- ERAA siapkan Rp500 miliar untuk buyback maksimal 797,5 juta saham.
- Buyback berlangsung 4 September-4 Desember 2026 lewat BEI.
- Saham ERAA naik 3,85% ke Rp540, level tertinggi 52 minggu.
Suara.com - PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) emiten milik Rebecca Halim istri Sugianto Kusuma alias Aguan menyiapkan dana hingga Rp500 miliar untuk membeli kembali saham perseroan atau share buyback. Aksi korporasi ini dilakukan di tengah kondisi pasar modal yang masih menghadapi volatilitas signifikan.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang diterbitkan pada Rabu (3/9/2026) ERAA berencana melakukan pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp500 miliar, termasuk biaya perantara pedagang efek dan biaya lainnya.
Program tersebut akan berlangsung selama tiga bulan, mulai 4 September hingga 4 Desember 2026, melalui perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perseroan menunjuk PT Ciptadana Sekuritas Asia untuk melaksanakan transaksi pembelian kembali saham tersebut.
Jika seluruh anggaran digunakan, ERAA memperkirakan dapat membeli sebanyak-banyaknya 797,5 juta saham, atau setara maksimal 5% dari modal disetor perseroan.
Langkah ini dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 13 Tahun 2023 serta SEOJK No. S-10/D.04/2026 mengenai kebijakan pembelian kembali saham perusahaan terbuka dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.
Buyback kali ini bukan menjadi aksi pertama ERAA. Dalam keterbukaan informasinya, perseroan mencatat telah melakukan sejumlah pembelian kembali saham dalam beberapa periode sebelumnya.
Setelah memperhitungkan aksi korporasi stock split dengan rasio 1:5 serta program MESOP tahap I 2025, akumulasi saham hasil buyback ERAA tercatat mencapai 601.587.822 saham.
Dengan adanya rencana tambahan pembelian hingga 797,5 juta saham, jumlah saham yang terkait dengan program buyback perseroan berpotensi semakin besar.
Manajemen menegaskan pembelian saham akan dilakukan pada harga yang dinilai baik dan wajar oleh Direksi, dengan tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.
Menariknya, ERAA memastikan dana untuk membiayai aksi tersebut berasal dari kas internal perseroan, bukan dari pembiayaan eksternal.
Manajemen menilai penggunaan dana tersebut tidak akan mengganggu kegiatan operasional maupun prospek pertumbuhan perusahaan. Perseroan mengklaim masih memiliki modal dan arus kas yang memadai untuk menjalankan bisnis sekaligus membiayai buyback.
Namun, konsekuensi finansialnya tetap terlihat pada neraca.
Dalam simulasi berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, jika seluruh dana Rp500 miliar digunakan untuk buyback, total aset ERAA diproyeksikan turun dari Rp28,86 triliun menjadi Rp28,36 triliun.
Sementara itu, ekuitas diperkirakan turun dari Rp10,18 triliun menjadi Rp9,68 triliun. Di sisi lain, laba bersih dalam simulasi tersebut tidak berubah, yakni tetap sekitar Rp1,20 triliun.