Kemarau dan Hama Mengintai, Panen Cabai Terancam Anjlok

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 02 September 2026 | 08:10 WIB
Kemarau dan Hama Mengintai, Panen Cabai Terancam Anjlok
Petani cabai di Jember menjerit, tanaman banyak yang busuk [SuaraMalang/Adi Permana]
baca 10 detik
  • Kemarau panjang berpotensi meningkatkan tekanan hama pada tanaman cabai.
  • Thrips mengancam pucuk, daun, bunga, hingga kualitas buah cabai.
  • SIMODIS® diluncurkan untuk membantu petani mengendalikan serangan thrips.

Suara.com - Petani cabai menghadapi ancaman ganda yang berpotensi menekan hasil panen. Tak hanya kekeringan akibat musim kemarau, serangan hama seperti thrips juga menjadi persoalan yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hingga menurunkan kualitas buah cabai.

Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah potensi perubahan pola musim yang membuat periode kemarau berlangsung lebih panjang. Fenomena El Niño, misalnya, berpotensi membuat musim kemarau datang lebih awal sekaligus menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan sejumlah organisme pengganggu tanaman (OPT).

Tekanan ini menjadi semakin penting bagi daerah sentra produksi cabai seperti Kabupaten Jember, Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi cabai di Jember mencapai 176.234 kuintal sepanjang 2024.

Di tengah ancaman tersebut, inovasi perlindungan tanaman mulai didorong untuk membantu petani mengantisipasi serangan hama. Syngenta Indonesia resmi meluncurkan SIMODIS®, insektisida berbasis teknologi PLINAZOLIN®, yang ditujukan untuk membantu mengendalikan serangan thrips pada tanaman cabai.

Peluncuran SIMODIS® untuk tanaman cabai tersebut dilakukan di Jember dan dihadiri 285 petani dari Jember dan Banyuwangi. Jember dipilih karena menjadi salah satu sentra produksi cabai di Jawa Timur.

National Sales Head Syngenta Indonesia Fauzi Tubat mengatakan, petani hortikultura saat ini menghadapi sedikitnya tiga tantangan utama yang dapat memengaruhi produktivitas, yakni kekeringan, ketidakpastian harga komoditas, serta serangan hama dan penyakit.

“Petani hortikultura, termasuk cabai, menghadapi tiga tantangan utama, yaitu kekeringan, harga komoditas yang tidak menentu, serta hama dan penyakit yang memengaruhi produksi,” ujar Fauzi.

Menurut dia, kekeringan dan fluktuasi harga merupakan faktor yang relatif berada di luar kendali petani. Namun, pengendalian hama dan penyakit masih dapat diupayakan melalui penggunaan teknologi perlindungan tanaman yang tepat.

“Dua hal pertama berada di luar kendali kita, namun untuk hama dan penyakit, kita dapat mengupayakannya melalui penggunaan produk perlindungan tanaman yang tepat,” katanya.

baca juga

Serangan thrips menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi berbagai bagian tanaman cabai, mulai dari pucuk, daun, bunga hingga buah.

Pengendalian yang efektif diharapkan dapat membantu menjaga kondisi tanaman agar tetap sehat. Tekanan serangan thrips yang lebih terkendali dapat membantu menjaga pucuk tanaman, mengurangi keriput atau menggulungnya daun, serta mempertahankan kondisi bunga agar tidak mudah rontok.

Jika pertumbuhan tanaman dan proses pembungaan berjalan lebih baik, risiko terbentuknya buah cabai yang bengkok juga dapat ditekan. Hal ini pada akhirnya berpotensi membantu petani mempertahankan kualitas dan nilai jual hasil panen.

Syngenta menyebut SIMODIS® hadir dengan tiga keunggulan yang dirangkum dalam konsep “Jago, Unggul, Sempurna”, yakni jago melawan thrips, membantu menghasilkan pucuk yang merekah dan daun sehat, serta mendukung bunga dan buah yang lebih mulus.

