- Mata uang rupiah dibuka melemah ke level Rp17.933 per dolar AS akibat kenaikan suku bunga The Fed.
- Kesepakatan Amerika Serikat dan Iran serta penurunan harga minyak berpotensi menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.
- Sebagian besar mata uang di kawasan Asia justru mencatatkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat.
Suara.com - Kondisi rupiah masih belum bangkit dari tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada Jumat 25 September dibuka ke level Rp17.933 per dolar AS
Angka ini melemah 17 poin atau turun 0,09 persen dibandingkan hari sebelumnya yang ada di Rp17.961 per dolar AS. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan ini didorong oleh kenaikan suku bunga oleh the Fed.
"Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS, dengan indeks dolar dan imbal hail obligasi AS yg terus menanjak oleh meningkatnya prospek kenaikan suku bunga oleh the Fed di bulan Oktober, menyusul pidato hawkish beberapa pejabat the Fed semalam," katanya saat dihubungi Suara.com.
Namun, rupiah masih bisa menguat dengan adanya kesepakatan Amerrika Serikat dan Iran. Salah satunya keputusan mengenai penurunan harga minyak mentah dunia.
" Harapan kesepakatan AS-Iran dan harga minyak mentah dunia yang turun di pagi ini bisa menahan perlemahan yang lebih besar. Range Rp17.850-Rp18.000," jelasnya.
Sementara itu, mayoritas mata uang Asia cenderung menguat. Hanya dolar Hongkong yang melemah tipis 0,01 persen. Sedangkan won Korea Selatan menjadi mata uang paling kuat di Asia dengan menanjak 0,75 persen.

Diikuti ringgit Malaysia naik 0,26 persen, yen Jepang 0,25 persen, baht Thailand menanjak 0,20 persen. Lalu ada dolar Taiwan yang menguat 0,17 persen dan peso Filipina 0,11 persen.