- Kilang Pertamina RU VI Balongan di Indramayu memasok 80 persen kebutuhan energi wilayah Jawa dan sekitarnya.
- Kapal penunjang Transko Dara 3218 milik PTK membantu proses sandar kapal tanker migas di Indramayu.
- Amran Reza menyatakan kesiapsiagaan kapal PTK selama 24 jam bertujuan menjaga keamanan rantai pasok energi nasional.
Suara.com - PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit VI (RU VI) Balongan memiliki peran penting dalam menjaga distribusi energi di wilayah Jawa bagian Barat. Kilang yang berada di Indramayu, Jawa Barat, tersebut disebut berkontribusi terhadap sekitar 80 persen distribusi energi untuk Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.
Selain wilayah tersebut, distribusi energi dari RU VI Balongan juga mencakup sejumlah daerah lain, seperti Pontianak, Banjarmasin, Kotabaru, hingga beberapa wilayah di Indonesia Timur.
Besarnya cakupan distribusi tersebut membuat kelancaran aktivitas di Terminal Khusus (Tersus) RU VI Balongan menjadi salah satu bagian penting dalam rantai pasok energi.
Dalam operasionalnya, aktivitas kapal tanker pengangkut produk minyak dan gas (migas) didukung oleh sejumlah kapal penunjang milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK).

Salah satunya adalah Transko Dara 3218. Kapal tersebut bertugas membantu proses kapal tanker saat akan merapat atau lepas sandar dari Tersus RU VI.
Kapal berukuran lebih kecil tersebut juga membantu mobilisasi personel menuju Single Point Mooring (SPM), yakni pelampung terapung di lepas pantai yang menjadi tempat sandar kapal tanker sekaligus sarana penyaluran muatan cair seperti minyak bumi.
Vice President Legal & Relation Pertamina Trans Kontinental Amran Reza mengatakan keberadaan kapal penunjang menjadi bagian penting dalam memastikan aktivitas kapal tanker berjalan aman.
"Proses operasional pelabuhan bagi kapal besar termasuk aspek yang kritikal, terlebih kapal tanker di wilayah Tersus RU VI merupakan pembawa produk migas yang berisiko tinggi. Serangkaian proses sandar maupun lepas sandar didukung oleh kapal-kapal PTK, sebagai simpul dari kegiatan maritim untuk menjaga aspek keselamatan, kesiapsiagaan terhadap potensi resiko, hingga kepatuhan terhadap regulasi," ujar Amran di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Menurut Amran, kapal-kapal penunjang PTK disiagakan selama 24 jam sehari untuk mengikuti pergerakan kapal tanker Pertamina.
Khusus Transko Dara 3218, kapal tersebut rata-rata beroperasi hingga tiga kali dalam sehari. Operasional dilakukan secara bergantian dengan kapal-kapal penunjang PTK lainnya yang berada di RU VI.
Dengan cakupan distribusi energi yang luas dari RU VI Balongan, aktivitas kapal penunjang tersebut menjadi bagian dari rangkaian logistik yang mendukung pasokan energi ke berbagai wilayah.
"Dengan cakupan distribusi energi di RU VI, layanan PTK turut berkontribusi dalam mendukung rantai distribusi energi nasional," ujar Amran.
PTK merupakan bagian dari Subholding Integrated Marine Logistics Pertamina yang menyediakan solusi maritim dan logistik terintegrasi.
Saat ini, PTK memiliki 370 kapal milik dan 90 kapal sewa yang beroperasi di seluruh wilayah Indonesia. Armada tersebut digunakan untuk mendukung kebutuhan maritim dan logistik energi.
"PTK senantiasa menjaga keandalan armada dan layanan maritim. Para pelaut dan tenaga profesional PTK juga berkomitmen menjaga aktivitas operasional sesuai standar dan regulasi yang berlaku, serta mengedepankan aspek keselamatan dan keamanan kerja," pungkas Amran.