- Emas Antam diprediksi bergerak Rp2,6 juta-Rp2,81 juta/gram.
- Pelemahan rupiah berpotensi membatasi koreksi harga emas.
- Geopolitik dan kebijakan The Fed jadi pemicu volatilitas emas.
Suara.com - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada pekan ini. Pergerakan harga logam mulia akan dibayangi dinamika rupiah, harga emas dunia, dolar AS, hingga ketegangan geopolitik global.
Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga emas Antam akan bergerak dalam rentang Rp2,6 juta hingga Rp2,81 juta per gram dalam sepekan ke depan.
Proyeksi tersebut mengacu pada posisi harga emas Antam yang pada perdagangan sebelumnya ditutup di level Rp2,711 juta per gram.
“Untuk logam mulia sendiri, kemarin logam mulia Antam ditutup di Rp2.711.000 per gram. Apabila terkoreksi di Rp2.688.000 per gram, apabila terkoreksi kembali itu di Rp2.600.000 per gram,” kata Ibrahim dalam risetnya, Senin (31/8/2026).
Meski terdapat ruang penurunan, Ibrahim melihat koreksi harga emas Antam kemungkinan tidak terlalu dalam. Salah satu penahannya adalah potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut penting karena harga emas domestik tidak hanya mengikuti pergerakan emas dunia, tetapi juga dipengaruhi kurs rupiah. Ketika rupiah melemah, harga emas dalam denominasi rupiah cenderung mendapat dorongan.
“Kita lihat bahwa besok kemungkinan rupiah melemah dan koreksi ini kemungkinan terbatas akibat rupiahnya yang melemah cukup tajam,” ujarnya.
Dengan demikian, pelemahan rupiah justru bisa menjadi bantalan bagi harga emas Antam ketika harga emas dunia mengalami koreksi.
Dari sisi teknikal, Ibrahim menyebut Rp2,731 juta per gram sebagai level resistensi pertama yang perlu diperhatikan.
Jika level tersebut berhasil ditembus dan penguatan berlanjut, harga emas Antam berpotensi naik menuju Rp2,81 juta per gram dalam sepekan.
“Resistensi pertama untuk logam mulia kemungkinan besar kalau seandainya naik di Rp2.731.000 per gram. Kemudian kalau seandainya menguat lagi dalam sepekan itu di Rp2.810.000 per gram,” kata Ibrahim.
Sebaliknya, jika harga berbalik turun, level Rp2,688 juta menjadi area yang perlu dicermati. Apabila tekanan jual semakin kuat, harga berpotensi menguji Rp2,6 juta per gram.
Artinya, terdapat rentang pergerakan sekitar Rp210.000 per gram antara skenario terendah dan tertinggi yang diproyeksikan Ibrahim.
Fluktuasi emas tidak berdiri sendiri. Ibrahim menilai sejumlah indikator global masih berpotensi menggerakkan harga logam mulia, mulai dari harga emas dunia, indeks dolar AS, minyak West Texas Intermediate (WTI), hingga perkembangan geopolitik.
Salah satu perhatian datang dari Amerika Latin, khususnya perkembangan Venezuela dan kemungkinan perubahan posisi negara tersebut terhadap Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Perubahan kebijakan Venezuela dapat berdampak terhadap pasokan minyak global. Jika produksi dan pasokan meningkat signifikan, pasar minyak berisiko menghadapi oversupply yang kemudian dapat memengaruhi harga energi dan sentimen pasar global.
Di sisi lain, ketegangan Iran dan Amerika Serikat terkait Selat Hormuz juga menjadi sumber ketidakpastian.
“Antara Iran dan Amerika ini saling mengklaim tentang Selat Hormuz. Kita lihat bahwa Amerika mengatakan bahwa blokade di Selat Hormuz itu sampai saat ini sudah dilakukan oleh armada laut Amerika. Tetapi Teheran sendiri mengklaim bahwa kendali atas jalur perairan vital tersebut dikuasai oleh Iran,” ujar Ibrahim.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia. Karena itu, eskalasi di kawasan tersebut dapat meningkatkan volatilitas harga energi sekaligus mendorong perubahan sentimen investor terhadap aset safe haven seperti emas.
Risiko geopolitik juga datang dari Eropa Timur. Ibrahim menyoroti perang Rusia-Ukraina dan meningkatnya keterlibatan negara-negara anggota NATO, khususnya Inggris.
Menurut dia, eskalasi konflik dapat memberikan tekanan terhadap pasar komoditas, terutama minyak mentah.
“Kalau kita lihat ke Eropa Timur, perang antara Rusia dan Ukraina ini cukup mengkhawatirkan. Karena keterlibatan negara-negara anggota NATO, terutama Inggris, sehingga ada kemungkinan besar memanasnya situasi di Eropa Timur ini akan mendongkrak harga minyak mentah yang kemungkinan besar akan kembali ke level 90,” katanya.
Kenaikan harga minyak dapat menjadi persoalan tersendiri bagi perekonomian global karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi. Pada saat yang sama, ketidakpastian geopolitik biasanya meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, termasuk emas.
Faktor terakhir yang tak kalah penting adalah kondisi perekonomian Amerika Serikat dan arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Ibrahim menilai inflasi AS masih menjadi perhatian pasar. Pernyataan serta arah kebijakan bank sentral AS dapat memengaruhi dolar, imbal hasil obligasi, dan pada akhirnya harga emas dunia.
“Inflasi ini masih cukup tinggi. Kemudian beliau juga menyampaikan beberapa pernyataan kunci tentang arah kebijakan moneter dan prinsip kepemimpinannya. Dia mengatakan bahwa saat ini pasar itu jangan melihat terhadap bank sentralnya, tapi melihat terhadap perekonomiannya,” tegasnya.