- Kebakaran hutan dan lahan seluas hampir 300.000 hektare di Sumatra dan Kalimantan memicu emisi karbon ekstrem sepanjang tahun ini.
- Pemerintah Malaysia menetapkan status darurat di Sarawak serta menutup ratusan sekolah akibat paparan kabut asap lintas batas negara tersebut.
- Lebih dari 5 juta warga Indonesia terpapar langsung risiko kesehatan karena kabut asap yang juga memburuk di Singapura dan Filipina.
Suara.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia masih jadi fokus pemberitaan sejumlah media negara tetangga.
Asap tebal dari kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan dilaporkan terbawa angin hingga Malaysia, Singapura, dan Filipina.
"Dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah yang terbakar, tetapi juga mulai memengaruhi kualitas udara di negara-negara tetangga," tulis laporan media Filipina ABS CBN.
Sebagian besar titik kebakaran terkonsentrasi di Pulau Kalimantan dan Sumatra. Kalimantan menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak karena wilayah tersebut memiliki hamparan hutan tropis dan lahan gambut yang luas.
Berdasarkan estimasi independen Nusantara Atlas, hampir 300.000 hektare lahan telah terbakar di Indonesia sepanjang tahun ini.
![Malaysia Tetapkan Darurat Kabut Asap, Begini Curhatan Warga Serawak: Jangan Lockdown [Tangkap layar X]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/05/74787-distrik-serian-serawak.jpg)
Situasi semakin mengkhawatirkan karena emisi karbon dari kebakaran meningkat sejak akhir Juli.
Mark Parrington, ilmuwan senior Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), mengatakan tingkat emisi kebakaran saat ini sudah mendekati kondisi pada tahun-tahun El Nino kuat, seperti 2015 dan 2019.
"Kita sekarang melihat emisi kebakaran yang sangat ekstrem, sebanding dengan tahun-tahun El Nino kuat sebelumnya, begitu juga dengan luas sebaran asap, kabut, dan dampaknya terhadap kualitas udara," kata Parrington kepada AFP.
Data CAMS Fire Emission Watch mencatat kebakaran di Indonesia menghasilkan lebih dari 23 juta metrik ton emisi karbon sepanjang 28 Agustus hingga 3 September 2026.
Angka tersebut bahkan melampaui emisi kebakaran pada periode yang sama pada 2015, yang tercatat sekitar 20,7 juta metrik ton.
Kondisi diperparah dengan kabut asap yang bergerak melintasi batas negara. Malaysia menjadi salah satu negara yang merasakan dampaknya, terutama wilayah Sarawak di Pulau Kalimantan.
Pemerintah Malaysia pada Jumat menetapkan status darurat di salah satu wilayah Sarawak setelah tingkat pencemaran udara melonjak.
Hampir 650 sekolah di wilayah tersebut dijadwalkan ditutup pada pekan berikutnya.
Filipina juga mengalami dampak serupa. Kualitas udara di sejumlah wilayah sempat mencapai kategori "sangat tidak sehat" hingga "sangat tidak sehat bagi kelompok rentan" akibat partikel PM2.5 yang terbawa kabut asap.
Sejumlah pemerintah daerah di Filipina bahkan menutup sekolah di kota dan provinsi yang terdampak.