Product Manager Syngenta Indonesia Tracy Tey Hui Xiang menekankan bahwa teknologi perlindungan tanaman perlu digunakan secara bertanggung jawab agar efektivitasnya dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

“SIMODIS® merupakan teknologi terobosan yang harus digunakan secara bertanggung jawab. Petani perlu mengikuti petunjuk penggunaan pada label dan menerapkan rotasi mode of action atau cara kerja bahan aktif untuk membantu memperlambat terbentuknya resistensi,” ujar Tracy.

Untuk tanaman cabai, SIMODIS® direkomendasikan diaplikasikan pada 28, 35 dan 42 hari setelah tanam (HST), dengan dosis 600 ml per hektare atau konsentrasi 1,2 ml per liter. Volume semprot yang disarankan mencapai 500 liter per hektare.

Petani cabai Arif Saifur Rohman mengatakan penggunaan SIMODIS® membantunya mengendalikan serangan thrips pada tanaman cabai.

“Saya mengandalkan SIMODIS® untuk mengendalikan serangan thrips. Hasilnya, tanaman cabai saya terjaga mulai dari pucuk, daun, hingga bunga. Panen meningkat dan kualitas buah lebih baik,” ungkap Arif.

Dia juga menyebut jumlah buah cabai yang bengkok berkurang sehingga nilai jual hasil panennya menjadi lebih tinggi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Berharap Hujan Segera Turun, Masjid Agung Al-Azhar Gelar Shalat Istisqa

Berharap Hujan Segera Turun, Masjid Agung Al-Azhar Gelar Shalat Istisqa

Foto | Selasa, 01 September 2026 | 19:13 WIB

Ulat Sagu yang Dianggap Hama Ternyata Berpotensi Jadi Sumber Protein, Bagaimana Caranya?

Ulat Sagu yang Dianggap Hama Ternyata Berpotensi Jadi Sumber Protein, Bagaimana Caranya?

Lifestyle | Senin, 31 Agustus 2026 | 14:37 WIB

Karhutla Kembali Melanda Kariangau Balikpapan

Karhutla Kembali Melanda Kariangau Balikpapan

Foto | Senin, 31 Agustus 2026 | 08:00 WIB

Terkini

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

News | Jum'at, 04 September 2026 | 00:32 WIB

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Pertama Kali Donor Darah? Simak Panduan dan Persiapannya dari Aksi Indodana Finance-KSDD

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 00:24 WIB

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Karhutla Masuk Area Konsesi, Lebih dari 10 Perusahaan Perkebunan Sumsel Diminta Klarifikasi

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 23:14 WIB

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

FT Timnas Indonesia U-20 vs Laos: Zahaby Gholy Cetak Brace, Garuda Muda Puncak Klasemen

Bola | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Donald Trump Bantah Rencana Ganti Nama Selat Hormuz dengan Namanya Sendiri

Video | Kamis, 03 September 2026 | 23:00 WIB

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Kebakaran Renggut Nyawa 3 Pekerja, PT Evyap Beri Bantuan dan Evaluasi Operasional

Sumut | Kamis, 03 September 2026 | 22:58 WIB

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Karhutla Sumsel Terus Berulang, Ketimpangan Agraria Kembali Dipertanyakan

Sumsel | Kamis, 03 September 2026 | 22:52 WIB

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Dari 566 Korban Keracunan Massal Sidoarjo, Tersisa 34 Santri Masih Dirawat di RS

Jatim | Kamis, 03 September 2026 | 22:49 WIB

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Kali Bekasi Hitam Pekat dan Berbau

Jabar | Kamis, 03 September 2026 | 22:42 WIB

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Polisi Bongkar Jaringan Merkuri Ilegal 1 Ton Senilai Rp2,8 Miliar, Pasok Tambang Emas di 3 Wilayah

Bogor | Kamis, 03 September 2026 | 22:38 WIB

×