Anggaran Cegah Karhutla Seret, Pemerintah Baru Bisa Bergerak Saat Api Membesar

Mohammad Fadil Djailani

Sabtu, 05 September 2026 | 18:56 WIB
Anggaran Cegah Karhutla Seret, Pemerintah Baru Bisa Bergerak Saat Api Membesar
Pakar keuangan lingkungan dan manajemen risiko, Dr. Drs. Azrin Rasuwin (pegang mic) menyoroti mekanisme penganggaran pemerintah yang dinilai belum cukup fleksibel untuk menghadapi karhutla. Foto Agustin Dwi Anggraini-Suara.com
baca 10 detik
  • Anggaran pencegahan karhutla sulit disiapkan lewat APBN reguler.
  • Dana siap pakai lebih banyak bergerak setelah status darurat ditetapkan.
  • Ego sektoral K/L menghambat pendanaan pencegahan karhutla terpadu.

Suara.com - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghadapkan pemerintah pada persoalan klasik, dimana bencana sudah bisa diprediksi, tetapi anggaran untuk mencegahnya justru sulit disiapkan sejak dini.

Pakar keuangan lingkungan dan manajemen risiko, Dr. Drs. Azrin Rasuwin, menyoroti mekanisme penganggaran pemerintah yang dinilai belum cukup fleksibel untuk menghadapi karhutla. Kondisi ini berpotensi membuat pemerintah lebih banyak mengeluarkan uang ketika bencana sudah terjadi dibandingkan mengalokasikannya untuk pencegahan.

Azrin mengatakan karhutla memiliki karakter berbeda dibandingkan sejumlah bencana alam lainnya. Perkembangannya dapat dipantau dan diprediksi secara bertahap, sehingga secara teori pemerintah memiliki waktu untuk melakukan mitigasi sebelum kondisi memburuk.

Namun, persoalan muncul ketika kebutuhan tersebut harus diterjemahkan ke dalam anggaran negara.

"Kalau dari aspek keuangan negara, itu tidak memungkinkan kita menyiapkan penganggaran reguler," kata Azrin dalam diskusi publik bertajuk "Memasuki Puncak Kemarau & Ancaman El Nino. Sejauh Mana Kesiapan Penanganan Karhutla Indonesia" di Gedung IASTH, Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Sabtu (5/9/2026).

Menurut Azrin, selama ini pendanaan untuk pencegahan karhutla masih mengandalkan anggaran reguler yang berada di masing-masing kementerian dan lembaga (K/L).

Masalahnya, skema tersebut membuat penanganan risiko cenderung terkotak-kotak berdasarkan kewenangan masing-masing lembaga. Padahal, karhutla tidak mengenal batas kewenangan kementerian.

"Untuk pencegahan itu menggunakan dana reguler atau APBN-nya masing-masing kementerian dan lembaga. Yang sekarang banyak digunakan itu adalah dana siap pakai yang digunakan ketika darurat bencana," ujarnya.

Ironisnya, dana yang lebih mudah digunakan justru tersedia ketika situasi sudah masuk fase darurat.

baca juga

Sementara itu, kebutuhan pencegahan muncul jauh sebelum api membesar. Pemerintah perlu melakukan berbagai langkah seperti pemantauan titik rawan, pengendalian risiko, kesiapan personel dan peralatan, hingga penanganan lahan yang berpotensi terbakar.

Dengan mekanisme anggaran yang ada, ruang untuk menyiapkan pembiayaan secara terintegrasi sebelum bencana terjadi menjadi terbatas.

Azrin bahkan menilai persoalan tersebut bukan semata-mata mengenai besaran anggaran, melainkan juga bagaimana uang negara dikelola lintas sektor.

Menurut dia, karhutla terjadi dalam satu landscape risiko yang melibatkan banyak aktor. Namun, masing-masing kementerian dan lembaga masih cenderung bergerak berdasarkan kepentingannya sendiri.

