Ulat Sagu yang Dianggap Hama Ternyata Berpotensi Jadi Sumber Protein, Bagaimana Caranya?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 31 Agustus 2026 | 14:37 WIB
Ulat Sagu yang Dianggap Hama Ternyata Berpotensi Jadi Sumber Protein, Bagaimana Caranya?
Ilustrasi Seseorang sedang memanen ulat sagu yang telah dikeringkan (dok.Pexels/Quang Nguyen Vinh)

Suara.com - Sagu bukan hanya tanaman pangan. Tanaman asli Indonesia ini juga memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan berpotensi menjadi sumber pangan alternatif karena kandungan pati resistennya yang tinggi.

Namun, pengembangan sagu menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya serangan Rhynchophorus spp. atau yang dikenal sebagai ulat sagu.

Alih-alih hanya membasmi hama tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melihat adanya peluang lain: memanfaatkan larva ulat sagu sebagai sumber protein alternatif sekaligus bahan baku pangan, pakan, dan industri.

"Tantangannya bukan sekadar bagaimana membasmi ulat sagu, tetapi juga bagaimana mengelola dan memanfaatkannya secara aman, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi," kata Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Setiari Marwanto, dalam Webinar EstCrops_Corner #31, Jumat (28/8).

Berpotensi untuk diversifikasi pangan

Kepala ORPP BRIN Puji Lestari mengatakan ulat sagu memiliki peluang strategis untuk mendukung diversifikasi pangan nasional.

Selain sebagai sumber protein, larva tersebut berpotensi dikembangkan menjadi bahan baku industri sekaligus membuka sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

Ulat sagu memiliki posisi yang unik. Di satu sisi, larvanya dapat merusak batang sagu dan menurunkan produktivitas tanaman. Di sisi lain, masyarakat telah lama memanfaatkan larva tersebut sebagai pangan tradisional.

Karena itu, BRIN mendorong penelitian yang dapat mempertemukan dua kepentingan tersebut: mengendalikan serangan hama sekaligus memanfaatkan potensi sumber daya hayatinya.

baca juga

"Di satu sisi memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif yang berkelanjutan, tetapi di sisi lain juga berperan sebagai hama," ujar Puji.

Kapan ulat sagu paling potensial dimanfaatkan?

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN, Rein E. Senewe, menemukan potensi pemanfaatan biomassa larva melalui kajian bioekologi Rhynchophorus spp. pada tanaman sagu.

Rein mengamati perkembangan larva pada batang sagu yang telah ditebang. Ia kemudian mengidentifikasi lima tahap perkembangan atau instar untuk mengetahui pola pertumbuhan dan menentukan fase yang paling potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein.

Hasil pengamatannya menunjukkan biomassa larva berada pada kondisi potensial untuk dimanfaatkan sekitar 75–90 hari setelah batang sagu ditebang. Biomassa maksimum yang diamati mencapai sekitar 4,62 gram.

Larva tersebut kemudian dapat diolah menjadi tepung kering. Produk yang dihasilkan memiliki kadar protein hingga 60%, serta mengandung lemak dan asam lemak omega 3, 6, dan 9.

"Potensi tersebut yang membuat ulat sagu menarik untuk dikaji lebih jauh sebagai sumber protein alternatif di tengah kebutuhan terhadap sumber pangan berkelanjutan," kata Rein.

Namun, kandungan nutrisi bukan satu-satunya pertimbangan.

Menurut Rein, pemanfaatan ulat sagu sebagai pangan harus mempertimbangkan aspek bioekologi dan keamanan pangan, termasuk risiko penyebaran atau meningkatnya serangan hama.

Identifikasi spesies juga menjadi tantangan

Penelitian terhadap ulat sagu juga membutuhkan identifikasi spesies yang akurat.

Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi ORHL BRIN, Anang Setyo Budi, mengatakan identifikasi tidak cukup dilakukan berdasarkan warna atau bentuk tubuh.

Peneliti perlu menggabungkan karakter morfologi, morfometri, genitalia, hingga analisis molekuler melalui pendekatan taksonomi integratif.

Hal ini penting karena terdapat spesies yang memiliki kemiripan morfologi, seperti R. vulneratus dan R. ferrugineus, sehingga berpotensi keliru diidentifikasi.

