- Menteri Perindustrian Agus Gumiwang mengungkap empat tekanan manufaktur nasional di Jakarta pada Rabu.
- Tekanan tersebut meliputi banjir impor, ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga minyak, dan pelemahan daya beli.
- Kondisi simultan ini menyebabkan kinerja industri nasional tertekan dari berbagai arah secara bersamaan.
Suara.com - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkap empat tekanan yang tengah dihadapi industri manufaktur nasional.
Tekanan tersebut berasal dari banjir impor, ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga minyak, dan daya beli masyarakat.
Menurut Agus, keempat tekanan tersebut terjadi secara bersamaan sehingga memberikan tekanan terhadap kinerja industri nasional.
"Saya bisa menyampaikan dalam kesempatan yang berbahagia ini bahwa ada empat tekanan. Yang pertama adalah banjir impor," kata Agus di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Agus menjelaskan, industri global saat ini menghadapi kelebihan kapasitas produksi untuk sejumlah komoditas, seperti baja, tekstil, keramik, plastik, dan elektronik.
Kondisi itu membuat negara-negara yang kehilangan pasar ekspor berpotensi mengalihkan produknya ke pasar lain.
"Industri global sekarang sedang mengalami kelebihan kapasitas produksi besar-besaran, seperti baja, tekstil, keramik, plastik, dan elektronik. Produksi pabrik global jauh melampaui demand global," ujarnya.
Menurut Agus, situasi tersebut semakin berisiko ketika Amerika Serikat dan Eropa memasang tarif terhadap sejumlah produk. Barang-barang yang kehilangan pasar kemudian akan mencari negara lain sebagai tujuan penjualan.
"Ketika pasar Amerika dan pasar Eropa memasang tarif, maka barang-barang tersebut dari kebanyakan negara-negara tertentu pasti akan mencari pasar-pasar lain. Pasar-pasar lain itu besar dan terbuka di Asia Tenggara, khususnya pasar di Indonesia," kata Agus.
Indonesia dinilai menjadi salah satu pasar yang menarik karena memiliki pasar domestik yang besar. Agus menyebut 78,39 persen output produk manufaktur Indonesia diserap oleh pasar dalam negeri.
Tekanan kedua berasal dari geopolitik. Konflik yang terjadi di sejumlah kawasan dunia dapat memengaruhi harga energi sekaligus mengganggu rantai pasok dan meningkatkan biaya perdagangan.
"Kita tahu bersama-sama, sedikit saja konflik Amerika, Israel, Iran, berdampak pada Hormuz. Kemudian juga ada konflik Ukraina dan Rusia, ini semua tentu memperburuk apa yang terjadi di dalam negeri," ungkap Agus.
Ia mengatakan, dampak konflik geopolitik juga dapat merembet ke berbagai komponen biaya yang harus ditanggung pelaku industri.
"Termasuk harga minyak, termasuk merusak rantai pasok. Termasuk meningkatkan harga logistik dan juga asuransi dan lain sebagainya," katanya.
Tekanan ketiga adalah kenaikan harga minyak. Agus menyebut harga minyak mentah Brent rata-rata telah mencapai US$101 per barel sejak Mei.
Bagi sektor manufaktur, kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada biaya bahan bakar. Kenaikan tersebut juga merembet ke biaya logistik dan bahan baku petrokimia.
![Ilustrasi harga minyak dunia. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/05/54068-ilustrasi-harga-minyak-dunia.jpg)
"Saya mendapat laporan bahwa harga Brent sudah rata-rata 101 dolar per barel sejak Mei. Dan bagi kami di industri, ini bukan hanya sekadar angka di layar. Setiap kenaikan dari harga minyak ini tertransmisi langsung pada kenaikan biaya produksi," kata Agus.
Menurut dia, sejumlah industri yang menggunakan bahan baku petrokimia ikut merasakan tekanan tersebut, terutama plastik dan karet.
"Di situ ada kenaikan biaya bahan bakar, biaya logistik, dan bahan baku petrokimia seperti plastik, karet sintetis, dan serat poliester. Inilah yang kemudian menekan industri plastik dan karet," ungkapnya.
Sementara tekanan keempat berasal dari daya beli masyarakat. Agus melihat konsumen kini cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan pengeluaran.
"Kita melihat konsumen mungkin sedang berhati-hati dalam belanjanya, lebih berhati-hati. Empat tekanan tersebut tidak berdiri sendiri, saling berkait dan saling menguatkan," jelas Agus.
Ia menjelaskan, industri harus menghadapi tekanan biaya dari sisi energi dan persaingan dari produk impor murah, sementara permintaan dari dalam negeri juga tidak sekuat sebelumnya.
"Baik dari sisi energi, harga ditekan dari sisi impor murah, dan permintaan melemah dari sisi daya beli. Industri kita terjepit dari tiga arah sekaligus," pungkasnya.