Suara.com - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 bukan hanya merusak bangunan dan infrastruktur. Bencana ini juga menguji satu hal yang kerap luput terlihat dalam situasi darurat, yakni seberapa cepat denyut kehidupan bisa kembali berjalan.
Di Flores, salah satu jawabannya terlihat dari pemulihan distribusi energi. Berdasarkan data Pertamina per 25 Agustus 2026, seluruh 56 SPBU di wilayah Flores telah kembali beroperasi 100%. Sebanyak 56 SPBU tersebut tersebar di delapan kabupaten, yakni Ngada, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Flores Timur, Ende, dan Nagekeo.
Data pembaruan infrastruktur per 18 Agustus menunjukkan seluruh SPBU di masing-masing wilayah tersebut sudah beroperasi. Namun, Pertamina mencatat SPBU 54.86507 masih beroperasi dengan skema darurat.
Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Mufti Mubarok, melihat respons cepat Pertamina sebagai langkah penting dalam situasi bencana. Ia mengatakan energi adalah kebutuhan dasar sehingga menjaga BBM dan LPG tetap tersedia sama pentingnya dengan bantuan kemanusiaan.
“Kondisi NTT sendiri menunjukkan bahwa persoalan distribusi masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah kepulauan,” kata Mufti, Selasa (25/8/2026).
Pemulihan SPBU menjadi bagian penting dari penanganan bencana karena BBM dibutuhkan bukan hanya oleh masyarakat untuk kembali beraktivitas, tetapi juga oleh kendaraan yang mengangkut bantuan, tenaga kesehatan, maupun berbagai kebutuhan operasional di lapangan.
“Sebagian besar SPBU di Flores telah kembali beroperasi. Layanan lainnya dipulihkan secara bertahap dengan keselamatan sebagai prioritas,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik distribusi energi. Di tengah situasi pascagempa, BBM berarti ambulans dapat bergerak, kendaraan pengangkut logistik dapat melaju, alat berat dapat bekerja, dan masyarakat dapat kembali melakukan aktivitas ekonomi. Untuk itu, memulihkan pasokan energi pada dasarnya adalah bagian dari memulihkan kehidupan.
Pada saat yang sama, Pertamina menjalankan fungsi kemanusiaan melalui program Pertamina Peduli. Hingga 25 Agustus 2026, nilai bantuan yang telah tersalurkan mencapai Rp 1,717 miliar.
Skala bantuan tersebut dilakukan untuk merespons bencana tidak berhenti pada pemberian sembako saja. Dalam rincian bantuan yang telah disalurkan, Pertamina mencatat antara lain paket sembako, paket makanan siap santap, mi instan, telur, serta air mineral.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri bahkan turun langsung ke sejumlah titik pengungsian di Kabupaten Manggarai pada 17 Agustus. Kehadiran itu dimaksudkan untuk melihat langsung kondisi warga sekaligus memastikan bantuan tersampaikan.
Camat Palue Rudolfus Riba menyebut bantuan yang diberikan Pertamina ini sangat membantu masyarakat yang mengalami kerusakan cukup parah akibat gempa. Apresiasi semacam ini menunjukkan bahwa dalam situasi darurat, ukuran kehadiran bukan hanya seberapa besar bantuan dikirim, tetapi apakah bantuan itu sudah sampai kepada mereka yang membutuhkan.
"Kami sangat berterima kasih," ujarnya.
Untuk menjalankan seluruh respons tersebut, Pertamina mengerahkan 289 relawan. Sebanyak 220 orang merupakan relawan operasional distribusi dari FT Reo, FT Maumere dan FT Ende, kemudian 58 orang bertugas dalam penyaluran bantuan dan pengelolaan posko, serta 11 relawan medis.
Pertamina juga menyiapkan bantuan lanjutan senilai Rp 877,34 juta. Rencana itu mencakup dukungan kesehatan, perlengkapan, sembako dan makanan siap saji, serta air bersih.
Pola yang dilakukan Pertamina menghadapi situasi bencana dengan pendekatan serupa bukan kali pertama. Saat gempa dan tsunami Palu-Donggala pada 2018, misalnya, Pertamina mengerahkan puluhan mobil tangki dan bahkan menggunakan moda alternatif untuk menjaga pasokan BBM, hingga kembali memasok jutaan liter BBM ke wilayah terdampak.
Pada gempa Cianjur 2022, Pertamina memasok 20 ribu liter BBM untuk mendukung kendaraan operasional penanganan bencana, sembari menyalurkan sembako, obat-obatan, dukungan tenaga medis dan 12 ton beras untuk dapur umum.
Lalu ketika banjir dan longsor Sumatra pada 2025, Pertamina menjalankan dua fungsi sekaligus yaitu mengawal pasokan BBM dan LPG agar tetap tersedia.
Pengalaman itu membuat respons kebencanaan Pertamina tidak berhenti pada pembagian logistik, tetapi juga menyentuh aspek pemulihan rantai pasok dan mobilitas masyarakat.
Kini, Flores belum pulih secara utuh. Namun, ketika energi kembali mengalir dan bantuan terus menjangkau titik-titik terdampak, satu pesan menjadi jelas yaitu proses membangun kembali telah dimulai dengan aksi nyata dari lapangan. ***