- Dua emiten beras, PT Buyung Poetra Sembada Tbk dan PT Wahana Inti Makmur Tbk, mengalami kerugian sepanjang tahun 2025.
- Harga gabah petani yang melampaui ketentuan pemerintah menyebabkan industri penggilingan dan produsen beras mengalami tekanan keuangan berat.
- PT Buyung Poetra Sembada Tbk bahkan masih mencatatkan total kerugian komprehensif pada laporan Januari 2026.
Suara.com - Industri beras tengah menghadapi tekanan akibat tingginya harga gabah di tingkat petani. Kondisi tersebut ikut tercermin dari kinerja dua perusahaan produsen beras yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) dan PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI).
Keduanya sama-sama membukukan kerugian pada 2025. HOKI mencatat rugi Rp34,24 miliar, sedangkan NASI membukukan rugi Rp3,69 miliar.
"HOKI dan NASI adalah dua perusahaan yang listing di bursa. Dibandingkan 2024, kerugian HOKI naik 11 kali, sedangkan NASI berubah dari untung menjadi rugi," ujar Khudori kepada wartawan, Minggu (23/8/2026).
Kinerja tersebut menjadi perhatian karena keduanya bergerak di industri beras, sementara sebagian produk yang dijual masuk dalam kategori beras khusus.
Pada HOKI, sebagian produknya merupakan beras khusus. Sementara itu, mayoritas produk NASI juga merupakan beras khusus, seperti beras ketan, beras merah, beras aromatik, hingga beras tarabas.
"Ditilik dari produk, sebagian produk HOKI berupa beras khusus. Sebaliknya, mayoritas produk NASI adalah beras khusus, seperti beras ketan, beras merah, beras aromatik, dan beras tarabas," ucap Khudori.
Meski memiliki produk beras khusus, kedua emiten tersebut tetap mengalami tekanan kinerja pada 2025. Kondisi ini menunjukkan bisnis beras tidak serta-merta menghasilkan keuntungan meski produsen memiliki produk di luar beras medium dan premium.
HOKI menjadi perusahaan dengan tekanan kerugian paling besar. Kerugian perusahaan pada 2025 mencapai Rp34,24 miliar, meningkat sekitar 11 kali dibandingkan kerugian pada 2024.
Sementara itu, NASI yang sebelumnya masih mencatatkan keuntungan pada 2024 justru berbalik membukukan kerugian Rp3,69 miliar pada 2025.
"Toh keduanya pada tahun lalu merugi. Apa artinya? Publik silakan menyimpulkan sendiri," jelas Khudori.
Tekanan tersebut juga belum sepenuhnya berakhir pada 2026. Khudori mencatat HOKI masih membukukan total rugi komprehensif sekitar Rp8,87 miliar pada Januari 2026 berdasarkan laporan yang belum diaudit.
Kondisi tersebut terjadi ketika harga gabah di tingkat petani berada jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP). Dalam tulisan yang sama, Khudori menyebut harga gabah saat ini telah melampaui Rp8.000 per kilogram, sedangkan HPP gabah kering panen (GKP) semua kualitas di tingkat petani sebesar Rp6.500 per kilogram.
"Petani senang, tetapi penggilingan dan produsen beras meriang," jelasnya.