Di Indonesia, R. vulneratus lebih banyak ditemukan di wilayah barat, sementara R. bilineatus diketahui berasosiasi dengan ekosistem sagu di wilayah timur.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ulat sagu tidak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Serangga yang selama ini dipandang sebagai hama juga memiliki potensi sebagai sumber pangan dan bagian dari rantai ekonomi baru berbasis sumber daya lokal.

Karena itu, BRIN mendorong penguatan riset multidisiplin yang menggabungkan bioekologi, biosistematika, nutrisi, keamanan pangan, industri, dan ekonomi.

Tujuannya bukan sekadar menemukan cara memanfaatkan ulat sagu, tetapi mencari keseimbangan antara menjaga produktivitas tanaman sagu, memastikan keamanan pemanfaatannya, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Penulis: Chairunisa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Teknologi Mengubah Cara Belajar, Guru Kini Jadi Inovator di Era Digital

Teknologi Mengubah Cara Belajar, Guru Kini Jadi Inovator di Era Digital

Lifestyle | Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:19 WIB

Sekolah Ramah Anak Tak Selalu Dimulai dari Hal Besar, Dua Inovasi Siswa Ini Buktinya

Sekolah Ramah Anak Tak Selalu Dimulai dari Hal Besar, Dua Inovasi Siswa Ini Buktinya

Lifestyle | Selasa, 18 Agustus 2026 | 22:22 WIB

Smart Stick Berbasis AI Karya Siswa Indonesia Dilirik Profesor China, Apa Keunggulannya?

Smart Stick Berbasis AI Karya Siswa Indonesia Dilirik Profesor China, Apa Keunggulannya?

Lifestyle | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:13 WIB

Terkini

Dari Anak Sekolah hingga Orang Dewasa, 330 Warga Tangerang Dapat Akses Pendidikan

Dari Anak Sekolah hingga Orang Dewasa, 330 Warga Tangerang Dapat Akses Pendidikan

Banten | Senin, 14 September 2026 | 20:29 WIB

Eks TA DPR Adi Harnowo Bantah Terlibat Penjualan Pita Cukai Palsu

Eks TA DPR Adi Harnowo Bantah Terlibat Penjualan Pita Cukai Palsu

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 20:21 WIB

Nikmati Cashback 20% Pakai QRIS BRImo di Cafe Kissa

Nikmati Cashback 20% Pakai QRIS BRImo di Cafe Kissa

Bri | Senin, 14 September 2026 | 20:18 WIB

Malam Ini, Kualitas Udara di Pekanbaru Sangat Tidak Sehat

Malam Ini, Kualitas Udara di Pekanbaru Sangat Tidak Sehat

Riau | Senin, 14 September 2026 | 20:17 WIB

Besok Sekolah Palembang Masuk atau Masih Daring? Ini Patokan ISPU untuk Tatap Muka

Besok Sekolah Palembang Masuk atau Masih Daring? Ini Patokan ISPU untuk Tatap Muka

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 20:16 WIB

Warga Rempang Dicekik hingga Diteror Intel Usai Tolak Sekolah Merah Putih di Tanah Adat

Warga Rempang Dicekik hingga Diteror Intel Usai Tolak Sekolah Merah Putih di Tanah Adat

News | Senin, 14 September 2026 | 20:11 WIB

Pencarian Hari Ketujuh Jurnalis Hilang, Tim SAR Fokus ke Wilayah Ditemukannya Life Jacket

Pencarian Hari Ketujuh Jurnalis Hilang, Tim SAR Fokus ke Wilayah Ditemukannya Life Jacket

Video | Senin, 14 September 2026 | 20:05 WIB

Dibalik Pencopotan Purbaya: Ada Andil Bos Pajak-Bea Cukai dan Geng SMI?

Dibalik Pencopotan Purbaya: Ada Andil Bos Pajak-Bea Cukai dan Geng SMI?

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 20:03 WIB

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

News | Senin, 14 September 2026 | 19:58 WIB

Dukung Tumbuh Kembang Anak Sungai Rebo, Kilang Plaju Salurkan PMT di Posyandu Asparagus

Dukung Tumbuh Kembang Anak Sungai Rebo, Kilang Plaju Salurkan PMT di Posyandu Asparagus

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 19:56 WIB

×