- Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke level Rp17.773 per dolar AS pada hari Rabu, 2 September.
- Pelemahan rupiah disebabkan oleh konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta penguatan dolar AS.
- Rupiah turun 22 poin atau 0,12 persen dibandingkan perdagangan hari sebelumnya di pasar Asia.
Suara.com - Rupiah masih belum bisa keluar dari tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan pagi ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Rabu 2 September dibuka ke level Rp17.773 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini melemah 22 poin atau turun 0,12 persen persen pada hari sebelumnya yang ada di Rp17.744 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan rupiah melemah disebabkan konflik di Timur Tengah yang makin memanas. Apalagi, kenaikan harga minyak dunia memberikan tekanan pada mata uang Garuda.
"Rupiah melemah terhadap dolar AS di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah dunia, serta penguatan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS. Range Rp17.700-Rp17.800," jelasnya.
Sementara itu, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,37 persen. Disusul, baht Thailand ambles 0,21 persen.
![Ilustrasi Yen. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/06/44017-ilustrasi-yen.jpg)
Selanjutnya ada yen Jepang tertekan 0,12 persen. Lalu ada ringgit Malaysia dan dolar Taiwan yang sama-sama terkoreksi 0,11 persen.
Berikutnya, dolar Singapura tergelincir 0,06 persen dan yuan China turun 0,02 persen. Diikuti, dolar Hong Kong melemah tipis 0,005 persen.
Sedangkan, won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat setelah naik 0,18 persen terhadap the greenback