- GRC kini menjadi fondasi strategi dan pengambilan keputusan bisnis.
- Transformasi digital membutuhkan tata kelola yang adaptif dan berbasis risiko.
- Konsistensi GRC diperkuat dengan capaian penghargaan tertinggi.
Suara.com - Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) memperkuat penerapan Governance, Risk Management and Compliance (GRC) sebagai bagian dari strategi menghadapi perkembangan teknologi dan kompleksitas risiko bisnis.
Penerapan GRC kini tidak lagi ditempatkan sebatas sebagai instrumen untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan dan penguatan ketahanan perusahaan.
Langkah tersebut menjadi semakin penting seiring transformasi Peruri sebagai perusahaan teknologi high-security sekaligus instansi yang ditugaskan menjalankan peran sebagai GovTech Indonesia. Perubahan tersebut menuntut perusahaan untuk bergerak lebih agile, fleksibel, dan dinamis dalam mempercepat transformasi layanan digital nasional.
Dalam kondisi tersebut, penerapan GRC menjadi salah satu mekanisme pengaman agar kecepatan inovasi tidak mengorbankan aspek keamanan, akuntabilitas, maupun kepatuhan. Peruri menerapkan Security and Privacy by Design dalam pengembangan layanan serta mengintegrasikan manajemen risiko berbasis sistem ke dalam proses bisnis perusahaan.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan risiko tidak hanya dilakukan setelah munculnya persoalan, tetapi menjadi bagian dari proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Hal ini memungkinkan Peruri menjaga keseimbangan antara kebutuhan untuk berinovasi dengan tuntutan terhadap keamanan informasi, kepatuhan, dan keberlanjutan bisnis.
Direktur Teknologi, Informasi dan Manajemen Risiko Peruri Farah Fitria Rahmayanti mengatakan penerapan GRC terus diperkuat agar semakin terintegrasi dengan strategi dan proses bisnis perusahaan.
“Kami memandang bahwa GRC bukan sekadar instrumen kepatuhan, tetapi merupakan bagian dari fondasi pengambilan keputusan dan strategi perusahaan. Di tengah perkembangan teknologi dan dinamika risiko yang semakin kompleks, tata kelola yang kuat harus mampu berjalan secara adaptif, terintegrasi, dan berbasis risiko agar transformasi perusahaan tetap tumbuh secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Farah.
Menurutnya, konsistensi penerapan GRC menjadi semakin strategis karena portofolio bisnis Peruri terus berkembang seiring transformasi perusahaan. Pemanfaatan teknologi dan meningkatnya kompleksitas risiko membuat tata kelola yang terintegrasi dibutuhkan agar setiap strategi perusahaan tetap mempertimbangkan risiko, kepatuhan, akuntabilitas, serta keberlanjutan.
Konsistensi tersebut juga menunjukkan bahwa GRC di Peruri tidak diterapkan sebagai program sesaat, melainkan telah menjadi bagian dari sistem pengelolaan perusahaan yang terus dievaluasi dan disempurnakan. Dengan demikian, GRC diharapkan dapat menjadi fondasi untuk menjaga ketahanan perusahaan sekaligus mendukung transformasi digital yang lebih aman dan berkelanjutan.
Atas konsistensi tersebut, Peruri kembali meraih predikat Bintang 5 dalam ajang TOP GRC Awards 2026 dan mendapatkan Golden Trophy setelah mempertahankan predikat tertinggi selama bertahun-tahun. Dalam ajang yang digelar di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (9/9), Farah Fitria Rahmayanti juga menerima penghargaan The Most Committed GRC Leader 2026.