- Rupiah menguat 0,47% ke Rp17.679 per dolar AS.
- Dolar AS tertekan akibat data pekerjaan yang mengecewakan.
- Pelantikan Destry ikut memperkuat sentimen positif terhadap rupiah.
Suara.com - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali mendapat tekanan di pasar keuangan Asia. Imbasnya, rupiah justru mampu menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (3/9/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp17.679 per dolar AS pada Kamis (3/9/2026). Posisi tersebut menguat 84 poin atau 0,47% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.733 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi ketika sentimen terhadap dolar AS memburuk di pasar global. Investor merespons data ekonomi AS yang mengecewakan serta pernyataan pejabat bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang dinilai semakin dovish.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah.
"Rupiah ditutup menguat cukup tajam terhadap dolar AS di tengah pelemahan dolar AS setelah data pekerjaan yang mengecewakan serta pernyataan dovish pejabat The Fed William," kata Lukman saat dihubungi Suara.com.
Selain faktor eksternal, sentimen dari dalam negeri turut memberikan tenaga tambahan bagi rupiah. Pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar.
Menurut Lukman, penegasan mengenai independensi BI turut memperbaiki persepsi investor terhadap arah kebijakan moneter Indonesia.
"Sentimen domestik sendiri membaik pasca pelantikan Destry yang menegaskan independensi BI," ujarnya.
Penguatan rupiah juga tidak terjadi sendirian. Mayoritas mata uang Asia tercatat menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini.
Yen Jepang menjadi mata uang Asia dengan penguatan paling besar, yakni mencapai 1,06%. Posisi berikutnya ditempati baht Thailand yang menguat 0,70%.
Sementara itu, dolar Singapura menguat 0,20%, disusul won Korea Selatan sebesar 0,16%.
Mata uang Asia lainnya juga mencatat penguatan, meski lebih terbatas. Ringgit Malaysia naik 0,02% dan peso Filipina menguat 0,01%.
Di tengah mayoritas mata uang Asia yang menghijau, dolar Taiwan justru menjadi satu-satunya yang melemah, yakni turun 0,10% terhadap dolar AS.