- Harga minyak dunia naik pada Selasa akibat bentrokan militer antara Amerika Serikat dan Iran.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan global.
- Pemerintah Amerika Serikat menyepakati pengelolaan cadangan minyak Venezuela guna mengisi kembali cadangan strategis nasional.
Suara.com - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan Selasa (1/9/2026).
Kenaikan ini dipicu oleh kembalinya bentrokan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah, yang memperkuat kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan dari wilayah penghasil minyak utama global tersebut.
Mengutip dari Reuters, pada perdagangan dini hari (00.44 GMT), harga minyak mentah berjangka jenis Brent menguat 56 sen atau 0,6 persen menjadi 91,05 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS naik 83 sen atau 1 persen ke posisi 86,59 dolar AS per barel.
Penguatan ini melanjutkan lonjakan pada sesi sebelumnya, di mana Brent ditutup melesat 2,7 persen dan WTI naik 2,8 persen.
Presiden AS, Donald Trump mengancam akan melakukan serangan balasan lanjutan terhadap Iran menyusul kontak senjata langsung kedua negara yang kembali pecah pada Minggu lalu.
![Presiden AS, Donald Trump. [IG/realdonaldtrump]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/21/79037-presiden-as-donald-trump.jpg)
Ancaman tersebut meningkatkan kembali tensi geopolitik setelah sempat mereda menjadi konfrontasi ekonomi.
Analis Pasar Senior KCM, Tim Waterer, menilai eskalasi ini mengembalikan risiko potensi serangan balasan dari pihak Iran ke dalam kalkulasi pasar.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran atas kerusakan infrastruktur energi di sekitar kawasan Gulf serta ketidakpastian jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Berdasarkan data pelayaran Kpler, jumlah kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz turun drastis menjadi hanya lima kapal per hari selama akhir pekan.
Jalur strategis yang menyalurkan sekitar sepertiga pasokan minyak mentah dunia tersebut ditutup oleh Iran pascaserangan AS dan Israel pada akhir Februari lalu.
Hingga saat ini, upaya mediasi yang diusahakan Qatar dan Oman untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut belum membuahkan hasil.
Risiko gangguan pelayaran makin nyata setelah lembaga UK Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sebuah kapal tanker dihantam tiga proyektil saat keluar dari Selat Hormuz pada Selasa.
Kendati demikian, tidak ada korban jiwa maupun dampak pencemaran lingkungan yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Di sisi lain, Presiden Trump mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela untuk mengelola cadangan minyak di negara tersebut.
Langkah ini direncanakan guna mengisi kembali Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS yang saat ini berada di level terendah dalam 44 tahun terakhir, yaitu menyusut 3,1 juta barel menjadi 286,6 juta barel pada pekan lalu.

Sejumlah perusahaan energi global seperti Chevron, GE Vernova, ONGC, Eni, dan GeoPark dikabarkan bersiap menandatangani kesepakatan proyek energi di Venezuela.
Para analis memperkirakan harga minyak mentah dunia akan tetap bertahan di atas level 80 dolar AS per barel sepanjang tahun 2026 seiring berlanjutnya gangguan pada jalur distribusi laut global.