- Pemerintah melaksanakan Program Kemitraan Petani Tembakau di Kabupaten Rembang untuk memodernisasi pertanian.
- Program ini menyediakan pendampingan teknis dan mekanisasi guna meningkatkan efisiensi serta kualitas panen petani.
- Pelaksanaan kemitraan tersebut berhasil meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat perekonomian masyarakat pedesaan.
Suara.com - Sektor pertanian tembakau mulai didorong masuk ke era modernisasi melalui penguatan kemitraan, pendampingan teknis hingga pemanfaatan alat mekanisasi untuk meningkatkan efisiensi kerja petani.
Upaya tersebut dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pelaku ekosistem tembakau melalui Program Kemitraan Petani Tembakau di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Salah satu program yang digelar yaitu Sistem Produksi Terpadu.
Sistem Produksi Terpadu yang telah diinisiasi sejak 2009 tersebut berfokus pada peningkatan kualitas hasil panen, efisiensi budidaya melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta kepastian penyerapan hasil tani.
Melalui program kemitraan, petani mendapatkan pendampingan teknis secara berkala dan transfer pengetahuan terkait praktik budidaya. Langkah tersebut diharapkan membuat petani mampu menjaga konsistensi mutu sekaligus menekan biaya usaha tani.

Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementan Abdul Roni Angkat mengatakan kunjungan lapangan menjadi momentum untuk melihat secara langsung penerapan teknologi dan pendampingan budidaya di tingkat petani.
"Melalui kunjungan lapangan ini, kita jadi lebih memahami implementasi rangkaian pendampingan teknik budidaya di tingkat lapangan sejak pembibitan hingga panen, memetakan tantangan riil para petani, serta memastikan penyerapan hasil panen tembakau oleh industri berjalan secara optimal untuk hasil yang sesuai standar mutu dan kualitas," ujarnya seperti dikutip, Senin (24/8/026).
Selain pendampingan, modernisasi pertanian juga dilakukan melalui dukungan alat mekanisasi panen. Kementan mendukung adanya bentuk-bentuk transformasi pertanian, termasuk penyaluran alat mekanisasi yang dialokasikan untuk membantu meningkatkan efisiensi kerja petani di lapangan.
Langkah tersebut menjadi penting mengingat petani tembakau masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan informasi dan inovasi, penyediaan sarana produksi pertanian, ketidakpastian cuaca, hingga hambatan dalam rantai tata niaga.
Dengan mekanisasi dan penerapan praktik budidaya yang lebih baik, proses produksi diharapkan menjadi lebih efisien. Petani juga dapat meningkatkan produktivitas tanpa hanya mengandalkan metode pertanian konvensional.
Program kemitraan tembakau di Jawa Tengah saat ini telah menjangkau lebih dari 10.000 petani mitra yang tersebar di Kabupaten Rembang, Grobogan, dan Wonogiri.
Kemitraan tersebut melibatkan pemerintah, pelaku industri, kelompok tani, serta komunitas petani untuk memperkuat ekosistem tembakau dari sisi hulu hingga hilir.
Selain meningkatkan kualitas hasil panen, program tersebut juga memberikan dampak terhadap perekonomian pedesaan.
Kemitraan dapat mendorong penyerapan tenaga kerja paruh waktu selama musim tanam hingga pascapanen, memperkuat usaha sarana pertanian lokal, serta meningkatkan perputaran ekonomi bagi pelaku UMKM di sekitar sentra tembakau.
Salah satu petani mitra, Ibu Iris, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Sukorejo, Kabupaten Rembang, mengatakan program kemitraan yang diikutinya sejak 2021 memberikan dampak terhadap produktivitas petani.
"Semenjak mengikuti program kemitraan, saya berhasil meningkatkan produktivitas budidaya tanaman tembakau. Sehingga mendapatkan hasil yang lebih optimal. Tidak hanya berhenti disitu, semenjak banyak warga desa saya yang ikut program kemitraan tembakau, desa kami juga menjadi lebih aman dan tidak rawan tindakan kriminal seperti pencurian motor yang seperti dulu," bebernya.
Dengan penguatan pendampingan, penerapan Good Agricultural Practices, serta pemanfaatan mekanisasi, sektor tembakau diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat daya saing petani dan keberlanjutan rantai pasok tembakau nasional.