"Karena aktor-aktor ini lebih kepada kepentingan kementeriannya masing-masing. Dia tidak peduli dengan kementerian yang lain," tutur Azrin.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla menghadapi persoalan ganda. Di satu sisi, ancaman kebakaran dapat diprediksi lebih awal. Di sisi lain, sistem pendanaan pemerintah belum cukup adaptif untuk mengubah prediksi risiko tersebut menjadi belanja pencegahan yang cepat dan terintegrasi.

Azrin menilai persoalan kelembagaan dan pendanaan inilah yang menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah dalam memperkuat mitigasi karhutla.

"Inilah yang jadi problem buat kita. Jadi dari sisi kelembagaan dan pendanaan, hal-hal inilah yang menjadi tantangan ketika terjadi suatu bencana kebakaran hutan dan lahan," pungkasnya.

Reporter: Agustin Dwi Anggraini

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla

KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla

News | Sabtu, 05 September 2026 | 15:20 WIB

3 Negara Tetangga Menjerit! Kebakaran di Indonesia Hasilkan 23 Juta Metrik Ton Emisi Karbon

3 Negara Tetangga Menjerit! Kebakaran di Indonesia Hasilkan 23 Juta Metrik Ton Emisi Karbon

News | Sabtu, 05 September 2026 | 16:35 WIB

Malaysia Tetapkan Darurat Kabut Asap, Begini Curhatan Warga Serawak: Jangan Lockdown

Malaysia Tetapkan Darurat Kabut Asap, Begini Curhatan Warga Serawak: Jangan Lockdown

News | Sabtu, 05 September 2026 | 16:05 WIB

Terkini

Polda Jateng Bongkar Judi Togel di Tiga Daerah, Uang Rp2,4 Miliar Diblokir

Polda Jateng Bongkar Judi Togel di Tiga Daerah, Uang Rp2,4 Miliar Diblokir

Jawa Tengah | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:34 WIB

Gol Almeida Selamatkan Java United FC, Tetapi Tiga Poin Gagal Dibawa Pulang

Gol Almeida Selamatkan Java United FC, Tetapi Tiga Poin Gagal Dibawa Pulang

Jawa Tengah | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:27 WIB

Truk Dalmas Diserang Bom Molotov di Dago Bandung, Tiga Polisi Terluka

Truk Dalmas Diserang Bom Molotov di Dago Bandung, Tiga Polisi Terluka

Jabar | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:18 WIB

Suhu Tembus 38 Derajat Celsius, 5.711 Warga Cianjur Terdampak Kekeringan

Suhu Tembus 38 Derajat Celsius, 5.711 Warga Cianjur Terdampak Kekeringan

Jabar | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:12 WIB

Sempat Lempar Mercon dan Batu, Massa Mahasiswa di DPRD DIY Akhirnya Dibubarkan

Sempat Lempar Mercon dan Batu, Massa Mahasiswa di DPRD DIY Akhirnya Dibubarkan

Jogja | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:11 WIB

Khalid Basalamah Setor 554.500 Dolar AS ke KPK dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Khalid Basalamah Setor 554.500 Dolar AS ke KPK dalam Kasus Korupsi Kuota Haji

Jatim | Selasa, 20 Oktober 2026 | 23:05 WIB

Pendiri CAN Borneo Luruskan Isi Pertemuan Relawan dengan Menteri Kehutanan

Pendiri CAN Borneo Luruskan Isi Pertemuan Relawan dengan Menteri Kehutanan

Jabar | Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:58 WIB

Heboh Nelayan Asal Sumenep Ditangkap di Australia, Begini Kronologinya

Heboh Nelayan Asal Sumenep Ditangkap di Australia, Begini Kronologinya

Jatim | Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Bidik Layanan Keimigrasian di Silangit, Imigrasi Sumut Dorong Pembangunan Kanim Taput Dekat Bandara

Bidik Layanan Keimigrasian di Silangit, Imigrasi Sumut Dorong Pembangunan Kanim Taput Dekat Bandara

Sumut | Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:40 WIB

Midea Paling Ideal Hadir di Medan, Perkenalkan Elektronik Rumah Tangga Berbasis AI

Midea Paling Ideal Hadir di Medan, Perkenalkan Elektronik Rumah Tangga Berbasis AI

Sumut | Selasa, 20 Oktober 2026 | 22:33 WIB

×