- Pakar hukum Romli Atmasasmita mengapresiasi kinerja Polri dalam menjaga stabilitas keamanan saat unjuk rasa pada 27 Agustus 2026.
- Keberhasilan tersebut dicapai berkat penerapan konsep Presisi yang membuat Polri mampu memprediksi dan mencegah gangguan keamanan.
- Penerapan sistem pengamanan yang terencana rapi menunjukkan kesiapan struktural dan profesionalitas tinggi dari institusi kepolisian.
Suara.com - Pakar hukum, Romli Atmasasmita, memberikan apresiasi terhadap kinerja Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam menjaga stabilitas keamanan selama berlangsungnya aksi unjuk rasa pada 27 Agustus 2026.
Keberhasilan Korps Bhayangkara dalam mengawal dinamika aksi massa demonstrasi di lapangan dinilai sebagai bukti nyata dari kematangan sistem yang telah dibangun selama ini.
Penilaian yang diberikan oleh Romli Atmasasmita tidak hanya berfokus pada hasil akhir yang kondusif, melainkan juga menyoroti metodologi serta sistematisasi pengamanan yang diterapkan.
Menurutnya, Polri telah berhasil mengimplementasikan sistem pengamanan yang berpola dan tertata secara rapi, yang berakar pada landasan filosofis serta operasional yang kuat.
Implementasi Konsep Presisi di Lapangan
Dalam pandangan Romli, kunci utama keberhasilan pengamanan tersebut terletak pada penerapan konsep Presisi, akronim dari Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan.
Konsep itu disebutnya bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi panduan operasional dalam menghadapi berbagai bentuk gangguan terhadap keamanan dan ketertiban umum (kamtibmas), terutama saat menghadapi aksi massa dalam skala besar.
Romli menekankan bahwa apa yang terlihat di lapangan pada 27 Agustus lalu merupakan hasil dari sebuah proses panjang yang melibatkan perencanaan matang dan pelatihan yang dilakukan secara sistematis.
Pendekatan ini mengubah paradigma kepolisian dari yang sebelumnya cenderung reaktif menjadi lebih proaktif dan terukur.
“Pendekatan berbasis konsep Presisi memungkinkan Polri untuk tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga mampu memprediksi potensi gangguan dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang efektif jauh sebelum situasi memanas”, ujar Romli dalam wawancara dengan awak media (28/8/2026).
Kesiapan Struktural dan Prediksi Gangguan
Keunggulan sistem yang dimiliki Polri saat ini, menurut Romli, terletak pada kemampuan institusi dalam memetakan risiko.
Dengan kemampuan prediktif, Polri dapat membaca arah pergerakan massa serta potensi penyusupan pihak-pihak yang ingin menciptakan kericuhan.
Hal ini memungkinkan penempatan personel dan peralatan dilakukan secara tepat sasaran tanpa harus melakukan tindakan represif yang berlebihan.
Lebih lanjut, Romli menegaskan bahwa keberhasilan ini mencerminkan adanya kesiapan struktural yang sangat solid di dalam institusi kepolisian.