pada replanting, peningkatan hasil panen, dan sertifikasi RSPO/NDPE, dan bukan lagi perluasan lahan.
"Tantangan keberlanjutan kelapa sawit ke depan bukan lagi soal ekspansi lahan, melainkan bagaimana produktivitas ditingkatkan secara bertanggung jawab. Produsen kini bergerak ke arah penanaman kembali, intensifikasi, dan penguatan ketertelusuran digital untuk memenuhi standar seperti RSPO dan EUDR, sekaligus mempertahankan akses ke pasar global," kata Kompartemen Hubungan Stakeholders Bidang Sustainability Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Agam Fatchurrochman.
Sektor Kesehatan dan Farmasi juga mengalami transformasi dari ketergantungan impor menuju resiliensi rantai pasok. Sekitar 90% bahan baku farmasi aktif (API) Indonesia masih diimpor.
Peluangnya ada pada lokalisasi API secara selektif, penguatan manufaktur, diversifikasi pemasok, serta skema pembiayaan tambahan seperti copayment/KAPJ.
Di sisi lain, sektor Logam dan Pertambangan bergeser dari ekspansi skala produksi menuju daya saing berkelanjutan. Indonesia menguasai sekitar 60% produksi nikel dunia, namun sekitar 97% listrik untuk pemrosesan nikel masih berasal dari captive coal power.
“Seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap carbon performance, produk nikel dengan intensitas karbon yang lebih rendah berpotensi memiliki diferensiasi nilai di pasar global. Pemanfaatan energi terbarukan, penguatan ketertelusuran, dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab akan semakin penting dalam mempertahankan daya saing dan akses Indonesia ke pasar global serta rantai pasok baterai,” kata Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk, Budiawansyah.
Temuan riset menunjukkan bahwa besarnya peluang keberlanjutan di suatu sektor tidak serta-merta membuat sebuah proyek mendapatkan pembiayaan.
Kesiapan proyek, profil risiko, kepastian arus kas, serta kompleksitas struktur pembiayaan menjadi faktor penting yang menentukan apakah suatu peluang dapat direalisasikan.
Bank DBS Indonesia memosisikan perannya lebih dari sekadar penyedia modal, yakni mencakup sustainability financing, sustainability-linked financing, structured/blended finance, hingga advisory untuk membantu perusahaan meningkatkan kesiapan proyek.
"Bagi kami, temuan riset ini menegaskan bahwa strategi yang akan memenangkan persaingan ke depan adalah yang mampu memadukan penciptaan nilai, ketahanan, dan keberlanjutan sekaligus, bukan memilih salah satu di antaranya," kata Head of Research PT Bank DBS Indonesia William Simadiputra.
Riset ini mengerucutkan temuan dari kelima sektor menjadi lima prioritas strategis: bergerak ke segmen rantai nilai yang lebih tinggi, berinvestasi pada infrastruktur pendukung pertumbuhan, mengintegrasikan sustainability ke dalam keputusan komersial, memperluas pembiayaan ketahanan (resilience financing), serta membangun ekosistem yang terintegrasi lintas sektor.