- Krakatau Steel siapkan jalur Ro-Ro untuk efisiensi logistik 10–12%.
- Efisiensi logistik dinilai penting untuk memperkuat daya saing industri baja.
- KRAS dukung Zero ODOL 2027 demi rantai pasok yang aman dan efisien.
Suara.com - Persoalan logistik ternyata menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing industri baja nasional. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) bahkan mulai mengembangkan jalur distribusi alternatif untuk memangkas biaya dan membuat rantai pasok lebih efisien.
Langkah tersebut salah satunya dilakukan melalui layanan Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) Vessel yang menghubungkan Pelabuhan Cigading dengan Pelabuhan Panjang di Bandar Lampung. Jalur laut ini disebut memiliki potensi menciptakan efisiensi distribusi sekitar 10–12%.
Direktur Utama Krakatau Steel, Dr. Akbar Djohan, mengatakan persoalan logistik tidak bisa lagi dilihat sebatas aktivitas memindahkan barang dari satu lokasi ke lokasi lain. Logistik memiliki pengaruh langsung terhadap nilai tambah, struktur biaya, hingga harga produk yang diterima masyarakat.
“Logistik bukan hanya soal bagaimana barang berpindah dari pabrik, gudang, hingga konsumen, tetapi bagaimana logistik memberikan value added dan menggerakkan perputaran ekonomi secara luas,” ujar Akbar dalam kegiatan Krakatau Steel Goes to Campus di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Serang, Senin (24/8).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa efisiensi logistik menjadi bagian penting dari strategi industri, terutama bagi sektor yang memiliki rantai pasok panjang seperti baja.
Krakatau Steel Group melihat konektivitas antarpelabuhan sebagai salah satu ruang untuk meningkatkan efisiensi distribusi. Penggunaan layanan Ro-Ro dari Cigading menuju Panjang menjadi alternatif terhadap pola distribusi yang selama ini mengandalkan jalur darat.
Dengan potensi efisiensi 10–12%, perubahan jalur distribusi tersebut dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk menekan biaya logistik sekaligus meningkatkan daya saing produk.
Bagi industri baja, efisiensi menjadi semakin penting karena rantai bisnisnya tidak berdiri sendiri. Pergerakan produk baja melibatkan berbagai sektor mulai dari transportasi, pelabuhan, vendor, hingga tenaga kerja.
Akbar yang juga menjabat Chairman Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) dan Chairman Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) menilai industri baja memiliki efek domino yang luas terhadap perekonomian.
Karena itu, penguatan ekosistem industri baja dan logistik dinilai dapat menjadi salah satu fondasi untuk mendorong industrialisasi serta meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Namun, efisiensi logistik yang didorong Krakatau Steel tidak hanya berorientasi pada penurunan biaya.
Perusahaan juga menyatakan komitmennya mendukung penerapan Zero Over Dimension Over Loading (ODOL) 2027. Pengangkutan produk diarahkan menggunakan sarana transportasi sesuai kapasitas dan ketentuan yang berlaku.
Kebijakan tersebut menjadi penting karena persoalan kelebihan muatan tidak hanya menyangkut biaya angkut, tetapi juga keselamatan, umur infrastruktur jalan, serta keberlanjutan rantai distribusi.
Dengan demikian, efisiensi yang dibangun tidak semata-mata mencari ongkos transportasi termurah, tetapi juga memastikan proses distribusi berlangsung aman dan sesuai standar.
Pesan mengenai pentingnya efisiensi tersebut juga dibawa Krakatau Steel kepada mahasiswa melalui program Krakatau Steel Goes to Campus di Untirta.